Rabu, 22 Juni 2016

Asam Lambung, GERD? Jangan Asal Minum Obat !!!

Hallooooo!!!!

Sudah lama sekali ya (bersih-bersih blog)...

Saya memang membuat satu blog lagi untuk perjalanan. Dan 'Notes' di Facebook sekarang beralih fungsi menjadi wadah menulis juga. Tapi teuteup ya...blog ini diisi dengan rekam medis.

Ramadhan hari ke-17

Saya bingung mulainya wkwkwk....gimana nih?

Oke, gini...Selepas batal puasa tadi, saya mual...lagi. Sebelumnya selepas sahur tadi pagi juga mual. Malah sebetulnya, sudah beberapa hari ini...betul-betul ingin muntah. Ibu sampai heboh...

1. Colidane (lupa moto)
Minggu lalu, saya ke apotek...langganan. Cari obat lambung; Mylanta, Promagh, dan beberapa merek lain yang beberapa sudah saya coba. Ya, saya coba. Ga...you're not a mice. Saya memang agak ndableg sih soal ini....Apoteker menawarkan saya Colidane (gitu bukan sih tulisannya?), katanya sedang diskon. Ya Allah Mbak...saya nyari obat bukan diskonan....kemudian, dia menjelaskan fungsi tambahan selain mengurangi asam lambung: memperbaiki jaringan mukosa. ALAMAK....tergoda sayah...Jadilah saya bawa pulang satu strip berisi 10 kapsul Colidane, dengan aturan minum 2x1 sebelum atau sesudah makan. Saya curhat dengan apotekernya, berhubung dia tanya, "Sudah kronis mbak?,". Saya menjawab dengan menggaruk kepala yang tidak gatal, " Semua udah saya coba mbak...sama aja." Mbak nya cuma meringis, " Sudah kronis berarti mbak,".

Sejujurnya...saya nggak tahu mbak wkwkwk. Ya...pokoknya kalau kambuh, semua makanan yang masuk keluar, termasuk air putih dan nggak bisa bangun. Kadang bahkan perlu tambahan oksigen, karena asam lambung nya mengganggu kerja jantung. Ini juga salah satu alasan Cardioman memasukkan Ranitidin ke resep obat saya. Does it work? Ya a bit, thanks Cardioman.

2. Ranitidin (foto dengan Omeprazol)
Setelah Colidane ini habis, tidak ada yang membaik....tetap mual, tetap perih, dan ada sensasi terbakar di bagian diafragma. Ga...kamu harus ketemu dokter deh!

Kemudian, saya ingat Cardioman kan kasih resep Ranitidin ya? Beli aja tuh Ranitidin, sebelum ketemu Colidane kan mau beli Ranitidin. Akhirnya, kemarin siang beli Ranitidin dengan dosis minum 2x1. Jadi dengan hari ini, sudah saya minum 3 tablet. Tapi....tadi selepas berbuka....mau muntah lagi. DUH!!!

Something wrong nih! Akhirnya...OK, YOU HAVE TO MEET THE DOCTOR. Tapi ke siapa? AH...iyaaa tanya Iqbal!

Iqbal ini dokter muda #eaa baru lulus #eaa temen SD saya yang agak singit. Sebelumnya, saya pernah tanya-tanya soal MVP dan terapi yang saya jalani waktu itu. Waaa beda banget dia kalau konsultasi medis sama ngobrolin anime wkwkwkw *tepuk tangan. Kayaknya tanya Iqbal aja dulu kali ya, baiknya gimana, pikir saya.

3. Omeprazol

Karena saya tidak punya kontaknya, selain pertemanan di Facebook...jadi saya konsultasi lewat chat ahahah

Saya cerita kondisi lambung terkini dan tindakan apa saja yang sudah saya lakukan. Iqbal bilang, iya itu GERD (cari tahu sendiri ya) terus dia kasih link soal pencegahan GERD. List pertama: HINDARI KOPI KETIKA BERBUKA DAN SAHUR.

BUJUG!!! Mana tahan boooyyyyy. Tapi yaudahlah....kali ini saya iyakan.

Iqbal nanya juga Colidane itu obat apa...Saya jawab dengan penjelasan dari apoteker.
Iqbal: Gak guna sih menurut gw.

NAHLOH.

Saya: Iya ya? Gua asal banget sih minum obat lambungnya. Karena gua gak tau ini udah separah apa.

Iqbal: Jangan asal ga. Udah tau itu maagnya kronis kan


NAHLOH (2)

Saya: Iya maaf.

Iqbal nyaranin untuk minum Omeprazol dosis 2x1. Akhirnya tadi beli lah, dan karena Omeprazol dan Ranitidin bisa dikombinasi ya sudah....kita coba ini dulu.

BZZTTT (Percakapan yang dipenuhi penyesalan karena saya terlalu asal)

Iqbal: Jangan suka minum obat sembarangan ya, apalagi antibiotik.

Saya: Nggak kok kalo antibiotik gua tau resikonya. Paling kayak lambung sama jantung. (Sebetulnya ada kalimat disini yang kalau saya tulis akan menunjukkan betapa bahayanya jadi orang asal)

Iqbal: Resiko ditanggung pemenang ya ga.

NAHLOH (3)

Menurut saya, apoteker itu nggak salah-salah amat....tapi rayuannya menggoda, " Ada loh mbak yang lebih bagus obatnya,"
Saya luluh seketika. Padahal...

FLASHBACK

2 Juni 2016

Terjadi sesuatu dengan saya ketika praktik lapangan di Simo. Penting nggak penting sih, tapi lumayan bikin badan drop karena terus-terusan di'kontak' dengan mereka...sampai nggak bisa tidur, nafsu makan hilang...Ah men...ini dia alasan kenapa harus di ruqyah.

3 Juni 2016

Jumat pagi, pengontaknya baru pulang...tapi nafsu makan sudah hilang. Hari itu makanan yang masuk sedikit sekali dan mulai mual. Dan harus bikin laporan, begadang dah...Inget, begadang boleh saja....asal ada perlunya (Rhoma Irama) wkwkk

4 Juni 2016

Dari pagi mulai demam, mual. Setelah Post-test, saya menuju medis. Asam lambung naik, darah rendah, dan demam: Antasida (entah apa mereknya), paracetamol, dan vitamin B. Tablet pertama diminum, saya langsung tidur wkwkw padahal ada presentasi...gak kuat brooo maapin.

Selepas maghrib sehabis mandi, menggigil ditambah mual. Kok kerja obatnya menurun ya? Malam itu cuma makan lima suap nasi, karena mual lagi.

5 Juni 2016

BUMI GEMPAAAA. Mual, pusing, menggigil, nggak bisa bangun untuk sarapan dan sendirian dalam kamar. Duh Ga, kalau kamu gak makan ini akan jadi lebih buruk. Akhirnya keluar sarapan...cuma bisa makan bubur sama kuahnya dan teh hangat.

Selepas maghrib, ngopi dan nyoklat untuk menaikkan tekanan darah. Tapi masih mual dan sedikit demam.

6 Juni 2016

Puasa pertama, masih mual....dan sampai sekarang penangananannya salah.

Setelah berkali merek nggak mempan...jangan sampai kambuh lagi ya....badan mu nanti hilang Ga :)))

 Anyway, obat beda merek harganya bisa beda jauh yaa. Parah.

NB: Ini dibuat dari pengalaman pribadi ya, kalau doktermu menyarankan yang lain ya ikutin. Pokonya mah jangan kayak sayah...asal.

Senin, 11 April 2016

Gendhis

Kupanggil dia Gendhis, yang artinya gula.
Perempuan Jawa yang datang entah darimana dan kapan tepatnya.

Kami seringkali bersama.
Kulitnya kuning langsat, matanya teduh sayu, alisnya hitam melengkung.
Hidungnya kecil lancip, bibirnya mungil merah muda.
Rambutnya panjang hitam, sebagian digelung keatas sisanya tergerasi di bahu.

Sehari-hari dia memakai kemben dan jarit batik.
Memakai kalung emas panjang sampai dada dan giwang emas.
Tapi tidak memakai alas kaki.

***

Gendhis berusia jauh lebih tua, itu sebabnya kupanggil dia 'Mbak'.
Jangan salah, kami tidak seakrab itu.
Dia hanya menjalankan tugasnya untuk berjaga dan melindungi.
Saya hanya tidak sanggup lepas dari penjagaan.
Jika mata punya retina, kulit punya Meissner, lidah punya papila.
Gendhis juga bagian dari reseptor tubuh. Entah bagaimana...

Sayangnya, ketika reseptor-reseptor itu terhubung dengan saraf.
Menuju ke otak, diproses menjadi sebuah bentuk, sentuhan, dan rasa.
Gendhis tidak terhubung langsung dengan saraf.
Sehingga tidak diproses menjadi sesuatu yang logis.
Itulah sebabnya dulu lebih sering membantah kehadirannya.

Gendhis adalah reseptor lain.
Reseptor untuk tahu bahwa kita tidak bisa selalu membandingkan diri dengan orang lain.
Kita seharusnya memposisikan banyak sosok ketika berpikir.
Kita seharusnya lebih peka.

Kita seharusnya selalu bersyukur. Kita seharusnya menerima diri.

***

Wajah Gendhis sumringah cerah, senyum tak lepas dari sana.
Siang itu melalui layar komputer portabel kami melihat foto-foto Trowulan.
Tiba kemudian foto-foto arca yang terpisah dari bangunan.
Trimurti.
Gendhis melakukan Sembah Hyang setiap kali foto itu berganti, dan lebih lama ketika bagian arca Shiva.

Gendhis wanita yang taat dan lembut. Tapi juga kuat dan berani. Setara dengan Athena.

Pertama kali kaki memijak di salah satu ujung Jawa Barat, Gendhis berdiri di serong kanan depan. Berjaga. Sorot matanya tajam tegas. Posisinya selalu dekat. Sebetulnya apa yang dia jaga? Saya? Dari apa?

Sorot matanya sejuk tenang. Padahal hujan mengguyur deras Prambanan siang itu. Kakinya menapak perlahan diantara orang-orang yang berteduh. Sesampainya di ruang utama, di depan arca Shiva, posisi tangannya Sembah Hyang. Dia sengaja mengajak Saya kesana?

***

Kupanggil dia Gendhis.
Mungkin dia Raden Ayu dulu. Tapi kini dia terikat dengan ku.





Senin, 22 Februari 2016

Ciyee Dapat Kiriman

Sebetulnya mau nulis soal jalan-jalan ke Jogja kemarin, tapi...udah janji blog ini isinya harus random ahahhahaha jadi yang Jogja di keep dulu buat blog perjalanan.

Nah post ini mau cerita soal sakit leher yang dua hari lalu baru sembuh. Sakitnya kira-kira seminggu, mulai berasa sekitar 3 hari setelah balik dari Jogja. Tapi skip dulu, soalnya mau cerita soal terapi (T__T)

Jadi hari Minggu, 21 Februari 2016 udah rencana ikut ke Rambut, diajak Mas Kris. Terus, pas Sabtu nya lagi nyetrika...tiba-tiba ibu mengatakan sesuatu yang horor.

" Ga, kamu udah lama lho nggak terapi. Besok sore terapi ya,"
" Nggak usah bu," 
" Kenapa? Nanti tambah sakit,"
" Ya emang sakit, pasti sakit." 
" Harusnya kamu itu terapi dua minggu sekali, ini udah sebulan lebih lho."
" Iya bu." Nyerah. Akhirnya bilang kalau gagal ikut. Waktu bilang ke ibu kalau mau ke Rambut itu, alasan lain ibu nggak boleh ikut karena nemenin kondangan. Ya...gitu lah jadinya wahah.

Akhirnya, hari Minggu setelah kondangan, nganterin Abi ke stasiun UI, baru terapi. Datang cengengesan ke terapistnya. Naik ke tempat tidur, nggak langsung mulai. Masih kenceng soalnya, entah ya...belakangan ini memang sering kencang. Jadi saya nunggu kira-kira 10 menitan, sampai tubuh siap. Setelah itu...dem...dem...dem...dimulailah tusukan-tusukan itu. 

Dan...benar. Sakit dan nyetrum, sampai nangis ahahah AAAAA....
Yang sakit bagian kiri kebanyakan, yang kanan di bagian lutut juga sakit. Setelah dicabut, bagian itu malah ngeluarin darah dan biru (sumpah itu biru) saya jadi shock zzz. Mikirnya gimana caranya bawa motor, kalau kaki sakit gini. Untungnya masih ada sesi punggung. Lumayan buat istirahatin kaki yang sakit.

Tadi pagi, tau-tau tangan kiri itu pegal ngilu gitu. Pas saya cek, ada pembuluh yang agak nonjol ke permukaan, dan semua urat keliatan gitu, sampek mereka bikin kumpulan di pergelangan juga keliatan, pembuluh darah ini ngapain sih arisan disitu wkwk. Dan biru. Astagah. Sebetulnya tangan kanan juga sama 'biru' nya, tapi pembuluh darah nya nggak ada yang nonjol. 

Kaki kanan yang bekas nya membiru itu sudah mendingan, tapi jadi ada bekas merah nya. Di beberapa bekas tusukan juga ada bekas merah. 

Pas ibu liat saya mengurut tangan kiri yang ngilu, ibu tanya kenapa. Dan saya jelaskan. Sampai siang tadi juga masih nyut-nyutan.

" Makanya, jangan suka telat terapi." Dih gitu amat dah...
Terapist nya juga bilang kalau harusnya saya itu terapi dua minggu sekali, nggak bisa langsung kabur gitu. Bah...gila kali. Udah 12x berturut, sampe nangis, lemes, pusing, pucet kayak mayat. Masih aja....
Capek. Kalau bisa sih nggak mau balik lagi, tapi kan sakit fisiologis nggak bisa.
Harusnya EKG lagi sih, supaya bisa lihat fungsi cardio nya sudah berapa persen setelah terapi. Soalnya ada pasien yang fungsi cardio nya meningkat dari 50% ke 80%. 

