Kamis, 31 Desember 2015

Jangan lagi

Tepi Jakarta yang mulai ramai, hari terakhir tahun 2015


Kepada,
Perempuan disana; diriku yang berusaha menyembuhkan luka

Aku melihatmu, menangis meringkuk di sudut kamar dengan lampu dimatikan, dan pintu tertutup.
Teriakan di lantai bawah, bercampur isak. Dan pukulan-pukulan, meja mungkin.
Suaramu tertahan. Kenapa tidak dilepaskan? Bukankah menahan air mata itu menyesakkan dada?
Komputer portable mu masih menyala, kamu tinggalkan dan memilih bersembunyi di kamar gelap dengan pintu terkunci. 

Kamu, kenapa?

***
Aku sering bangun dengan dada sesak, kepala sakit, mata sembab bengkak. Entah karena menangis semalaman atau...mimpi yang menyiksa. Yang tak kutahu apa sebabnya, kenapa mimpi-mimpi itu sering datang. Mimpi soal kehilangan. Oh...jangan lagi.

Aku terbangun dengan isak, kamar ku masih gelap, dan sendirian. Aku hanya mampu mengucap nama-Nya sembari mengusap air mata yang muncul dari mimpi, mimpi....lucu sekali. Aku bahkan bisa menangis dalam mimpi. Kemudian, aku memegangi kepala sembari meneruskan isakku, teringat lagi apa yang mimpi itu munculkan.

***
Kalau begitu jangan...Jangan menangis sendirian. Jangan menangis sambil tidur. Jangan menangis lagi dalam mimpi. Jangan menangis meringkuk dalam gelap. Jangan menangis dengan memegangi kepala seakan dunia berputar dan mendorongmu ke dinding. Jangan menangis lagi.

***
Oh...kalau saja aku bisa. Siapa yang mau jadi gila seperti itu? Siapa yang mau dalam kondisi seperti ini? Tapi memang sedang kucoba...menata hidup. Rasanya mau pergi jauh, tapi sepertinya kesakitan adalah hidup ku. Yang itu bisa diterjemahkan secara harfiah juga.

Aku bisa pusing, sesak, walaupun tidak menangis. Dan ketika menangis, rasanya bisa lebih buruk lagi. Yah...mau bagaimana. Rupanya menjadi tegar itu jauh lebih sulit.

***
Kalau begitu, menangislah. Jangan ditahan, karena itu sama sulitnya. Lagipula, siapa bilang air mata itu tanda kelemahan? Kamu bukan batu. Kalau itu memang melegakan, keluarkan saja. Menangis itu tidak dosa.

Siapa tahu, air mata bisa menyembuhkan luka...ya...siapa tahu. Kalaupun tidak, semoga bisa meringankan hati.



Dari,

Dirimu, yang sama sakitnya

Jumat, 18 Desember 2015

2013-2015

Sebetulnya udah lama mau bahas ini, tapi...
Merasa nggak enak sama orang nya, terkesan jahat. Saya cuma mau berbagi sih, yah semoga tidak menyinggung banyak pihak.

Kalau 2013 saya hampir dilaporkan ke 'meja hijau' dengan alasan pencemaran nama baik (?). Yang bahkan nama baik siapa juga saya nggak paham, wong saya nggak pernah ngapa-ngapain di medsos. Kok bisa dibilang pencemaran nama baik. Ternyata oh ternyata...mbak-mbak yang mau melaporkan ini cemburu wkwkwkw karena saya cerita ke dia, dengan tidak sengaja (karena nggak tahu), mengenai laki-laki yang saat itu sedang sering kontak dengan saya yang ternyata adalah....pacarnya mbak-mbak ini. 

Ngakak sumpah. Kenapa nggak ngaku aja sih kalau kalian pacaran? Malah main abang-adek...cih.
Giliran laki-nye deketin cewek lain situ mencak-mencak, nyalahin orang. Sudahlah ya...sudah lalu. Saya sudah minta maaf, mereka juga sudah memaafkan dan balas minta maaf. Jadi case closed.


Kemudian 2014 saya jadi pelampiasan wanita yang dinikahi siri kemudian pria nya ini justru menikahi perempuan lain (mantan istrinya) secara resmi. Dengan mengenaskan perempuan yang dinikahi siri ini ditinggal. Menyedihkan? I don't think so. Hey Wanita, seharusnya kamu tahu konsekuensi dari pernikahan siri. 


Alih-alih intropeksi diri, wanita ini malah nyalahin orang-orang. LAH -___-
Termasuk saya. Lucu kan? Nggak tahu duduk perkara, tahu-tahu kena. Sedap memang hidup.
Akhirnya, ketika wanita ini sudah sadar barulah keadaan lebih kondusif. Tapi tetap saja, kalau ingat soal pernikahan siri itu....
Dasar wanita.

Nah, tahun 2015 ini...saya bertemu dengan.....seorang...hypersex dan penderita psikoseksual. Sebetulnya pertemuan nya dari akhir 2014, tapi kami baru berkontak lagi awal 2015. Awal perkenalan kami sempat saya tulis di blog satu nya. Karena begitu berkesan.

Awal sosoknya menyenangkan. Kita, tepatnya dia, banyak bicara soal hobi travelling nya. Jalan-jalan kemana saja, hal yang menarik selama perjalanan, banyak lah.

Kemudian, di 2015 ini, kita ketemuan. Dia mau cerita soal UN dan SNMPTN, iya...usia nya jauh lebih muda. Tapi sebetulnya, dia mundur setahun. Salah satu alasannya, ya karena itu...hyper-nya dia.

Sebetulnya pertama kali ketemu itu memang ada yang aneh. Tapi bukan jenis aura jelek yang musti saya jauhi, tapi lebih karena aura nya 'mesakke' gitu. 

Dan setelah banyak ngobrol, ini-itu, ngalor-ngidul. Saya tahu, kenapa dia begitu. Semacam...Christian Grey (50 Shades of Grey). Iya saya baca dan lihat filmnya, karena semua...SEMUA orang bicarakan ini, dan saya sudah merasa cukup paham untuk tahu film apa itu. Ada untungnya juga saya lihat film itu. 

Nggak ada orang yang mau jadi hypersex, kayak Grey. Sama, dia juga punya alasan kenapa dia jadi begitu. Walaupun sampai sekarang, saya bingung, kenapa saya? 

Dia mengikuti saya sampai rumah, mencari info soal ibu dan dua adik saya. Seram...
Sya tahu sih, penyakit psikologis seperti ini memang ada, dan...nyata. Bukan cuma film. Tapi...biasanya target nya cantik, tubuh aduhai...
Lah...gua mah....remah-remah chiki chuba. Bisa apa....Makanya, aneh.

Tapi sekarang, setelah konseling (itungannya konseling kali ya), dia dapat apa yang dia mau, masuk universitas yang dia pengen. Semoga hidupnya jadi lebih tertata. Sembuh dari sakitnya. Karena...kasihan, sumpah. Kalau ada yang bisa nerawang orang, aura mereka itu gelap, menyedihkan. 

Kalau punya luka, ya diobati. Bukan dibiarkan menganga, sampai jadi busuk.

Lain kali, mungkin bakal tulis lebih soal penyakit ini. Sekarang...udahan dulu deh...

Minggu, 13 Desember 2015

Terapi Selesaaaiii Wuhuuu

Jakarta, 13 Desember 2015

Umm....duh grogi nih ahaha. Lama banget nggak posting, ya ampun Rega pemalas...
Okay, jadi selama ini (setelah posting terakhir) Saya nggak terapi obat, seriussss. Keren ya? Ahah
Makanya nggak nulis. Pengganti nya, Saya terapi akupunktur itu. Karena terapi itu seminggu sekali, selama 12 kali berturut-turut, males aja gitu musti nulis karena sebetulnya nggak tahu mau laporan apa....
Akhirnya kepikiran buat posting di terapi ke-12. Yak itu hari ini hohoho

1. Sebetulnya nggak murni berhenti ngobat. Beberapa kali Saya tetap konsumsi Hapsen dan Nitrokaf. Obat itu hanya Saya minum kalau: dehidrasi sampai mau pingsan wkwk, kepanasan, sama terlalu capek. Oh...dan PMS. Tapi biasanya cuma seminggu sekali gitu minum nya.

Misalnya waktu ikut ke Bandung Selatan sama Mas Kris dkk, balik dari hutan tahu-tahu nyesek gitu. Mungkin karena dari hutan (teduh) ke camp (nggak ada teduhan), dan kurang minum juga, gak berasa kurang minum karena di hutan teduh....lembap aja gitu. Begitu keluar hutan, dhuar...keliyengan. Langsung ambil Nitrokaf, minum, tarik nafas. Nggak lama, kita balik. Trus, Mas Kris sempet beli durian juga kan. Kayaknya sih, memang darah rendah nya kambuh juga. Begitu selesai makan, Saya tepar di mobil wkwkwk. Tapi begitu bangun, kepala sudah nggak pusing dan cardio nya juga nggak berdebar lagi :)

Saya merasa makin pintar sih *ahahah apaansiii Ga...
Begitu ngerasa ada yang aneh dikit, langsung minum. Itu penting banget sih, air putih.
Yah karena tubuh ini sangat mudah dehidrasi, dan tahu penyebab dehidrasi nya itu karena apa dan efeknya apa.