Oke. Sekarang soal sakit leher.

Jadi, sakit leher ini tiba-tiba gitu. Saya pikir, karena salah posisi tidur. Tapi cuma leher, dan itu pun di bagian tengkung sebelah kanan. Kemudian, saya beri Counterpain. Bujug, cuma panas, sembuh kagak. 

Ini bukan nyeri otot. 

Setelah dua hari nyeri tidak berkurang, saya tanya ibu. Bulan puasa kemarin, ibu juga kena sakit leher begini. Hari sebelum ibu sakit, saya dapat mimpi, kalau sakit nya ibu ini 'kiriman' seseorang. Akhirnya, pagi itu saya pastikan. Letak sakit nya itu dibagian mana leher. Ternyata betul, sakit leher ini bikin kita sampai tidak bisa menengok ke kanan. Hanya kanan, dan hanya di bagian itu.

Memastikan kecurigaan saya, akhirnya saya browsing soal 'sakit karena gangguan jin'. Sila dicari link-link soal ruqyah syari banyak sekali di internet. Pintar-pintar kita saja, mana yang betulan syari mana yang oplosan. Dari satu link (saya lupa simpan link nya, nyari lagi kok males ya haha), di link itu ditulis kalau suatu kali pada zaman sahabat (apa rasul ya?) pernah ada yang sakit leher, kemudian pergi ke rasul (kalo ga salah ingat). Kemudian, jin nya ditanya-tanya. Jin itu mengaku dia dikirim orang dan dia menduduki leher orang itu sehingga lehernya sakit. Nah...kok?

Oh...jadi gitu? Sekarang saya yang dikirimin? Beraninya sama anak bocah.
Sebetulnya nggak mau suuzhan, tapi rodhok aneh pancene.

Kalau ibu pergi ke seseorang untuk ngobatin ini, saya memilih melawan sendiri. Hasek, jago bat...Since I know, I have a great weapon for fight. TAUHID. 

So, my treatment...

  1. Tiap abis maghrib, mau tidur, dan setelah shubuh saya bacakan ayat kursi + (al muawidzzatain + al-ikhlas) 3x. Kemudian saya tiupkan ke tangan, lalu saya usap di leher sembari dipijat.
  2. Tilawah ba'da maghrib (ini yang kudu banget), kadang kalo belum keburu ngantuk juga sebelum tidur, dan kadang juga bada subuh.
Dan sembuh sejak hari Minggu. 

Gini ya, saya suka kesel banget sama orang yang tau kalau sakitnya dia karena gangguan jin, tapi dia malah pergi ke 'orang pintar' ada yang bergelar ustadz bahkan. Lah, mereka itu biasanya juga bersekutu dengan jin. Kalau kamu disuruh baca bacaan yang tulisannya arab, tanya dulu itu ayat dari surah apa. Atau, pernah tertera di hadits mana? Kalau cuma bilang itu bacaan macam dzikir, mending nggak usah. Kenapa? Amalan macam itu nggak valid. Alih-alih kamu sembuh, jangan-jangan malah kamu jadi melakukan bid'ah. Lagian, emang tahu arti bacaan itu apa?

Allah swt nggak suka diduain sayang, kamu juga kan? Allah swt nggak suka dicuekin, Dia udah kasih As-Syifa (obat), bukan cuma petunjuk, bukan cuma buku sejarah. Kurang sayang apa coba Dia? Allah swt jagain kamu 24 jam dalam sehari selama 365 hari, nggak lupa Dia kasih malaikat di kanan-kiri. Oh satu lagi, Izrail juga ikut jagain kamu wkwkw. Kurang sayang apaaaa? Dan kamu masih coba menduakan Dia cuma gara-gara sakit? 
Dasar payah, dasar lemah...

Dari mentoring liqo, saya tahu fungsi al-muawidzzatain, karena tahu artinya jadi saya mengandalkan dua surah itu, juga ayat kursi. Dan Al-Ikhlas, tau sendiri bunyi suratnya gimana...Allah itu satu, yang boleh saya mintain tolong cuma satu, Dia. Tubuh saya pun punya Dia. Singkatnya, sebenernya kalau kena 'kiriman' itu sebenernya atas takdir Dia juga, kuasa Dia juga, pernah kepikir gitu nggak? 

Allah kayak bilang, " Nih, Saya kasih kamu beginian. Saya mau lihat, kamu lebih pilih siapa?," Nakan...itu ujian juga sebenernya. Makanya, karena saya mau 'naik kelas' saya lebih pilih melakukan ujian-Nya dengan baik. HASEK....

Akhirnya, sejak hari Minggu kepalanya sudah bisa digerakkan ke kanan. Alhamdulillah...

Dan untuk Anda, yang mengirim ini. Anda masih sholat? Masih tilawah? Malu-maluin...Dasar lemah, dasar payah!!! BHAY


Kamis, 28 Januari 2016

Yang Tak Kau Tahu

Ini posting pertama di 2016, ahah blogger nya sedang bertapa. Semoga lekas selesai, supaya blog satu nya juga keurus. Amiiinn
Pertama kepikir untuk nge-post karena baru saja lihat music video nya Before You Exit (check on youtube ya kalau belum kenal :D).

Tadinya sedang mengerjakan...you know what...sembari dengar Prambors FM. Mereka lagi ngobrol sama Exiter (fans nya BYE), jadi penasaran lah sama band baru itu. Pertama, lihat video mereka yang covering Justin Bieber-Love Yourself. Keren.

Lalu, click video single original mereka; MODEL. Absolutely fall in love ahahaa. Selain karena suara dan jago main alat musik (di covering dua orang personilnya main akustik, di single mereka Connor malah main piano. Kan,..), muka-muka personilnya (kecuali Toby) mirip Abang Mas Ganteng. Serius...apa karena saya lagi kangen ya? Hush...suami orang dikangenin. Iya, dia sudah jadi suami orang.

Sebetulnya, akhir tahun lalu tahu kalau dia menikah. Lewat Instagram, yang saya kepoin ahaha. Sakit, agak ngilu gimana gitu...tapi seneng. Iyalah seneng. Walaupun di foto itu, dia nggak kelihatan senyum. Dia pasti bahagia. You have to. Semoga ya...

Setelah lihat foto itu, saya sempat nulis di blog untuk di post. Tapi kemudian...lappy mati ahahah. Nggak tersimpan deh...jadi males bikin lagi.

Setelah pacarnya meninggal, sampai dia sekarang menikah sebetulnya saya masih kepoin. Lewat mana saja. Kasihan ngeliat dia, diawal-awal pacarnya itu meninggal. Semoga yang ini jadi jodoh dunia-akhirat mu yaaa.

Nggak bohong juga, kalau mungkin disebut nge-fans. Karena sampai sekarang juga masih suka girang gimana gitu kalau lewat rumah nya. Mungkin ini cinta (?).
Dan masih suka mendoakan dia. Menyebut namanya setelah Ibu, Abi, Dito, Bapak, dia, juga satu orang lagi. Doa supaya dia bahagia. Yagitulah...

Selamat Menempuh Hidup Baru. Barakallahu laka...

Kamis, 31 Desember 2015

Jangan lagi

Tepi Jakarta yang mulai ramai, hari terakhir tahun 2015


Kepada,
Perempuan disana; diriku yang berusaha menyembuhkan luka

Aku melihatmu, menangis meringkuk di sudut kamar dengan lampu dimatikan, dan pintu tertutup.
Teriakan di lantai bawah, bercampur isak. Dan pukulan-pukulan, meja mungkin.
Suaramu tertahan. Kenapa tidak dilepaskan? Bukankah menahan air mata itu menyesakkan dada?
Komputer portable mu masih menyala, kamu tinggalkan dan memilih bersembunyi di kamar gelap dengan pintu terkunci. 

Kamu, kenapa?

***
Aku sering bangun dengan dada sesak, kepala sakit, mata sembab bengkak. Entah karena menangis semalaman atau...mimpi yang menyiksa. Yang tak kutahu apa sebabnya, kenapa mimpi-mimpi itu sering datang. Mimpi soal kehilangan. Oh...jangan lagi.

Aku terbangun dengan isak, kamar ku masih gelap, dan sendirian. Aku hanya mampu mengucap nama-Nya sembari mengusap air mata yang muncul dari mimpi, mimpi....lucu sekali. Aku bahkan bisa menangis dalam mimpi. Kemudian, aku memegangi kepala sembari meneruskan isakku, teringat lagi apa yang mimpi itu munculkan.

***
Kalau begitu jangan...Jangan menangis sendirian. Jangan menangis sambil tidur. Jangan menangis lagi dalam mimpi. Jangan menangis meringkuk dalam gelap. Jangan menangis dengan memegangi kepala seakan dunia berputar dan mendorongmu ke dinding. Jangan menangis lagi.

***
Oh...kalau saja aku bisa. Siapa yang mau jadi gila seperti itu? Siapa yang mau dalam kondisi seperti ini? Tapi memang sedang kucoba...menata hidup. Rasanya mau pergi jauh, tapi sepertinya kesakitan adalah hidup ku. Yang itu bisa diterjemahkan secara harfiah juga.

Aku bisa pusing, sesak, walaupun tidak menangis. Dan ketika menangis, rasanya bisa lebih buruk lagi. Yah...mau bagaimana. Rupanya menjadi tegar itu jauh lebih sulit.

***
Kalau begitu, menangislah. Jangan ditahan, karena itu sama sulitnya. Lagipula, siapa bilang air mata itu tanda kelemahan? Kamu bukan batu. Kalau itu memang melegakan, keluarkan saja. Menangis itu tidak dosa.

Siapa tahu, air mata bisa menyembuhkan luka...ya...siapa tahu. Kalaupun tidak, semoga bisa meringankan hati.



Dari,

Dirimu, yang sama sakitnya

Jumat, 18 Desember 2015

2013-2015

Sebetulnya udah lama mau bahas ini, tapi...
Merasa nggak enak sama orang nya, terkesan jahat. Saya cuma mau berbagi sih, yah semoga tidak menyinggung banyak pihak.

Kalau 2013 saya hampir dilaporkan ke 'meja hijau' dengan alasan pencemaran nama baik (?). Yang bahkan nama baik siapa juga saya nggak paham, wong saya nggak pernah ngapa-ngapain di medsos. Kok bisa dibilang pencemaran nama baik. Ternyata oh ternyata...mbak-mbak yang mau melaporkan ini cemburu wkwkwkw karena saya cerita ke dia, dengan tidak sengaja (karena nggak tahu), mengenai laki-laki yang saat itu sedang sering kontak dengan saya yang ternyata adalah....pacarnya mbak-mbak ini. 

Ngakak sumpah. Kenapa nggak ngaku aja sih kalau kalian pacaran? Malah main abang-adek...cih.
Giliran laki-nye deketin cewek lain situ mencak-mencak, nyalahin orang. Sudahlah ya...sudah lalu. Saya sudah minta maaf, mereka juga sudah memaafkan dan balas minta maaf. Jadi case closed.


Kemudian 2014 saya jadi pelampiasan wanita yang dinikahi siri kemudian pria nya ini justru menikahi perempuan lain (mantan istrinya) secara resmi. Dengan mengenaskan perempuan yang dinikahi siri ini ditinggal. Menyedihkan? I don't think so. Hey Wanita, seharusnya kamu tahu konsekuensi dari pernikahan siri. 


Alih-alih intropeksi diri, wanita ini malah nyalahin orang-orang. LAH -___-
Termasuk saya. Lucu kan? Nggak tahu duduk perkara, tahu-tahu kena. Sedap memang hidup.
Akhirnya, ketika wanita ini sudah sadar barulah keadaan lebih kondusif. Tapi tetap saja, kalau ingat soal pernikahan siri itu....
Dasar wanita.

Nah, tahun 2015 ini...saya bertemu dengan.....seorang...hypersex dan penderita psikoseksual. Sebetulnya pertemuan nya dari akhir 2014, tapi kami baru berkontak lagi awal 2015. Awal perkenalan kami sempat saya tulis di blog satu nya. Karena begitu berkesan.

Awal sosoknya menyenangkan. Kita, tepatnya dia, banyak bicara soal hobi travelling nya. Jalan-jalan kemana saja, hal yang menarik selama perjalanan, banyak lah.

Kemudian, di 2015 ini, kita ketemuan. Dia mau cerita soal UN dan SNMPTN, iya...usia nya jauh lebih muda. Tapi sebetulnya, dia mundur setahun. Salah satu alasannya, ya karena itu...hyper-nya dia.

Sebetulnya pertama kali ketemu itu memang ada yang aneh. Tapi bukan jenis aura jelek yang musti saya jauhi, tapi lebih karena aura nya 'mesakke' gitu. 

Dan setelah banyak ngobrol, ini-itu, ngalor-ngidul. Saya tahu, kenapa dia begitu. Semacam...Christian Grey (50 Shades of Grey). Iya saya baca dan lihat filmnya, karena semua...SEMUA orang bicarakan ini, dan saya sudah merasa cukup paham untuk tahu film apa itu. Ada untungnya juga saya lihat film itu. 

Nggak ada orang yang mau jadi hypersex, kayak Grey. Sama, dia juga punya alasan kenapa dia jadi begitu. Walaupun sampai sekarang, saya bingung, kenapa saya? 

Dia mengikuti saya sampai rumah, mencari info soal ibu dan dua adik saya. Seram...
Sya tahu sih, penyakit psikologis seperti ini memang ada, dan...nyata. Bukan cuma film. Tapi...biasanya target nya cantik, tubuh aduhai...
Lah...gua mah....remah-remah chiki chuba. Bisa apa....Makanya, aneh.

Tapi sekarang, setelah konseling (itungannya konseling kali ya), dia dapat apa yang dia mau, masuk universitas yang dia pengen. Semoga hidupnya jadi lebih tertata. Sembuh dari sakitnya. Karena...kasihan, sumpah. Kalau ada yang bisa nerawang orang, aura mereka itu gelap, menyedihkan. 

Kalau punya luka, ya diobati. Bukan dibiarkan menganga, sampai jadi busuk.

Lain kali, mungkin bakal tulis lebih soal penyakit ini. Sekarang...udahan dulu deh...

Minggu, 13 Desember 2015

Terapi Selesaaaiii Wuhuuu

Jakarta, 13 Desember 2015

Umm....duh grogi nih ahaha. Lama banget nggak posting, ya ampun Rega pemalas...
Okay, jadi selama ini (setelah posting terakhir) Saya nggak terapi obat, seriussss. Keren ya? Ahah
Makanya nggak nulis. Pengganti nya, Saya terapi akupunktur itu. Karena terapi itu seminggu sekali, selama 12 kali berturut-turut, males aja gitu musti nulis karena sebetulnya nggak tahu mau laporan apa....
Akhirnya kepikiran buat posting di terapi ke-12. Yak itu hari ini hohoho

1. Sebetulnya nggak murni berhenti ngobat. Beberapa kali Saya tetap konsumsi Hapsen dan Nitrokaf. Obat itu hanya Saya minum kalau: dehidrasi sampai mau pingsan wkwk, kepanasan, sama terlalu capek. Oh...dan PMS. Tapi biasanya cuma seminggu sekali gitu minum nya.

Misalnya waktu ikut ke Bandung Selatan sama Mas Kris dkk, balik dari hutan tahu-tahu nyesek gitu. Mungkin karena dari hutan (teduh) ke camp (nggak ada teduhan), dan kurang minum juga, gak berasa kurang minum karena di hutan teduh....lembap aja gitu. Begitu keluar hutan, dhuar...keliyengan. Langsung ambil Nitrokaf, minum, tarik nafas. Nggak lama, kita balik. Trus, Mas Kris sempet beli durian juga kan. Kayaknya sih, memang darah rendah nya kambuh juga. Begitu selesai makan, Saya tepar di mobil wkwkwk. Tapi begitu bangun, kepala sudah nggak pusing dan cardio nya juga nggak berdebar lagi :)

Saya merasa makin pintar sih *ahahah apaansiii Ga...
Begitu ngerasa ada yang aneh dikit, langsung minum. Itu penting banget sih, air putih.
Yah karena tubuh ini sangat mudah dehidrasi, dan tahu penyebab dehidrasi nya itu karena apa dan efeknya apa.

2. Karena ini akupunktur, jadi banyak titik-titik akupunktur yang juga jadi sasaran huhu
Gimana rasanya? Sakit. Ngilu-ngilu sedap. Titik-titik yang dituju itu titik jantung, hati, lambung, paru-paru, ginjal, dan ovarium.
Jantung: Karena well you know it...
Hati (hepar): Ada pengaruhnya dari dan ke jantung
Lambung: Pencernaan nya dibenerin supaya badan saya berisi, udah keliatan berisi belom? T__T
Paru-paru: Dikuatin aja supaya kalo ada cairan yang masuk nggak bikin edema paru (sumpah ini sok tahu wekaweka)
Ginjal: Karena terlalu lama dan banyak ngobat pinggang jadi sering sakit, mikirnya pegel gitu awalnya. Tapi kayaknya bukan jenis pegel otot, ternyata eh ternyata...ginjal nya kerja keras selama ini.
Ovarium: Karena sering sakit kalo PMS, kayak mau pingsan. Paradah....

Karena hepar juga jadi sasaran, kalo abis begadang gitu suka sakit titik hepar nya. Jadi memang selama terapi nggak berani begadang sering-sering. Sakit sumpah. Paling lama jam 11 malam udah tidur. Karena nggak bisa juga begadang wkwkwk. Awal terapi itu, efeknya ngantuk parah sama pusing. Bah kacau...awalnya nggak tau. Pas bawa motor keliyengan, alhamdulillah gak napa-napa.

Terus...ginjalnya udah nggak sakit lagi. Nah, ini yang cakep. Kalo lagi menstruasi, nggak pake keringet dingin lagi. Tetep sakit sih, tapi better than before. Serius, malah bulan ini tau-tau aja gitu mens nya.

Yang ngeri kalo pas lagi jelek badannya. Kenapa? Nyetrum broo.
Terapi ke 7-10 Saya sampai nangis wkwkw. Pas jarum nya itu ditusuk di titik jantung, langsung nyetrum. Bah....nangis guah.

Sedih banget, kalo nangis nggak bisa apa-apa karena tangan di tusuk juga. Yang ngelap air matanya mbak terapis nya huhu. Malu sih tapi gimana dong. Nyetrum kan jadi kaget. Mbak nya juga sampai bilang, listrik yang di badan Saya tinggi, jadi dia sering kena setrum kalo nusuk.

3. Kadang, ada pasien dengan keadaan jauh lebih buruk. Ada satu pasien, cowok, umur 17 tahun, lupus keturunan dari alm,ayahnya. Pernah satu kali, kita barengan terapi nya. Dari ruang sebelah, dia teriak gitu...kasian.

Minggu sebelumnya, saya diantar Ibu. Dia sempet ngobrol sama Ibu dan ditanyain soal terapi.
" Katanya nggak sakit lho Ga, yang lupus itu,"
" Tapi pas kemaren bareng dia teriak bu, dia bilang nggak sakit pasti karena sakitnya tusuk jarum masih lebih mending dibanding efek lupusnya dia."

Well, malu sih. Masih suka ngeluh, masih suka maksiat, padahal....Allah nggak akan ngasih ujian melebihi apa yang bisa kita hadapi. Bahkan ketika kita sakit, itu jadi pengurang dosa selama kita ikhlas. Duh malu pokonya mah....

4. Nggak bisa bohong. Kalo terapi obat, tiap kontrol Cardioman cuma nanya dan Saya jawab sekedar. Kesannya...baik-baik aja badannya sekalipun lagi sesak.

Terapi ini nggak bisa bohong, beneran. Saya bisa bilang, nyesek dikit. Tapi semua titik jantung nya ngilu dan nyetrum. Hafftt

5. Titik-titik tujuan.
Di tangan ada 4x2 = 8.
Di kaki ada 5x2 = 10.
Di punggung ada 4x2 = 8.
Dan nggak sekaligus, 15 menit pertama ada berapa titik, terus lanjut 15 titik berikutnya. Terus selesai dicabut, bagian punggung 15 menit.

6. Hasilnya...
Day by day I'm getting stronger hoho. Naik tangga nggak ngos-ngosan lagi. Tapi belum coba naik gunung lagi sih ahah.
Tensi juga makin bagus. Awal kesana rendah cuma 90/60, mikirnya memang darah rendah. Denyut nadi nya 60, dibawah normal (katanya).
Nah hari ini, tensi 110/80 (normal) denyut nadi 80 (normal).

Setalah 12x ini, Saya nggak kesana seminggu sekali lagi. Tapi kalau berasa nyesek ya...mending ini daripada ngobat lagi.

Rencananya tahun depan mau ECG lagi, buat lihat hasil denyutnya, aritmik atau sudah lebih baik. Gitu. Yeay....selesaaaiiii..

Masa-masa galau pasca tusuk jarum, serius...kalo abis tusuk jarum kayak lemes banget gitu. Dan sakit kan bekas tusuk nya, jadi ngerasa butuh suami. EHEM...kode...siape yang dikode juga gak ada wkwk. Kayak butuh orang buat nenangin Sya gitu sih ahaha pansik...yagitulah...

Udahan dulu lan ya, efek terapi nya mulai berasa. Jam 9 malam udah teler wkwkw



Senin, 28 September 2015

Double therapy for double effect

Judulnya kayak iklan apa gitu ya...ahaha
Yah karena saya mulai lelah (adek lelah bang) dengan konsumsi obat-obatan yang efeknya agak lama, dan menguras uang, serta menguras energi, juga berdampak ke fisiologi. Jadilah saya dan ibu memutuskan untuk memulai terapi BEKAM. Disamping ngobat, saya juga akan bekam. Maka, dimulailah hari itu berangkat ke klinik terapi punya temen Mbak Yani bareng-bareng.

Minggu, 20 September 2015

Hari sebelumnya, saya main-main ke Pulau Rambut bareng om-om photographer gituh. Nah bagusnya, hari Minggu itu nggak ada keluhan. Padahal Rambut kan panas ya...yah terakhir kali kesana kan sayah pingsan gara-gara dehidrasi ahahaha yodahlah masa lalu (lah, baper).

Minggu pagi, Ibu ngasih tau kalau mau bekam berangkat bareng Mbak Yani. Jadilah berangkat.
Sampai klinik, saya ngantri. Dan sembari nunggu yang lain di akupunktur (di klinik ini ada akupunktur juga), Mbak terapis nya nanya-nanya, sampai pada kesimpulan bahwa saya nggak boleh bekam, tap akupunktur aja dulu buat benerin fungsi cardio nya. NAHLOOOHHH, ADEK GAK SIAP BANNGGG DITUSUK JARUUUMMMMM. Takut tapi malu buat ngomong huaa, yaudah jalanin aja yakan.

Terapisnya ini dulu juga perawat, jadi sedikit-banyak tahu soal medis.
Gimana rasanya akupunktur? Bah...ngilu-ngilu sedaaaapp. Dan herannya semua yang ngilu dibagian kiri. Mbak nya bilang, yang ngilu-ngilu itu titik-titik yang mengarah ke cardio, dan kenapa disebelah kiri itu karena cardio sebelah kiri saya yang rusak. Nah itu lagi diperbaiki makanya ngilu huhu...yang sebelah kanan bagian titik ke lambung yang ngilu. Duh...pengertian banget deh jarum-jarum ini. Lebih pengertian dari kamu, IYA KAMU.

Efek nya? Sesaat setelah terapi, kepala saya pusing banget. Jadi begitu sampai rumah langsung tidur. Dan baru bangun jam 2-an. Parah, kayak orang pingsan. Sore setelah makan, dan mandi saya baru ngeh muka saya pucat banget :((((. Serem banget. Mungkin itu efek nya, pertama kali soalnya.

Seminggu setelah itu efek ngantuk nya gak ilang-ilang, awalnya ragu kalau itu efek terapi. Pas tanya Mbak Yani, ternyata memang gitu. Tujuannya emang buat bikin saya istirahat banyak supaya cardio nya bisa optimal kayak normal.

Jumat, 25 September 2015

Obat abis sudah dari hari Kamis, saya salah hitung jumlah sisa obat, jadi telat. Ditambah kepedean, sudah akupunktur juga, merasa yakin nggak tumbang. Ternyata lalala....Jumat itu kontraksi kencang. Akhirnya yasudah seharian hati-hati. Siang nya daftar online ke Cardioman. Malam nya berangkat ke Cardioman sama ibu.

Zebel deh, kenapa sih Cardioman sekarang praktek nya ba'da Maghrib? Kan jadi....malem sampe rumah. Begitu ketemu, ternyata hasilnya BAGUS. Yeayyyy. Alhamdulillah, efek ngobat teratur dan akupunktur nya berbuah manis. Setelah ngasih resep obat, pulang. Dan bersiap buat besok. Karena Sabtu, 26 September Abi pengukuhan di kampusnya. Obat lupa ditebus karena nyiapin buat hari Sabtu. Jadi, bolong ngobat 2 hari.

Minggu, 27 September 2015

Terapi kedua. Fuh...I'm ready for pain.
Hari Sabtu, ba'da Maghrib obat baru saya tebus. Harusnya: 20 Hapsen, dan 30 Merislon. Tapi karena suka-suka saya banget ahaha. Nggak gitu sih, setelah dua hari bolos ngobat, dan Sabtu itu seharian panas-panasan dan sebetulnya hampir pingsan tapi nggak bilang. Yang penting ada air putih aja dan gak dehidrasi. Aman sampai rumah.

Oiya, karena tekanan masih 100/70 akhirnya tanya ke Cardioman. Ternyata memang untuk seukuran saya harus segitu, itu udah bagus. Pantesan...

Akhirnya, saya minta Hapsen 20, Merislon 10 (karena merasa sudah oke setelah akupunktur), dan Nitrokaf 10 (karena merasa kontraksi dan nggak akan bisa tidur malam itu). Sampai rumah, saya langsung minum Merislon dan nggak lama Hapsen. Sebelum tidur minum Nitrokaf, dan alhamdulillah aman sampai pagi.

Begitu sampai klinik, jawab ini-itu dari pertanyaan Mbak terapis nya. Hasil terapi nya sudah bagus huhu alhamdulillah...nadi saya mulai seperti orang normal.

Efek? Karena Sabtu nya abis panas-panasan, kayaknya sih...jadi sakit banget :((( huhu. Sampai nggak berani gerakin badan. Sakittt. Tapi sekarang udah nggak. Efek ngantuknya juga nggak lagi. After all, those therapies work. Masih agak pusing sih kalau langsung berdiri dari tidur, yah itu proses kan ya.

Sebetulnya sih, kalau abis terapi gitu suka pengen nangis. Capek, sakit aja gitu...tapi Ibu bilang dikuatin aja supaya besok bisa lebih kuat badannya huhuhu.

Lagian, setiap sakit itu kan penggugur dosa ya? Amin allahumma amin.



Minggu, 13 September 2015

Bapak, tunggu sebentar...

Jakarta, 13 September 2015


Bapak, tadi Rega ke makam...

Pak, banyak yang bertanya, ada juga yang 'ngece' karena Rega pakai rok lagi.
Lagi. Iya, setelah lulus SMA tidak sesering pakai rok. Bukan karena nggak ikut kegiatan masjid lagi.
Tapi karena...sesuatu yang lebih dalam. Hati ini butuh banyak belajar.

Beberapa bercanda, " Ciyeee, tahun depan dilamar deh nih!,". Duh, padahal Rega pakai baju begini bukan buat diliat lawan jenis. Baju yang Rega pakai buat BAPAK.