2. Karena ini akupunktur, jadi banyak titik-titik akupunktur yang juga jadi sasaran huhu
Gimana rasanya? Sakit. Ngilu-ngilu sedap. Titik-titik yang dituju itu titik jantung, hati, lambung, paru-paru, ginjal, dan ovarium.
Jantung: Karena well you know it...
Hati (hepar): Ada pengaruhnya dari dan ke jantung
Lambung: Pencernaan nya dibenerin supaya badan saya berisi, udah keliatan berisi belom? T__T
Paru-paru: Dikuatin aja supaya kalo ada cairan yang masuk nggak bikin edema paru (sumpah ini sok tahu wekaweka)
Ginjal: Karena terlalu lama dan banyak ngobat pinggang jadi sering sakit, mikirnya pegel gitu awalnya. Tapi kayaknya bukan jenis pegel otot, ternyata eh ternyata...ginjal nya kerja keras selama ini.
Ovarium: Karena sering sakit kalo PMS, kayak mau pingsan. Paradah....

Karena hepar juga jadi sasaran, kalo abis begadang gitu suka sakit titik hepar nya. Jadi memang selama terapi nggak berani begadang sering-sering. Sakit sumpah. Paling lama jam 11 malam udah tidur. Karena nggak bisa juga begadang wkwkwk. Awal terapi itu, efeknya ngantuk parah sama pusing. Bah kacau...awalnya nggak tau. Pas bawa motor keliyengan, alhamdulillah gak napa-napa.

Terus...ginjalnya udah nggak sakit lagi. Nah, ini yang cakep. Kalo lagi menstruasi, nggak pake keringet dingin lagi. Tetep sakit sih, tapi better than before. Serius, malah bulan ini tau-tau aja gitu mens nya.

Yang ngeri kalo pas lagi jelek badannya. Kenapa? Nyetrum broo.
Terapi ke 7-10 Saya sampai nangis wkwkw. Pas jarum nya itu ditusuk di titik jantung, langsung nyetrum. Bah....nangis guah.

Sedih banget, kalo nangis nggak bisa apa-apa karena tangan di tusuk juga. Yang ngelap air matanya mbak terapis nya huhu. Malu sih tapi gimana dong. Nyetrum kan jadi kaget. Mbak nya juga sampai bilang, listrik yang di badan Saya tinggi, jadi dia sering kena setrum kalo nusuk.

3. Kadang, ada pasien dengan keadaan jauh lebih buruk. Ada satu pasien, cowok, umur 17 tahun, lupus keturunan dari alm,ayahnya. Pernah satu kali, kita barengan terapi nya. Dari ruang sebelah, dia teriak gitu...kasian.

Minggu sebelumnya, saya diantar Ibu. Dia sempet ngobrol sama Ibu dan ditanyain soal terapi.
" Katanya nggak sakit lho Ga, yang lupus itu,"
" Tapi pas kemaren bareng dia teriak bu, dia bilang nggak sakit pasti karena sakitnya tusuk jarum masih lebih mending dibanding efek lupusnya dia."

Well, malu sih. Masih suka ngeluh, masih suka maksiat, padahal....Allah nggak akan ngasih ujian melebihi apa yang bisa kita hadapi. Bahkan ketika kita sakit, itu jadi pengurang dosa selama kita ikhlas. Duh malu pokonya mah....

4. Nggak bisa bohong. Kalo terapi obat, tiap kontrol Cardioman cuma nanya dan Saya jawab sekedar. Kesannya...baik-baik aja badannya sekalipun lagi sesak.

Terapi ini nggak bisa bohong, beneran. Saya bisa bilang, nyesek dikit. Tapi semua titik jantung nya ngilu dan nyetrum. Hafftt

5. Titik-titik tujuan.
Di tangan ada 4x2 = 8.
Di kaki ada 5x2 = 10.
Di punggung ada 4x2 = 8.
Dan nggak sekaligus, 15 menit pertama ada berapa titik, terus lanjut 15 titik berikutnya. Terus selesai dicabut, bagian punggung 15 menit.

6. Hasilnya...
Day by day I'm getting stronger hoho. Naik tangga nggak ngos-ngosan lagi. Tapi belum coba naik gunung lagi sih ahah.
Tensi juga makin bagus. Awal kesana rendah cuma 90/60, mikirnya memang darah rendah. Denyut nadi nya 60, dibawah normal (katanya).
Nah hari ini, tensi 110/80 (normal) denyut nadi 80 (normal).

Setalah 12x ini, Saya nggak kesana seminggu sekali lagi. Tapi kalau berasa nyesek ya...mending ini daripada ngobat lagi.

Rencananya tahun depan mau ECG lagi, buat lihat hasil denyutnya, aritmik atau sudah lebih baik. Gitu. Yeay....selesaaaiiii..

Masa-masa galau pasca tusuk jarum, serius...kalo abis tusuk jarum kayak lemes banget gitu. Dan sakit kan bekas tusuk nya, jadi ngerasa butuh suami. EHEM...kode...siape yang dikode juga gak ada wkwk. Kayak butuh orang buat nenangin Sya gitu sih ahaha pansik...yagitulah...

Udahan dulu lan ya, efek terapi nya mulai berasa. Jam 9 malam udah teler wkwkw