Tapi Rega mau cerita sebentar,

Setelah Bapak dipanggil Allah, Rega marah. Nggak terima. Tapi karena Rega ikut kegiatan di masjid, bagusnya perasaan marah itu sembuh sendiri. Tapi ternyata itu nggak bagus-bagus amat.

Kurang-lebih setahun setelah Bapak nggak ada, Allah kembali menimpakan ujian. Bukan kontra soal meneruskan kuliah kemana, seperti teman-teman Rega waktu itu. Rasanya aneh, kali itu masjid bukan lagi tempat nyaman untuk curhat. Rega juga nggak bisa cerita ke teman. Nggak mungkin rasanya cerita soal itu ke teman. Kasus ini berat. Setelah beberapa tahun kasus itu terlewat, ada yang bilang kalau Rega beruntung masih waras. Anak lain mungkin bakal hilang akal.

Satu hari, Rega bolos sekolah. Setelah semalaman menangis, mata Rega bengkak. Rega malu pergi ke sekolah. Percuma, toh di sekolah juga nggak bisa mikir. Di rumah juga akhirnya cuma nangis seharian. Rega capek...

Rega marah lagi sama Allah. Kenapa sih? Kurang ngasih ujiannya? Seneng amat ngasih ujian? Kayak nggak ada yang lain aja yang bisa diuji. Lucunya, Rega tetap sholat. Tapi cuma sebatas gerakan dan bacaan. Hati Rega sama sekali nggak terarah untuk ibadah, ngambek ceritanya.

Suatu malam, Rega ngadu habis-habisan. Percakapan antara hamba dan Tuhannya, makhluk dan Pencipta, hanya di mengerti bagi mereka yang senantiasa percaya kalau....Allah Maha Baik.

Saat itu, ketika sepertiga malam...Rega nggak mikir sajadah yang basah karena air mata. Biar.
Kekesalan Rega adukan semua, pakai bahasa sehari-hari, dan nggak masalah. Allah senantiasa Maha Mendengar.

Kenapa? Ngambek ya? Dari kemaren sholat tapi nggak bener amat. Ngambek kenapa? 

Kenapa sih? Kenapa Rega lagi? Salah Rega dimana sih? Ada ratusan anak di sekolah, kenapa Rega lagi sih? Allah udah ambil Bapak. Sekarang Allah kasih ini lagi.

Loh, memang kenapa? Sekarang coba pikir. Bapak mu itu punya siapa? Kamu? Yakin? Badan mu sendiri aja bukan punya mu lho.

Rega diam. Mikir. Terus sesengukan. Merasa bodoh. Marah kok sama pencipta sendiri.

Sekarang, pikir lagi. Kamu marah karena dikasih 'beginian'? Kamu dikasih ginian, bisa kan ngelewatinnya? Buktinya sekarang masih baik-baik aja. Sekali-kali kamu harus keluar dari zona nyaman. Lagian, kalau kamu jadi jelek yang rugi siapa? Orang yang jahat sama kamu. Dia berhasil bikin kamu gagal. Ini cara supaya kamu tetap di jalan, supaya kamu nggak jauh dari-Ku. Soal mau marah sama orang itu, nggak usah. Ada balasan sendiri kok buat dia, tenang aja. Percaya deh, Aku nggak pernah jauh. Buktinya, kamu nggak Ku biarkan kan? Kalau Aku mau, kamu bisa Ku cuekin, biarin aja kamu mau bener mau salah.

Sejak itu, Rega memang jadi nggak banyak mengeluh lagi. Tapi rasanya jadi malu...
Malu karena segitu nggak percaya nya sama Allah. Malu karena marah sama Allah.
Akhirnya, karena malu, jadi malu ke masjid, malu sering-sering ketemu Allah di sepertiga malam, malu baca surat cinta-Nya. Dan akhirnya, jadi....Rega yang kemarin. Alhamdulillah jilbab masih...

Terus, kayaknya Allah mulai ngirim pesan lewat beberapa orang. Salah satunya, Mbak H, yang mengajar ngaji di masjid setiap Ramadhan selepas Tarawih. Beliau sudah lama menikah, tapi belum juga dikasih keturunan. Beliau nggak marah Pak, nggak lantas berpikir kalau Allah itu nggak adil. Masya Allah, beliau justru mengajarkan mengaji di masjid setiap malam, gratis buat yang mau belajar. Tapi sudah 2 tahun ini Rega nggak ikutan lagi. Sejak sering keliatan di masjid, orang-orang jadi sering minta Rega baca tilawah di acara-acara. Padahal...Rega aja begini. Mereka nggak tau aja Rega pernah kenapa.

Belum lama ini, di timeline Rega baca postingan.

4 Golongan Laki-laki yang ditarik Wanita ke Neraka

1. Ayah
2. Suami
3. Saudara laki-laki
4. Anak laki-laki (Sila cari artikel nya, maaf lupa alamatnya)

Sempat berbakti sama Bapak pun nggak dikasih waktu sama Allah, Bapak bahkan nggak sempat lihat Rega lulus SMA. Masa iya Rega seret Bapak ke neraka? 

Bapak, maafin Rega. Cuma karena Rega malas pakai rok, cuma karena takut gerah, cuma karena...ah...seribu alasan juga jadi kalau dicari. Maaf pak, Rega belum benar. Rega usahakan pakai rok dan baju yang layak sekarang, pakai jilbab menutup dada dan gak nerawang, dan kaos kaki.
Tapi kalau kondisi nggak memungkinkan pakai rok, Rega juga pakai celana yang nggak ketat. Karena belum ada jilbab baru, jilbab lama Rega dobel supaya nggak nerawang. Kadang memang suka malas buat bikin dobelan jilbab nya, pakai kaos kaki nya. 

Jadi maaf Pak, tolong tunggu sebentar. Rega masih belajar dan istiqomah buat begini. Insya Allah Rega nggak narik bapak ke neraka. Amin ya Rabb...

Wassalam, 

Putri mu   






Kamis, 27 Agustus 2015

Bangun tidurnya pelan-pelan.

Jakarta, 28 Agustus 2015


Sebetulnya sih, kontrol nya udah 2 hari lalu (Rabu, 26 Agustus 2015). Tapi karena obat baru ditebus kemarin sore, jadi baru pagi ini bisa posting. Lagian, apa hubungannya yak, obat sama posting? Ahahha

Jadi, setelah Cardioman bilang, " Datang lagi sebelum obatnya habis ya," Selasa (25 Agustus 2015) saya tanya Ibu, perlu balik lagi atau nggak. Toh juga sudah nggak separah sebelumnya. Setelah dihitung-hitung, Obat akan habis tepat semalam. Akhirnya, jadilah Rabu siang saya booking online untuk kontrol Rabu sore.

Ternyata, hari itu rumah sakit lagi rame-ramenya pasien azzz
Nomor giliran dapet nomor 7, tapi nunggunya sampe jam 19.30 WIB. Haffttt lama banget, mana pasiennya aki-nini semua...akhirnya cuma ngobrol sama Ibu, eh...taunya ada temennya Ibu nganter suami nya yang sakit. Yaudahlah...Ibu-ibu yekan? Saya misahin diri aja, kayak Amuba.

Begitu nama saya dipanggil dan masuk ruangan, tumbenan hari itu saya diperiksa sambil duduk doang ahah. Capek kali Cardioman kebanyakan pasien.

" Terakhir kali EKG kapan? setahun lalu?,"
Saya cuma liat map rekam medis yang selalu saya bawa, " Hmm, Februari 2013 dok, " sambil ditambah cengiran.
" Lah itu mah 2 tahun lalu, ahaha gimana kamu."
" Ahahah iya dok ahahah,"
Cardioman bahagia emang kalo ketemu saya ahaha *geer luh Ga

" Masih berdebar?,"
" Sudah nggak sih dok, lebih baik dibanding kemarin."
Setelah periksa pakai Stetoskop, dan menggumamkan hal-hal baik. Akhirnya...
" Obatnya masih ada? Atau sudah habis?,"
" Tinggal untuk besok dok, "
" Hmm, oke. Nitrokaf nya sudah nggak perlu ya, lambung sudah lebih enak?,"
" Iya dok," Padahal Ranitidinnya cuma 2 hari saya konsumsi aahahah yaudahlah, orang udah baikan kok.

" Keluhan lain?,"
" Suka...itu dok, kalo abis duduk atau tiduran,"
" Oh melayang ya?," Saya sih nggak tau ya kalo melayang berasa gitu ahhaha cuma...
" Ngg gelap gitu sih dok, "
" Itu nggak ada obatnya, kalau habis duduk atau tiduran, jangan langsung berdiri. Tekanannya kan beda, posisi berdiri paling kecil. Kalau langsung berdiri, kaget." Padahal saya biasanya langsung lumpat, nggak berdiri lagi ahhah malah langsung lari pernah. Pantesan sering pusing...

" Saya kasih Merislon ya untuk kunang-kunang nya, mengurangi pening saja."

Tekanan darah kontrol hari itu, 100/60. Lebih rendah dari kontrol sebelumnya.
BB masih sama, 41.5 kg.
Nitrokaf, Ranitidin = Stop.
Obat tambahan, Merislon untuk pusing nya. Dan catatan, kalo punya darah rendah bangun tidur atau dari duduk jangan langsung diri apalagi lumpat Ga...

Senin, 10 Agustus 2015

Halo Cardioman, kangen saya nggak?

Jakarta, 3 Agustus 2015.

Semalam lagi-lagi tidak bisa tidur. Bukan karena tadi siang tidur, atau sore itu ngopi. Dada sebelah kiri berdebar. Ah...sial, 'nyawa cadangan' sudah lama habis. Setiap bangun dari duduk, tau-tau pandangan mengabur. Saya harus mencari pegangan supaya tidak jatuh. Jadi hari itu saya nggak jadi pergi ke kampus. Besok saja sekalian mengantar undangan.

Sore selepas maghrib, debarannya jadi nggak nyantai. Saya duduk di lantai, kepala menempel di dinding.
" Sesak banget bu," saya laporan. Sebetulnya minggu ini sudah ada rencana kontrol ke RS. Tapi berhubung saya sudah begini, ibu kemudian mengajak sore itu juga. Akhirnya sore itu saya menelepon resepsionis RS untuk mendaftar. Ternyata pendaftaran sudah tutup, jadi saya mendaftar untuk besok sore. Alhasil, saya harus mencoba tetap sadar sampai besok.

Jakarta, 4 Agustus 2015.

Pagi ini saya menghindari kopi. Kemarin saya sudah setengah hidup, masa iya hari ini mau mati sekalian? Setelah mengantar undangan ke kampus, saya pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Duh janjian sama ibu ke RS jam 4. Dan Cardioman mulai praktik jam 5. Sialnyaaa, saya kena razia yang berbuah surat tilang karena SIM saya mati 4 bulan. Yaelaaa...

Atas nama kebajikan, saya minta surat tilang untuk pengadilan saja. Mumpung masih mahasiswa, idealis seideal-idealnya.

Sampai rumah, niatnya abis sholat langsung pergi. Ternyata....praktik ditunda sampai pukul 18.30. MAKJANG...yaudahlah mau gimana...akhirnya santai dulu depan tv, nonton iklan sampai gak sadarkan diri. Jam 5 bangun mandi, lalu rapi-rapi nunggu maghrib. Jam 18.00 selesai maghrib-an langsung cabut ke RS.

Sampai depan RS, saya turun langsung ke resepsionis, ibu cari parkir mobil. Sampai resepsionis, saya sudah terdaftar, nomornya sudah ditaruh di meja poli Cardio. Begitu sampai depan meja, eh kata perawatnya saya harus minta nomor ke resepsionis di bawah. Padahal yang dibawah udah bilang ditaro di meja. PEAK kan?
" Mbak, harus ambil nomor dulu di bawah," perawat ini ngotot.
" Mbak resepsionis nya bilang nomor saya sudah dibawa ke atas," saya juga gak ngalah.
" Tapi nomor mbak nggak ada, " dia cuma bolak-balikin map catatan medis orang-orang.
" Oh gitu, yaudah saya ke bawah lagi," avoiding problem, males banget debat. Udah nahan sesak dari kemaren, tadi sore ribut sama polisi nilang, perawat ini juga ngajak ribut? Deuh...
" Eh ini...siapa mbak namanya tadi?,"
" Rega mbak...,"
" Rega Alfi Rosalini? map nya ada. Silahkan tensi dulu," I've told you so. Saya cuma naikin ujung bibir sebelah. 100/70. Itu rendah versi saya, pantesan tiap tiba-tiba diri pendangan kabur.

Nggak lama, saya dipanggil setelah Pakde. Anyway, ini kontrolnya barengan Pakde. Setelah dipersilahkan ke tempat tidur, Cardioman ngasih resep ke Pakde. Beliau menghampiri saya. Mukanya kayak ngomong, " Ada apa nih? Pasti lu sakit lagi kan? Kalo gak separah itu, gak bakal lu kesini."
Seperti biasa, beliau malah nanya " Kemaren itu ada yang jatuh ke kawah ya?,"
" Oh iya dok, "
" Kamu nggak naik gunung lagi?,"
" Lagi nyusun tugas akhir dok,"
" Itu yang jatoh, jatoh kemana?,"
" Kawah merapi dok, ahahah,"
" Ah gila. Sama siapa dia?,"
" Sendiri dok. Lagi foto-foto sendirian di puncak garuda yang bentuk garudanya udah hilang,"
" Halah, bocah...bocah...anak mana?,"
" Bekasi kayaknya, " Sumpah ini saya ngasal ahahah abis...aahaha gimana...
" Berdebar?," akhirnya....the sense of cardioman nya keluar.
" Iya dok."
" Berapa lama kamu nggak kontrol?,"
" 1 tahunan dok, " Beliau liat map medis saya dan membenarkan, " 1,5 tahun kamu nggak kontrol."
Bisa apa? Saya diem aja.

Setelah kita pindah ke meja beliau, dan ada ibu disitu.
" Susah tidur? Sesak?,"
" Iya dok, "
" Sudah berapa lama?,"
" Kalo sesak semingguan ini dok, tapi susah tidurnya dua malam ini."
" Keluhan lain?,"
" Pusing. Lemes, nggak bisa tidur tapi lemes terus."
" Ada keluhan asam lambung?,"
" Ada dok,"
" Balik lagi sebelum obat habis ya," setelah ngasih resep saya pulang. Resep dibeli di apotek langganan supaya dapat diskon. Ada 3 obat yang saya minum;
1. Ranitidin 2x sehari sebelum makan.
2. Nitrokaf 2x sehari setelah makan.
3. Hapsen 1/2 - 1 tablet sehari setelah makan.

Harusnya sih aturan makan nya itu gak perlu ditulis, kecuali untuk Ranitidin. Pasti dia apoteker baru. Kesimpulan kontrol saya...mungkin saya stress karena skripsi ini yang kemudian berakibat kambuh, dan sudah lama juga gak ngobat. Faktanya, kemungkinan besar saya malah harus ngobat seumur hidup. Kalo kata Mbak Yani gitu, karena fungsi obat ini mencegah pembekuan darah di sekitar katup saya.

2-3 hari setelah kontrol, saya sangat teratur minum sesuai anjuran.

Jakarta, 10 Agustus 2015

Tadi pagi lupa minum obat, siang kelewat juga. Baru minum sore, sama satu lagi sekitar 45 menit lalu. Dan sekarang, kepala mulai keliyengan. Salah sendiri minum obat kok ngasal. Sekian...

Senin, 09 Maret 2015

Surat untuk Partner; Allien of Mars

Cibubur, 9 Maret 2015
Kepada: Partner in Crime, yang menemani kebodohan ku dulu

Tentang: Bicara Serius

Selamat sore, senja belum mulai jatuh di tempat ku menulis ini. Aku yakin tempat mu juga belum. Aku perlu basa-basi tidak sih, tanya kabar mu? 

Baiklah, pertama-tama. Aku disini baik-baik saja (kalau kamu mau tahu). Yah, seperti biasa. Kadang, masih sering merasa nyeri di bagian 'itu'. Tapi kamu tahu kan? Aku sudah berhenti, sebetulnya mengurangi. Kadang, aku tidak bisa tidur kalau sedang kambuh. Oke, cukup soal Aku. 

Kamu, apa kabar? Belakangan ini, entah kenapa perasaan ku tidak enak soal kamu. Lagi. Terakhir kali aku merasa seperti ini, kemudian aku tahu kamu sakit. Tapi rasanya kali ini 'sakit' mu agak parah. Aku khawatir, tapi tidak takut. 'Dia' pasti menjaga mu kan? Ah ya, pasti. 

Sejak awal, aku curiga soal 'dia'. Seharusnya, 'dia' akan selalu disamping mu. SE-LA-LU. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa kamu sendirian. Akhir tahun lalu, aku mendapat firasat kamu jatuh, sendirian. Padahal ada 'dia'. Sekarang-sekarang ini, aku mendapat firasat kamu 'sakit', sendirian, masih dalam posisi 'jatuh' mu. Yang mau kutanyakan, Kamu baik-baik saja sekarang?.

Op..op...tidak perlu menjawab, Aku tahu kamu selalu tidak ingin terlihat lemah. Entah takut atau malu. Tapi aku selalu bisa 'melihat' mu. Berbohong pun percuma, Aku tahu. 

Dulu, aku bisa menawari mu tangan untuk berdiri, banyolan untuk ditertawakan, atau sekedar telinga untuk mendengar curhat mu. Walaupun, dulu 'dia' pun ada di dekat mu, aku masih bisa melakukannya. Sekarang, sekalipun 'dia' jauh, aku sudah tidak bisa. Jangan kan menawari telinga, mendekat pun aku akan terlihat salah. 

Jadi, semoga kamu membaca ini. Kalaupun tidak, semoga Allah menyampaikan ini. 

Aku juga pernah jatuh. Kemudian diinjak, ditendang, dipukuli, diludahi. Nggak percaya? Aku hampir pernah berniat untuk 'pergi' dari Allah. Tapi Allah tidak pernah meninggalkan bocah perempuan ini. Perlu kelapangan luar biasa untuk menerima musibah, yang dalam bahasa baik nya ujian. Aku tahu kamu tidak perlu diingatkan soal ini. Tapi kamu perlu disadarkan. Partner, kamu tidak cukup lapang, tidak cukup sabar. Kesal? Karena kesok-tahuan ku? Seharusnya kita memang meluangkan waktu lebih banyak untuk cerita. Supaya kamu tahu apa maksudku.

Kamu selalu bilang aku tidak akan mengerti. Oh iya tentu saja, toh kamu tidak pernah cerita. Bukankah kita sepakat untuk melihat dari berbagai perspektif? Itu dia alasan mengapa aku masih ingin memberitahu mu ini, melalui surat. Semua orang punya hal yang tidak bisa dibagi. Aku juga. Kamu tahu? Kita sama-sama penyimpan rahasia. Kita sama-sama takut. Kita sama-sama suka memakai sesuatu untuk menutupi. Beda nya; Aku tahu pasti kapan membuka itu, supaya orang lain tidak merasa dikelabui. Kamu, tidak. Penuh tipuan agar disenangi. Ketika orang lain tahu rupa asli mu, mereka lalu pergi. Bahkan marah. Tentu saja, kamu kelabui mereka Partner! Aku tidak lari, tidak berusaha marah. Karena aku sudah tahu sebetulnya. Tapi aku menjaga jarak untuk keselamatan ku sendiri. 

Aku bisa melihat obsesi mu hanya dari kilatan matamu senja itu. Sekaligus melihat sepi dan rindu mu dari cahaya mata mu yang bias dengan lampu kota di jembatan itu. Kamu menyedihkan. Seperti aku dulu. Ketika aku 'kehilangan' diri karena obsesi, ada orang-orang di sekeliling ku yang memegang tangan ku agar tidak tersasar jauh. Mereka menemani disamping ku, bukan didepan ku layaknya memimpin, atau dibelakang layaknya tidak peduli. Mereka memegang bahuku, mendengarku, bicara padaku. Aku ingin seperti itu. Kalau masih bisa. Tapi sekarang ini, sepertinya bukan ranah ku lagi. 

Sekarang, aku hanya ingin berbagi 'obat' ketika aku merasa 'jatuh' pada obsesi ku, atau hal lain.

        Wahai orang-orangg yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S 2: 153)

        Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S 2: 155)

        Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan ( Q.S 94: 5)

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya

Aku nggak akan memberi peluk yang kamu minta, karena Allah akan memeluk mu dengan cara yang luar biasa. 
Aku nggak bisa memberi tangan untuk kamu berpegang, cukuplah Allah jadi penolong.

Ah iya, aku ingin bilang. Sewaktu kamu menjadi imam, aku agak deg-degan. Apa suara mu lebih bagus dari Ustad Qomar? Oh tidak mungkin, hafalan dan suara sekaliber ustad. Walaupun kamu bilang kamu ingin belajar 'kaffah' dan keluarga mu berusaha syar'i. Maaf sekali, aku ragu. Bagaimana mungkin kamu belajar kaffah sedang kalian sering 'berdua'. Perlukah kuingatkan kalian berdua dimana? Jangan, nanti kamu malu. Sekalipun saat itu kamu tidak mengakui 'dia', toh kamu tidak menjaga pandangan bukan? 

Makanya aku penasaran. Sebagus apa suara orang yang mau belajar 'kaffah' ini? Sekaya apa hafalannya? Kalau hanya sekaliber Kak Andi, yah itu belum apa-apa. Kak Andi dengan kamu saja sudah beda 5 tahun, masa iya hafalan nya selevel? Begitu kamu mulai takbiratul ihrom, aku menyimak. Dan langsung kecewa, Kunto dan Syahnaz pun lebih bagus dari kamu. Maaf aku bilang begini. Satu pesan lagi, jangan mengumbar perkataan baik. Apalagi soal agama. Kalau ketahuan kamu tidak sebagus itu, kamu akan malu. 

Mungkin, Allah cemburu. Kamu lebih sering berduaan dengan 'dia' dibanding dengan-Nya. Padahal halal saja belum. Makanya, walaupun kamu belajar syariat tapi tidak berbekas. Kenapa aku bisa berkata ini? Aku juga beitu Partner. Sungguh deh.

Hafalan ku hilang. Seperti yang kubilang, mungkin Allah cemburu. Aku ke masjid punya tujuan lain, bertemu Mas Ganteng. Ke rumah Allah bukan niat bertemu Allah (baca= ibadah) malah cari yang lain. Kita sama-sama buruk. Tapi,  Kita sama-sama punya niat baik. Yuk benahi.

Cepat sembuh, cepat kembali Partner. Allah be patient one :)

Salam, 

R. A. R



Kamis, 26 Februari 2015

Surat Untuk Bapak

Jakarta, 26 Februari 2015



Kepada:
Bapak di Rumah Allah

Tentang: Hidup yang Tak Lagi Sama

Bapak, Rega nggak sanggup rasanya. Demi Allah ini melelahkan. Lebih-lebih dari apa yang dulu. Kalau dulu Bapak memberikan soal sebelum Rega boleh bermain, rasanya ini lebih. Soal ini diberikan oleh-Nya. 

Katanya, Allah nggak ngasih cobaan yang tidak mampu dilewati hamba-Nya. Kenapa Rega terus-terusan dicoba begini? Rasanya capek Pak.

Bulan lalu, tepat tanggal yang sama, Rega menyebrang ke Lampung dari Pelabuhan Merak. Rega ingat Bapak. Waktu kecil, Bapak pernah ajak Rega ke Pelabuhan, kita berangkat dari rumah Bude. Setiap Rega lihat kapal, Rega ingat foto kapal Bapak yang Bapak ambil pakai kamera digital. Rega mau kirim surat, nanti dilarung di laut. Tapi ada teman-teman. Rega takut nangis, malu. Tapi Rega juga kangen, mau cerita sama Bapak. Rega capek Pak. 

Tiba-tiba dunia Rega berubah belum ada setahun Bapak pergi, dunia jungkir-balik. Semua orang nggak percaya sama Rega. Semua. Cuma Abi yang tau, tapi Abi masih kecil. Kita nggak bisa apa-apa. Setahun kemudian, akhirnya beberapa orang mulai percaya. Tapi sudah terlambat. Semua sudah terlanjur berubah.

Kemudian, drama ini berulang terus, rasanya seperti punya siklus sendiri. Rega capek. Sebaiknya memang nggak ngeluh. Tapi Rega nggak tahan. Sewaktu teman-teman seumuran galau pilih universitas dan fakultas, atau galau soal pacaran, Rega harus lebih kuat dari itu. Cerita juga percuma, pengalaman yang mereka alami berbeda jauh. Rega cuma bisa nangis tiap malam, kadang sambil sujud, kadang sambil manggil-manggil Bapak.

Lalu, baru pertengahan tahun lalu semua menjadi jelas. Allah menunjukkan semuanya. Tapi nyatanya itu tidak mengubah banyak hal. Semua orang memang percaya sekarang, tapi mereka juga nggak bisa apa-apa. Mereka cuma bilang sabar. 

Kalau sudah capek gini, Rega cuma bisa meluk foto Bapak di kamar sambil nangis. Rega cuma kasian Dito Pak. Bapak pergi waktu Dito masih kecil. Rega nggak tahu Dito ngerasani apa, yang keliatan Dito riang-riang aja.

Bapak lihat kita nggak sih? Bapak sedih nggak? Rega sudah di level lelah paling memuakkan. Kenapa harus begini sih Pak? Kenapa bukan orang lain? Bapak sudah diambil, lalu kenapa masih ada yang lain? Apa Allah suka dengan air mata?

Mempertanyakan hal-hal itu memang bukan jenis pertanyaan pintar. Tapi Rega capek. 

Bapak, sebelum penutup Rega mau bilang, Rega mau peluk Bapak sekali lagi aja. Nggak banyak-banyak. Cuma untuk memastikan Bapak tahu Rega kuat, Rega sabar, Rega bisa Bapak percaya. Sekali aja Pak, kuatkan Rega.

Dulu, Rega jarang meluk Bapak karena Bapak melaut. Kalau Bapak pulang, Rega cuma cium tangan. Kalau Bapak berangkat lagi, Bapak nggak mau dipeluk karena takut nangis. Rega nggak pernah peluk Bapak setelah besar. Sewaktu Bapak mau dimakamkan Rega juga nggak sanggup meluk Bapak karena Rega nangis. 

Bapak, jangan lupa mampir di mimpi.

Salam Kangen Tak Terhingga,

Putri mu

Sabtu, 22 November 2014

Beda

Aku melihat nya lagi, setelah bertahun-tahun. Hampir tidak ada perubahan dalam penampilan nya- kaos oblong dan celana pendek- hanya rambut nya sekarang panjang hingga bisa diikat.

Kali ini dia betul-betul tidak bisa menghindari ku. Kami sedang mengantri kasir di minimarket dekat rumah. Aku tepat berada di depan nya dengan kaleng obat nyamuk ternama. Musim panas ini seperti kesenangan mereka untuk keluar berpesta, gila. Hampir tiap pagi Aku melihat bentol di pipi atau lengan ku. Padahal sudah kuracuni.

Dia keluar dari minimarket dengan plastik belanjaan, yang kulihat tadi isinya pembalut wanita. Pasti permintaan kakak nya. Aku memang menunggu nya. Dia agak kaget melihat ku tidak jauh dari pintu, berdiri di dekat sepeda nya.

Tanpa bicara, dia berusaha mengacuhkanku. Membebaskan standart sepeda, lalu memutar kemudi nya.
" Kenapa sih? Karena gue pakai jilbab?," Dia hanya melihat ku sebentar lalu mulai menuntun sepeda nya. Ini tanda, dia masih mau diajak bicara.

" Lo apa kabar?," tanya nya dingin, tanpa melihat ku. Kami berjalan menuju gapura kawasan rumah kami.
" Alhamdulillah. lo? Katanya lo baru putus?,"
" Baik, Puji Tuhan.  Abis naik gunung mana? atau abis dari mana lagi?," Dia tidak menjawab pertanyaan ku.
" Nis, please. Lo kenapa sih?,"
" Gue baik-baik aja Nis. Kemarin katanya ada yang meninggal di Semeru? Sekali-kali gue mau ikut dong Nis."

Aku menahan kemudi sepeda nya. Kami berhenti di dekat taman ibu-ibu PKK.
" Nis, kita udah sama-sama gede. Salah gue apa? " Aku memaksa sebuah penjelasan.
" Nis, udah lah kita bukan lagi Dennis-Nisa." matanya menatap kemudi sepeda.
" Lah? Tunggu. Lo mikir gua mau kita....?," Aku terhenti, bingung. Dia pikir aku mau melanjutkan 'yang dulu'?

" Please Dennis, jangan geer. Gua cuma mau penjelasan kenapa lo jauhin gue? Bukan, lo menghindari gue."
" Oke. Bisa nggak kita ngobrol disini 15 menit lagi? Merry nungguin 'ini'." tanya nya. Aku melepaskan kemudi sepeda nya dan memberi sebuah anggukan.


" Nih." Dia memberi sebuah bungkus kado begitu dia duduk di bangku taman.
" Apa?,"
" Buka aja."
Aku membuka nya, " Bungkusnya gue robek nggak apa kan?,"
" Iya, bebas Nis."
" Pashmina?," Aku kaget dengan isi kado nya.
" Katanya sih, beda ya sama jilbab?,"
" Ahahaha beda. Kalo pashmina ini lebih panjang biasanya, such as shawl Nis."
" Tapi bisa dipake kan?,"
" Bisa lah. Anyway, thanks ya."
" Suka nggak?,"
" Suka. " Aku tersenyum, " Tapi kenapa lo kasih ini? Ulang tahun gue masih dua bulan lagi. Lo lupa?,"
" Nggak. Itu...udah lama beli nya. Dua tahun lalu lah, dua hari setelah gua tahu lo memutuskan pake jilbab."
" Kok baru sekarang dikasih nya?,"
" Gue....takut Nis." Dia menghela nafas, kemudian melanjutkan, " Tapi gua inget lo pernah kasih gua rosario bokap lo."

Malam itu, setelah kami pergi menonton bioskop, hampir tiga tahun lalu.
" Nis, nih!" kataku sembari memberinya sebuah salib dengan Yesus Kristus ditengah salib nya, terbuat dari emas.
" Apaan nih?,"
" Rosario. Punya bokap dulu, buat lo aja kata nya. Kali aja lo jadi bener."
Dia cuma cengengesan mendengar penjelasan ku.

" Masih lo simpen?, " tanya ku penasaran.
" Masih. Bokap lo bener kayaknya. Setelah itu, gua jadi rajin kebaktian dan perkumpulan remaja gereja gitu."
" Hahahah bagus lah." Aku melipat pashmina itu lalu meletakkan nya diatas pangkuan.
" Lucu. Kenapa bokap lo nggak sekalian aja ngasih gua peci, sarung, sama sajadah?,"
" Untuk?,"
" Kali aja gua jadi muallaf." Aku diam, dia diam. Hanya ada suara jangkrik, dan gesekan ranting.
Katanya, semua makhluk ciptaan Allah itu selalu bertasbih, melalui suara-suara mereka yang tidak dimengerti manusia. " Semoga kamu bisa mendengar nya Nis, melalui bisikan lain." doa ku dalam hati.
" Bokap apa kabar?," pertanyaannya memecah kesunyian.
" Alhamdulillah. Insha Allah Papa Mama mau umrah bulan depan."
Dia mengangguk " Lo nggak ikut sekalian?,"
" Nggak, itu jadwal gua UAS Nis."
" Oh...sendirian dong di rumah?," Aku mengangguk. Sunyi datang lagi.
" Nis, kenapa?," Aku bertanya lagi.

" Gue...kesel. Tapi nggak tahu kesel sama siapa. Kayak...ada yang ngambil lo dari gue begitu liat lo pake jilbab."
" Tapi gue nggak berubah kan? Dari pertama kali kita duel basket di lapangan?,"
" Iya. Itu yang gua bingung. Kenapa lo masih Nisa? Gua kesel. Kalo lo berubah, mungkin lebih mudah buat gua Nis. " Aku tidak mengomentari, membiarkannya bicara sampai selesai.
" Masalah nya, lo masih Nisa yang seasik dulu. Partner basket gue, temen sepedahan gue, bahkan kita disebut pasangan emas. Gue canggung mau deket lagi sama lu."
" Karena kita beda?," Tanya ku akhirnya.
Dia hanya menghela nafas panjang. " Menghindari lo adalah hal tersulit. Gua nggak bisa menemukan pengganti lo. Dia mungkin lebih cantik, lebih anggun, lebih manja, lebih...tapi nggak ada yang bisa nemenin gua Nis." Aku terdiam, mencerna kalimat-kalimat yang barusan dikeluarkan.

" Tapi sekarang kenapa lo mau ngomong lagi? "
" Gue capek. Capek menghindari lo, capek mencari-cari, dan menyamakan perempuan lain. Karena cuma ada satu Nisa yang begini."
Sunyi kembali hadir.
" Maaf Nis."
" Ha? Kenapa minta maaf?," tanyanya bingung dengan penuturan ku.
" Gua pikir, selama ini lo benci sama gue karena gua akhirnya memutuskan berjilbab. Atau lo malu karena nggak bisa lagi keliatan bergaul sama gue beda sama lo. Ternyata lo malah beliin pashmina ini."
Dia menghela nafas lagi, " Gua juga yang salah. Tau-tau menghindari lo."
Kami berdua menghela nafas.
" Gue pulang dulu Nis, udah malem." Aku beranjak dari bangku.
" Iya gue juga." Dia ikut berdiri. " Eh iya Nis, besok Sabtu nonton yuk." ajak nya.
Aku menatap nya sebentar, melihat senyum nya.
" Boleh. Jam berapa?,"
" Nanti gue jemput ke rumah lo. Di rumah dari pagi kan?,"
" Iya. Oke gua tunggu. Papa kayaknya juga pengen ngobrol lagi sama lo haha."
" Sip. Eh, pashmina dari gue dipake ya." pinta nya bersemangat. Sesuatu yang hilang dari hidup ku bertahun-tahun, cara semangat mu.
" Iya. Sip." Aku mengacungkan jempol.

Di sepertiga malam itu, Aku kembali mendoakannya. Bukan supaya kami tidak lagi beda. Aku tidak mau memaksanya. Hanya berdoa supaya kami tetap saja begini, bahagia dengan cara kami sendiri.

Dennis

Malam itu, Aku juga berdoa dengan rosario di genggaman, di depan Kristus disalib. Supaya tetap saja begini. Entah doa siapa yang lebih dulu dikabulkan. :))




Rabu, 05 November 2014

Cerpen: Simpan Saja Part 2, Selesai.

Rindang kepada Aron

" Bunda, bunda...Kenapa kesini sih? " tanya anak laki-laki berumur 6 tahun dengan seragam putih-merah beserta ransel yang menempel di punggung nya.
" Sebentar ya sayang, bunda mau tengokin sahabat bunda dulu." jawab ku sambil mengusap kepala nya.
" Tapi bunda ini kan makam, sahabat bunda udah meninggal?," pertanyaan polos anak kecil.
" Iya." Aku menatap balik tatapan polosnya.

Kami berdiri menatap nisan marmer berwarna keabuan dibawah naungan pohon dengan bunga Kamboja putih bermekaran. Siang ini terik tapi tidak tampak menyiksa karena dahan-dahan nya memegangi rimbunan daun.

" Bunda, kok nama ku sama kayak nama yang di nisan itu?," Aku terkesiap, tangan ku mengelus lembut kepala nya sekali lagi.

Ron, aku datang menengok, memastikan Kamu baik-baik saja. Aku datang dengan Aron yang 'lain'.
Aku tidak bisa mengganti mu di hati ku. Seperti janjiku, Aku 'menjaga' mu, Aron. Kamu perlu tahu, Aron kecil seperti mu dulu. Sering menggodaku, padahal Aku ibunya hahaha. Mau tahu yang lebih lucu? Anak ini adalah anak ku dengan Duta. Duta setuju memberi nama depan bagi anak kami, Aron.
" Supaya Kamu tidak perlu merindukan Aron yang dulu. Kebahagiaan mu dengan ku sekarang Rin. Aku hanya ingin Kamu melupakan kesedihan mu." Begitu kata Duta. Dia baik sekali. Suami terbaik sepanjang masa. Kamu ingat kan, ketika dulu Aku bilang Adam Levine The Sexiest Man Ever. Ku ralat, Duta is The Sexiest Husband Ever :)

Aku juga pernah berjanji untuk selalu bahagia. Tak perlu kuceritakan padamu bagaimana rasanya. Keluarga kecil ku ini rupa dunia ku yang menyenangkan.

" Aron, coba sekarang Aron cerita ke Sahabat bunda ini, Om Aron. " kata ku kepada Aron dengan berlutut menyejajarkan diri dengan tinggi Aron.
" Cerita apa?,"
" Apa saja. Um...gimana kalau Aron cerita kalau Aron sudah masuk SD?,"
Aron kecil memamerkan senyum riang nya, " Oke bun, " dia mengacungkan jempol tangan kanan nya.

Aron kecil kepada Aron

" Om Aron, perkenalkan nama ku Aron juga hehe, aneh ya Om. Umur ku 6 tahun, hari ini Aku masuk hari pertama Sekolah Dasar. Tadi Ibu Guru bertanya siapa yang berani bercerita ke depan kelas, bercerita apa saja. Terus, Aku tunjuk tangan. Aku cerita soal Ayah dan Bunda. Tadi pagi Bunda kelupaan bawain Aku topi, terus Bunda lari-lari ke rumah. Ternyata topi nya udah Bunda masukin ke tas ku Om, untung Bunda belum lari terlalu jauh heheeh. Aku dan Ayah ketawa sampai kita sampai di sekolah baru ku. Aku sayang Ayah dan Bunda pokoknya. Udah Bun," Aron kecil menengok ke Rindang, yang sekarang sesengukan, dengan tetes air mata di pipi nya.

" Bunda, kok nangis? Bunda kenapa? Malu ya gara-gara Aron ceritain yang tadi pagi?,"

" Bukan sayang, Bunda nangis bukan karena itu. " Rindang menyeka air matanya.

Aron kepada Rindang

Hey Rin, senang melihat mu kesini. Lebih senang lagi mengetahui kalau Kamu bahagia sekarang. Apalagi Kamu ajak Aron kecil mu juga. Rasanya seperti terlahir kembali melihat nya hahaha
Sebelum ini Aku selalu merasa bersalah, meninggalkan mu 'lagi'. Harusnya Aku bisa melihat mu menjadi wanita tercantik di hari bahagia mu. Duta tidak salah memilih istri dan ibu bagi anak nya.
Aku selalu menyesal...

Tapi sekarang, Aku sudah lega. Kamu datang dengan bagian dari dunia mu. Memperlihatkan kebahagiaan kalian dengan 'Aku' yang lain di dalam nya. Aku turut bahagia. Tolong katakan ke Si Kecil ini, dia harus lebih jahil dari ku hehehe

Tolong katakan juga pada Duta, terima kasih atas kebaikan, kelapangan, ketabahan hati nya, atas kebodohan ku meninggalkan perempuan yang paling kucinta setelah Ibu. Terima kasih sudah menjaga Rindang ku menjadi Rindang nya. Tolong jaga dunia kecil kalian yang indah ini. Buat Aku iri sekaligus bahagia melihat nya. 

Aku selalu tahu, Aku terus mencintai mu. Tahu atau tidak nya kamu, atau suami mu. Tuhan, sudah cukup. Kalau tidak berjodoh di dunia, barangkali di tempat lain. 

Rindang kepada Aron

Baik-baik Ron, Aku pamit pulang. Aku akan mampir ke toko kue untuk membeli beberapa dus kue untuk pengajian 7 tahun kepergian mu, di rumah ibu mu. Walaupun tadi siang Ibu dan Mbak mu sudah bilang kalau kue sudah cukup, Aku ingin Kamu lihat kalau Aku tidak pernah lupa kue kesukaan mu, Kue Lumpur.

Selesai.



Selasa, 14 Oktober 2014

Dialog Malam

Kepada Penciptaku
Di Singasana-Mu

Dear Tuhan,
Pagi tadi Aku berdoa supaya mataku tidak terlihat sembap atau bengkak.
Kacamata ku sudah agak jarang kupakai, kurang nyaman.
Sehingga tidak ada lagi yang bisa kupakai untuk menutupi mataku.

Pagi tadi Aku juga berdoa supaya presentasi kelompok ku berjalan baik.
Perihal apa yang kuceritakan pada-Mu bisa sirna sejenak.
Tapi tampaknya presentasi kelompok ku memang harus diperbaiki, terlepas dari
apa yang kuceritakan.

Dear Tuhan,
Semoga cerita-cerita malam ku tidak pernah mengganggu-Mu.
Tentu tidak bukan? Kau hadir 24 jam dalam seminggu 3665 hari dalam setahun.
Tanpa tidur, dengan Penglihatan, Pendengaran luar biasa.

Semoga Kau juga tidak lelah melihat ku menangis. Lagi.
Bukan, aku bukan tidak sanggup atau mengeluhkan apa yang Kau ujikan.
Aku yakin dengan kuasa-Mu, aku juga pasti sanggup melewati nya.
Bukan kah Kau tidak memberikan ujian yang tidak mungkin mampu dilewati
hamba-Mu?

Itu artinya aku pasti sanggup.

Tapi lagi, tidak sanggup aku lewati ini tanpa air mata dan kurasan emosi jiwa.
Jadi, kuceritakan saja semalam.

Melalui sabda-sabda indah mu.
Melalui gerakan-gerakan lemah ku.
Aku berserah, Tuhan.

Aku hampir tak sanggup. Sungguh.
Andai aku tak ingat apa yang sudah Kau berikan pada hambamu yang pengeluh ini.

Melalui lelehan air mata, curhat-curhat ku meluncur.
Cerita ku tentang 'hidup' yang Kau berikan, tentang rasa sabar.

Dear Tuhan,
Tidak ada lagi tempat ku curhat, bercerita hingga lelah mata ini menangis.
Salah ku kah, jika tiap kali Kau beri ujian,
Maka semakin besar benteng yang kubuat?

Aku tidak lagi percaya siapapun. Siapapun.
Aku tidak lagi bisa menerima siapapun.
Salahku kah, jika aku tidak lagi bisa percaya pada hambamu yang lain,
Yang justru berwajah topeng di depanku?
Salahku kah, jika kepercayaan yang kubangun kemudian diruntuhkan seketika,
Lalu aku tidak lagi mampu percaya?

Beritahu aku, kesabaran macam apa yang kubutuhkan?
Beritahu aku, pemakluman macam apa yang musti kulakukan?

Sedang orang-orang itu terus saja menghujat.
Orang-orang itu terus mengatakan aku buruk, lalu mereka apa?
Orang-orang itu terus mengatakan mereka paling benar.

Tuhan, aku lelah. Boleh kan bilang begitu?

Dear Tuhan, 
Aku terlalu banyak meminta.
Aku terlalu banyak mengeluh.
Aku terlalu keterlaluan.

Padahal sudah nampak, sudah Kau tunjukkan keadilan-Mu.
Padahal sudah Kau tunjukkan, Kau tidak pernah ingkar.

Kali ini bolehkan aku menangis lagi, berkata lelah lagi.
Karena nanti, aku pasti sadar sendiri aku tidak pernah sendiri 
menghadapi ini.
Selalu ada Kau. Selalu...

Selasa, 16 September 2014

Tuhan, maaf aku belum bisa...

Jakarta, 17 September 2014
Dinihari, tengah malam lewat 6 menit di tempatku menulis ini.

Ditempat-Mu melihatku

Tuhan, aku mau tanya; Kenapa sih hidup Pak Mario sepertinya bahagia sekali? Sampai-sampai dia bisa jadi motivator. Kenapa juga ada orang-orang yang pernah jadi motivator karena pengalaman hidupnya, kemudian dia berubah jadi orang yang perlu dimotivasi?

Itu namanya hidup ya? Baiklah.

Suatu kali, Pak Mario dan Bang Tere Liye update status di Page mereka masing-masing. Menggunakan bahasa yang berbeda; Pak Mario dengan gaya bahasa nya yang tenang, Bang Tere dengan gaya bahasanya yang frontal. Keduanya bermakna sama;

Memaafkan kesalahan orang lain, akan membuat hidup kita lebih bahagia. Acuhkan saja apa kata orang yang tidak suka dengan kita, jalani hidup kita dengan baik, itu lebih layak diperjuangkan.
(Saya yang menyimpulkan)

Aku agak tersinggung. Sudahkan mereka merasakan kondisi titik nol di hidup mereka? Seperti apa sih titik nol bagi Pak Mario? Kayak apa sih titik jatuh bagi Bang Tere?
Kenapa begitu mudah mereka menulis begitu?

Iya betul, memaafkan itu mudah. Melupakan yang sulit. Ada lagi yang bilang, " Memaafkan itu mengalah tanpa kalah."

Karena apa? Cuma orang yang punya kebesaran jiwa yang mau memaafkan orang lain. Berbesar hati mau memaklumi, bahwa setiap orang itu wajar melakukan kesalahan. Yang nggak wajar itu sudah diberitahu tapi nggak sadar.

Tuhan, aku sudah disakiti. Berkali-kali. Kau tahu sendiri.
Ada malam-malam yang kuisi hanya dengan airmata dan sengukan.
Ada malam-malam yang kuisi dengan membasahi sajadah dan mukena.
Ada...

Bahkan ada saat ketika aku hilang sabar dan akhirnya bilang, " Ya Allah, Rega nggak sanggup. Bapak, kenapa pergi cepet banget sih? Rega nggak sekuat itu Pak,".

Ada waktu ketika aku hilang iman, dan membuang apa yang tidak seharusnya kubuang. Lalu berharap menjadi rusak selayaknya manusia buangan.

Sampai rasanya malu. Malu untuk menemui-Mu. Karena terlalu lemah jiwa ku, juga fisik ku. Karena terlalu banyak yang aku keluhkan. Padahal, apa yang kurang dari karunia-Mu?

Tuhan, manusia satu ini memang layak dapat teguran. Tapi jangan kejam-kejam, aku takut nggak sanggup.

Berangkat dari situ, aku memutuskan berhenti jadi makhluk keras kepala, berhenti jadi manusia pendendam. Aku memaafkan partner ku. Memang bukan permintaan maaf secara langsung, tapi aku mulai berkomunikasi lagi selayaknya dulu. Kuanggap konflik kami selesai. Kemudian, aku akhirnya mengirim ucapan maaf untuk nya, dan dunianya.

Permulaan yang bagus dengan partner.
Batu ini mulai lunak, mulai terbentuk cekungan.
Tuhan, aku mau sholat taubah. Tapi aku tidak tahu 'cara' nya.
Cara memaafkan, yang betul-betul maaf. Tanpa perlu lagi kuingat perkaranya.
Sehingga kalau ada yang menyebut namanya, hati ku tidak lagi bergemuruh. Tangan ku tidak lagi terkepal, kesal.
Memaafkan mereka, tidak semudah memaafkan partner ku.

Memaafkan itu sulit Tuhan. Sungguh. Aku takut, sungguhan takut. Kalau nanti, aku melakukan sholat taubah, aku masih mengungkit perkara-perkara itu lagi. Aku masih mau memukuli wajah mereka, dan membiarkan mereka merasakan apa yang dulu pernah mereka lakukan pada anak perempuan yang baru saja ditinggal meninggal Bapaknya. Tidak kah mereka berpikir, aku baru saja berduka? Kenapa mereka begitu tega? Makanya kubilang sulit.

Ini hidup bukan? Baiklah. Tuhan, aku belum sanggup sholat taubah. Sejauh ini, anggaplah aku sudah memaafkan mereka. Tapi entah apa yang akan kulakukan kalau bertatap muka.

Tuhan, perempuan ini masih memendam luka.
Tuhan, perempuan ini masih berpura-pura dengan senyumannya.
Tuhan, maafkan kalau aku banyak meminta.
Tabahkan aku, lapangkan hati perempuan ini, aku tidak mau lagi jadi pendendam.
Aku lelah jadi gadis keras kepala, tapi apa daya toh aku juga manusia.

Tuhan, aku tidur ya.




Senin, 25 Agustus 2014

Hari Partner

Senin, 25 Agustus 2014. Setiap hari Senin, Taman Margasatwa Ragunan off, hari ini tidak boleh ada kunjungan. Jadi, bisa dibilang hari Senin adalah hari cuti bagi satwa-satwa penghuni TMR. Kebijakan ini disebut Hari Satwa.

Cuti seperti ini hanya berlaku bagi satwa, karyawan dan pkl tetap harus masuk. Ya kalo karyawannya cuti juga, satwa nya nggak makan dong? Dan menurut Saya, Hari Satwa adalah hari paling lama, mungkin karena terlihat sepi jadi terasa lama?

Jadilah hari ini Saya iseng jalan-jalan sendirian, setelah memberi makan tentunya.

Tujuan Hari Satwa ini memberikan privasi kepada satwa, supaya nggak stress karena terus-terusan di-'pajang'. Iya dipajang. Ada aja pengunjung aneh yang kalo liat satwa, ngomongnya aneh-aneh, macam:
" Yah kok tidur sih macannya?," Jelas lah, hari itu siang cerah. Lagipula itu harimau bukan macan -_-
Atau...
" Kembangin dong ekornya, " Lho, mereka kan binatang, ekornya akan dibuka nanti untuk menarik betinanya di musim kawin. Bukan untuk menarik perhatian anda -_-. Kau pikir mereka model?

Ngerti sih, maksudnya mungkin sebagian hanya gurauan tapi tetep aja bikin mikir, " apasih ni orang?".
Pengunjung kadang suka nggak terima dengan kelakuan satwa, lho -_-
Seolah merak jawa nya nggak boleh keserimpet ekornya.
Elang Laut nya nggak boleh keliatan loyo, harus tegap begitu terus. Gagah.

Tapi hari ini ada elang bondol yang nabrak kandang karena mau turun ke kolam. Dia pake acara mandi pula di kolam. Biasanya nggak.
Dua ekor merak jantan berebut perhatian seekor betina dikandang berbeda, mirip cinta segitiga.
Mereka menikmati hari ini, jadi diri mereka sebagai binatang bukan pajangan :)
Saya tergelak-gelak sendiri.

Kemudian ingat dia, partner saya. Yang kelakuannya aneh itu, iya yang aneh tapi kalau didepan orang sok cool itu.
Rasanya kadang timbul kasihan, hidupnya kaku amat -_-
Harus terlihat sempurna, atau memang dia yang mau dipandang sempurna? Ah sepertinya memang keduanya.

Memangnya nggak capek ya? Kamu pura-pura kan? Coba buka topengnya :)
No no, I'm fine. Buka aja. Kan yang boleh sempurna itu cuma Tuhan.
Memangnya kamu Tuhan? Hihihi, jangan merasa begitu. Nanti kamu capek sendiri.
Karena manusia itu hanya ciptaan, makanya nggak bisa sempurna.

Mungkin sebaiknya, kita adakan hari khusus seperti ini. Di hari seperti ini, kamu bisa melepas topeng seharian. Seharian loh :)
Kamu mau ngapain juga silahkan. Selama nggak merugikan orang lain.
Kamu nggak perlu takut kepladuk batu-jatuh-bedarah-darah.
Nggak perlu takut dipandang aneh. Karena sebetulnya setiap orang itu aneh.

Dan kamu nggak perlu bohong. Iya, bohong.
Entah kenapa partner mu ini sering merasa dibohongi.
Kalau partner sendiri saja tidak bisa kamu beri kejujuran, lantas yang mana yang kamu beri?
Kalau partner sendiri saja tidak bisa dipercaya, lantas percaya siapa?

Benar, keluarga. Betul sahabat. Tapi bukankah partner itu orang yang ada disamping mu ketika melakukan kesalahan dalam sebuah pekerjaan? Seorang partner tahu apa yang kurang baik sampai yang luar biasa dari pasangannya. Dan dia menerima nya, seperti yang sedang kulakukan.

Bagi partner mu ini, cukuplah menjadi kamu sendiri dihadapan partner mu.
Iya memang kamu lakukan, tapi...itu pun kamu lakukan setengah-setengah.
Hey, kita masih partner nggak sih? Kalau iya, jangan setengah-setengah.
Partner mu tidak butuh segala macam 'pajangan' yang melekat padamu.

Kita bikin Hari Partner saja, untuk Kamu,



Senin, 04 Agustus 2014

Mudik

Setiap setahun sekali Saya menghabiskan malam takbiran di tempat itu.
Kampung yang dihuni mayoritas muslim, di ujung jalan sana ada sebuah rumah.
Rumah khas jawa, tidak ada dinding batu bata, hanya ada kayu-kayu.
Tidak ada sekat kamar untuk tidur, hanya ada ruang tengah luas tempat karpet dan kasur digelar.
Di rumah ini, konon Ibu saya menghabiskan masa kecil nya, sebagai anak ragil.

Dulu, ada 6 orang lainnya yang menghuni rumah ini. 2 orang putra dan 4 orang putri, serta Ibu saya.
Sekarang hanya ada 2 orang renta yang tinggal disana.
Sepasang suami istri yang hanya mampu mengingat umurnya sudah lebih dari setengah abad, mungkin sudah seabad.

Tahun-tahun Lebaran yang Saya lalui dengan Mbak-Mas sepupu saya, dan adik-adik saya, bukan menikmati lengangnya Jakarta.
Kami disuguhi riuhnya rumah kayu itu dengan jumlah tamu yang datang.
Dua orang itu dianggap orang tertua yang harus dikunjungi setiap Lebaran.
Setiap hari Idul Fitri, rumah itu tidak pernah sepi.

Saya dan keluarga biasanya menjadi yang paling akhir kembali ke Jakarta.
Yang terakhir kali menikmati keadaan kampung itu setelah Lebaran, setelah ditinggal merantau lagi.
Yang tersisa hanya dua renta tadi. Beserta tetangga mereka, yang juga renta.
Mereka, renta, sendiri di rumah kayu.

Nantinya, tangan keriput itu akan kembali mengambil kayu bakar sendiri.
Kaki renta itu akan kembali menapaki jalan menuju langgar perlahan.
Rumah kayu itu kembali hanya akan sunyi.
Suara jangkrik di belakang rumah akan terdengar lebih nyaring.
Suara gesekan buluh bambu di samping rumah akan terdengar lebih mistis.

Sampai suatu kali, kembali Idul Fitri.
Rumah kayu itu kembali riuh, kembali berpenghuni.
Dua renta tadi, dan tetangga-tetangga mereka yang juga renta punya kawan lagi.

Selasa, 01 Juli 2014

Cerpen: Simpan Saja Part 1

Aku yang paling Kau cinta
Aku yang paling  Kau mau
Rahasiakan Aku sedalam-dalamnya cintamu (Sabar- Afgan)
 
Ponsel ku berdering lagi, mungkin sudah ada tulisan belasan miscall di monitor nya. Peduli setan!
Muak sudah, kuangkat saja kali ini. Nada sapa ku agak ketus.

“ Apa? Ini masih pukul tujuh pagi,”.

“ Turun dong. Aku di depan pagar,” balas suara di seberang. 
Suara bass yang selalu kurindukan. Suara berat-tenang-dalam yang memabukkan.

Aku masih mengenakan piyama biru laut ku dengan motif kepala beruang, betul-betul menunjukkan bahwa dia menganggu. Tangan ku terlipat di depan dada.

“ Ada perlu apa? Ayah dan Bunda sedang menengok Mas Rusuk di Bogor, istri nya baru saja melahirkan. Aku hanya sendiri dengan Mbok Nah. Besok siang mereka pulang, kesini besok saja.” ujar ku langsung, tak peduli ketika dia mulai menaikkan alis. Tanda bingung nya.

“ Aku tidak tanya mereka loh. Belum.” balas nya, diselingi senyum.

“ Lalu? Acara lamaran ku masih lusa, aku sudah kabari ibu mu. Kalau-kalau ibu mu mau membantu.”

“ Hmm…boleh aku masuk?,”

“ Tidak. Aku sudah di-tandai,” aku menunjukkan cincin pertunangan ku. “ Aku tidak mau calon suami ku berpikir aku murahan. Kamu tahu itu,”

“ Tapi kupikir…dia sudah tahu kalau kita berteman sejak dulu. Lagipula, aku sudah lama loh tidak pulang ke Jakarta.” Balasnya sama tenang, sama dalam. Menyebalkan, kapan sih dia bisa kehilangan control emosi jadi aku bisa tahu perasaan spontannya.

“ Hmm…,” aku terdiam, menghembuskan napas panjang. “ Aku akan pergi fitting kebaya pukul sebelas nanti. Jemput aku disini.”. Lalu aku masuk kedalam rumah. Jangan Rindang, jangan berbalik. Dia akan senang melihat mu berbalik. Pesan ku dalam hati.

“ Baik. Pukul sebelas, disini. “ katanya. Lalu pergi setelah melihat pintu tertutup.

“ Wow, apa calon suami mu meminta mu berdandan seperti ini?,” goda nya di dalam mobil ketika perjalanan menuju butik tempat ku memesan kebaya.
Aku mengenakan midi dress warna tosca dan wedges warna hitam. Rambut hitam ku, ku kuncir kuda saja. Lengkap dengan make-up minimalis, dengan sapuan lipstick warna peach.

“ Tidak. Ini keinginan ku.”

“ Wah, berarti ini khusus untuk ku?,” goda nya lagi. Aku hanya menaikkan alis, sebal.

“ Hahaha, bercanda Rindang. “

“ Utrecht tidak bisa merubah sikap mu yang menyebalkan.” balas ku datar.

“ Hmm…Jakarta juga sepertinya memberikan mu efek pengawetan ya?,”

“ Bagus kan? Aku masih ‘Aku’, ”

 “ Kamu, gadis kecil yang memukul tiap kali dijahili kakak nya, tidak pernah berubah. Pemberontak. Tidak takut apapun,” dia tersenyum, “ Sekarang yang duduk disamping ku, perempuan cantik dengan dress dan make up natural,” katanya melanjutkan. 

Aku hanya melirik nya dengan alis terangkat sebelah. 

Sapaan desainer kebaya lamaran dan pernikahan ku langsung terhenti ketika melihat Aron, nama laki-laki ini.

“ Siang Rin, apa kabar? Lho? Ini….siapa?,”
“ Oh iya tante, kenalkan ini Aron teman Rindang dan Mas Rusuk. Tetangga juga. Sedang melanjutkan S3 nya di Utrecht. Aron, ini Tante Sabrina yang mendesain kebaya ku. Aku juga dikenalkan dari Duta,”. Duta, nama calon suami ku. Aron menjabat tangan Tante Sabrina. Setelah itu, Aku digandeng menuju manekin yang dipakaikan kebaya putih gading yang lusa akan kupakai.

“ Suka Rin?,” pemilik butik itu menoleh, memandang ku.

“ Suka tante, sesuai bayangan.” Jawab ku dengan tersenyum. Aron mengamatiku yang sekarang berdiri didepan manekin, meraba-raba brokat pada kebaya.

“ Tante tinggal sebentar ya Rin, ada pelanggan lain soalnya.” Ujar nya sambil melangkah pergi kedalam ruang kerja nya yang penuh sketsa gaun dan kebaya.

“ Cantik. Desainnya nggak rumit, cocok untuk mu.” Kata Aron, setengah berbisik. Pasti tadi dia berjalan dengan sangat tenang, sampai langkah nya tidak kudengar. Aku terlonjak, kaget sampai tak mampu membalas kalimat-kalimatnya.

Aron kepada Rindang

Aku tahu ini sangat salah Rindang. Aku memang sengaja pulang disaat persiapan pernikahanmu. Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kamu membenciku. Tapi tolong jangan menghindar.

“ Tuhkan…kamu cantik banget deh Rin,” suara wanita pemilik butik ini membangunkan lamunanku. Kamu keluar dari ruang ganti dengan kebaya brokat warna putih gading. Rambut mu masih dikuncir kuda dan make-up juga belum berubah, tapi yang berdiri didepan cermin itu sekarang bukan lagi Rindang yang tadi pagi kubangunkan dari tidurnya. Sangat cantik, sangat dewasa.

“ Ini rambut nya mau gimana ya tante?,” kamu bertanya, suara mu menusuk sekali. Mengetahui bahwa kamu mempersiapkan diri, secantik ini. Tapi bukan untukku. Aku tidak memahami yang pemilik butik ini sampaikan. Apapun itu, aku sangat yakin itu akan membuat mu semakin membuat ku iri dengan Duta.
Laki-laki beruntung itu, sebetulnya baru kusadari beruntung, Duta. Yang akan resmi menjadi suamimu kira-kira sebulan lagi. 

Wajahku seperti ditampar ketika Ibu menelfon ku untuk mengabarkan kamu resmi bertunangan, dan minggu ini kamu akan mengadakan lamaran, kemudian bulan depan kamu resmi menjadi istri orang.

“ Ron, Rindang mau menikah. Kamu bisa pulang nanti? Ndak enak sama keluarganya Rindang dan Rusuk. Kan kita tetangga dekat,” kabar dari ibu langsung membuat ku hilang keseimbangan tangan.

“ Kapan Bu? Mudah-mudahan bisa. Siapa calonnya? Saya kenal dia bu?,”

“ Sekitar bulan Mei katanya. Namanya…lupa, teman kantor nya Rusuk.”

“ Oh…begitu. Nanti Saya kabari lagi bu. Mudah-mudahan Saya bisa pulang.”

“ Ya sudah, kalau bisa pulang ya. Ibu sudahi dulu, kamu hati-hati ya.” Ibu menutup sambungan. Aku memasukkan telepon saku ku kedalam kantung celana. Kemudian terbayang wajahmu. Terakhir kali aku melihat wajah dengan hidung mancung itu tiga tahun lalu. Di bandara. Saat itu, kamu berusaha keras tidak menangis.

“ Kenapa harus pergi? Bukan seperti ini caranya untuk melupakan, Aron.” Katamu waktu itu, suaramu bergetar.

“ Rindang, aku pergi bukan karena putus asa. Kamu tahu kan ini keinginan ku sendiri. Aku mendapat beasiswa S3 di Utrecht. “

“ Kalau ‘dia’ masih hidup, kamu juga tidak akan pergi kan? Sekalipun itu Utrecht. Iya kan?”. 

Saat itu aku tidak menjawab, dan kupastikan sendiri kamu tahu jawabannya. Aku pengecut sekali memang. Saat itu hatiku hancur. Tepat seminggu setelah aku melamar ‘dia’, sebuah sepeda motor menyalip sepeda motornya sampai dia jatuh terpental. Tubuh nya yang mungil terlempar ke aspal, dan tewas seketika di tempat. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya Rindang. Sangat pedih.

“ Aron, mungkin memang akan selamanya kamu menganggapku adik mu. Mungkin aku tidak pernah bisa jadi seperti ‘dia’. Tapi kamu tahu aku mencintaimu, bukan seperti cinta adik kepada abangnya. Dan aku sudah menunggu lama.”. Aku tidak mampu mengucapkan apapun, hanya mengusap kepala mu pelan. Lalu pergi. 

Sesampainya di asrama, Rusuk menelponku. Nadanya terdengar menahan sesuatu. Amarah.
“ Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi. Kalau kamu masih menganggap aku ini teman mu, tolong dengarkan dan patuhi kata-kata ku barusan.”
Karena itu, aku datang kerumah mu pagi ini. Aku tahu, Rusuk sudah pindah ke Bogor setelah pernikahannya. Dia tidak mengizinkan aku menampakkan wajah di depan pagar rumah mu. Menjaga mu supaya tidak terluka lagi, katanya. Aku juga terluka Rindang. Juga merasakan sakit nya. Bukan karena dia saja, tapi karena Kamu. Aku menyadarinya, bahkan sebelum aku resmi melamar ‘dia’. Kalau aku jatuh cinta pada adik sahabat ku, kawan main ku sejak kecil.

“ Rin, lapar nggak?,” tanya ku begitu Rindang keluar kamar ganti.

“ Nggak. “

“ Bohong ah. Pasti lapar. Atau kamu sengaja, supaya tetap terlihat ramping di hari pernikahan mu?,”

“ Nggak. Memang nggak lapar kok. “

“ Kamu takut kelihatan gemuk ya?,” ledek ku. Bukan upaya ku untuk mengajak nya makan siang. Kita butuh tempat yang lebih privasi.

“ Jangan nyebelin deh Aron, aku nggak lapar.”

“ Tapi ini sudah jam makan siang Rin. Aku lapar, boleh kan supir mu makan siang dulu?,”

“ Mau makan dimana?,” akhirnya pertanyaan itu. Aku hanya membalas dengan cengiran lebar.

Rindang kepada Aron

Apa sih mau mu Ron? Pikir ku sambil mengamati laki-laki berkacamata ini melahap bento nya.

“ Kamu nggak akan kenyang hanya dengan melihat ku Rin,”

“ Aku nggak lapar Ron, “

“ Bohong. Kita ini partner in crime kalau sudah soal makanan.”

“ Oya? Sepertinya aku sudah berhenti jadi partner mu sejak tiga tahun lalu.”

Aron berhenti mengunyah. Menatap ku dalam.
“ Biar kuhabiskan dulu makanan ku. Setelah itu, siang ini jadi milik kita.” 
Maaf? Milik kita? Ini mau mu, mengajak ku bicara dengan alasan makan siang. 

“ Mau apa sih kamu?,” tembak ku langsung. Kamu hanya menghembuskan nafas panjang, sembari duduk.
“ Pasti kamu punya tujuan kan? Setelah 3 tahun menghilang?,” Aku bahkan tidak ikut duduk di bangku taman. 

“ Aku nggak menghilang Rin,” kamu meluruskan kaki jenjang mu dari bangku taman kota.

“ Ron, aku mau menikah. Boleh kan aku bahagia?,” wajah mu menatap ku, tapi menatap lurus. Ke arah jalanan.

“ Aku nggak akan menghalangi kamu bahagia. “

“ Bagus. Jadi, bisa kita pulang sekarang?,” aku berbalik, tapi…

“ Rin, jangan. Jangan menikah dengan laki-laki itu.”

“ Maksud mu?,”

“ Maksud ku…mungkin….” 
Trrrtttt, ponsel ku berbunyi. Duta is calling, begitu tulisan di monitor.

“ Hallo, kamu masih di kantor?, “ sapa ku langsung. Aron berhenti bicara. “ Iya, tadi aku ke Tante Sabrina. Bagus deh, hihihi. Kamu cepetan fitting juga dong,”
“ He? Sendiri kok. Naik taksi ke sana.” Aron melihat ke arah ku tak percaya.
“ Ih jangan, nanti gak surprise. Ini sedikit lagi sampai rumah.”
“ Iya. Jangan lupa makan ya,” sambungan terputus.

“Kira-kira, Duta bakal cemburu sama supir taksi nggak ya?,” Aron berujar tiba-tiba, ada nada tersinggung.

“ Aron, aku mau pulang." sahut ku tak menggubris komentarnya barusan.

" Aku belum selesai bicara Rindang." ujar Aron dingin. Baru kali ini aku mendengar nada bicaranya seperti ini.

" Oke, waktu mu lima menit." kata ku tegas.

Aron hanya menatap ku, keningnya berkerut. " Penjelasan yang kamu ingin kan selama tiga tahun hanya kamu berikan waktu lima menit? Apa itu adil?,"

Aku menatapnya ganti. " Tiga tahun menghilang dan sekarang tiga hari sebelum lamaran ku kamu datang. Kamu minta keadilan? Sekarang pikir apa itu adil buat ku?," suara ku mulai bergetar. Argghhh, jangan menangis Rindang. Jangan disini...di tempat umum...memalukan.

" Rin..." Aron berdiri menghampiriku. Aku mundur selangkah.

" Cukup Aron. Dulu aku pernah membiarkan mu bahagia dengan pilihan mu, sekarang...aku mohon, aku hanya ingin bahagia bersama Duta."

" Aku memang pernah memilih bahagia dengan 'dia', pilihan ku. Tapi Duta bukan pilihan mu. Tidak sama kan?,"

Orang gila ini ngomong apa sih? Aku tidak bisa membalas kata-katanya, karena...itu benar. Aku hanya menatapnya.

" Jangan berbohong. Aku mengenal mu dari kecil, Rindang. " suaranya tenang, bukan untuk merayu. Lebih kepada meyakinkan.
" Kamu masih mencintai ku kan?,"

Kali ini dia betul-betul gila, " Memang." jawab ku tenang.

Aron tersenyum, dia membuka mulut untuk bicara, tapi
" Tapi bahkan aku tidak peduli lagi Aron. Memang aku masih mencintai mu, tapi maaf aku tidak lagi mengejar laki-laki yang mengacuhkan aku. Ada orang lain yang menunggu ku penuh cinta, lalu kenapa aku harus kembali mengejar? Aku lelah. Itu saja. Terima kasih. " aku bergegas pergi lalu memanggil taksi.

Empat puluh lima menit kemudian aku sudah berada di kamar. Menangis tanpa berganti pakaian.