Selasa, 01 Juli 2014

Cerpen: Simpan Saja Part 1

Aku yang paling Kau cinta
Aku yang paling  Kau mau
Rahasiakan Aku sedalam-dalamnya cintamu (Sabar- Afgan)
 
Ponsel ku berdering lagi, mungkin sudah ada tulisan belasan miscall di monitor nya. Peduli setan!
Muak sudah, kuangkat saja kali ini. Nada sapa ku agak ketus.

“ Apa? Ini masih pukul tujuh pagi,”.

“ Turun dong. Aku di depan pagar,” balas suara di seberang. 
Suara bass yang selalu kurindukan. Suara berat-tenang-dalam yang memabukkan.

Aku masih mengenakan piyama biru laut ku dengan motif kepala beruang, betul-betul menunjukkan bahwa dia menganggu. Tangan ku terlipat di depan dada.

“ Ada perlu apa? Ayah dan Bunda sedang menengok Mas Rusuk di Bogor, istri nya baru saja melahirkan. Aku hanya sendiri dengan Mbok Nah. Besok siang mereka pulang, kesini besok saja.” ujar ku langsung, tak peduli ketika dia mulai menaikkan alis. Tanda bingung nya.

“ Aku tidak tanya mereka loh. Belum.” balas nya, diselingi senyum.

“ Lalu? Acara lamaran ku masih lusa, aku sudah kabari ibu mu. Kalau-kalau ibu mu mau membantu.”

“ Hmm…boleh aku masuk?,”

“ Tidak. Aku sudah di-tandai,” aku menunjukkan cincin pertunangan ku. “ Aku tidak mau calon suami ku berpikir aku murahan. Kamu tahu itu,”

“ Tapi kupikir…dia sudah tahu kalau kita berteman sejak dulu. Lagipula, aku sudah lama loh tidak pulang ke Jakarta.” Balasnya sama tenang, sama dalam. Menyebalkan, kapan sih dia bisa kehilangan control emosi jadi aku bisa tahu perasaan spontannya.

“ Hmm…,” aku terdiam, menghembuskan napas panjang. “ Aku akan pergi fitting kebaya pukul sebelas nanti. Jemput aku disini.”. Lalu aku masuk kedalam rumah. Jangan Rindang, jangan berbalik. Dia akan senang melihat mu berbalik. Pesan ku dalam hati.

“ Baik. Pukul sebelas, disini. “ katanya. Lalu pergi setelah melihat pintu tertutup.

“ Wow, apa calon suami mu meminta mu berdandan seperti ini?,” goda nya di dalam mobil ketika perjalanan menuju butik tempat ku memesan kebaya.
Aku mengenakan midi dress warna tosca dan wedges warna hitam. Rambut hitam ku, ku kuncir kuda saja. Lengkap dengan make-up minimalis, dengan sapuan lipstick warna peach.

“ Tidak. Ini keinginan ku.”

“ Wah, berarti ini khusus untuk ku?,” goda nya lagi. Aku hanya menaikkan alis, sebal.

“ Hahaha, bercanda Rindang. “

“ Utrecht tidak bisa merubah sikap mu yang menyebalkan.” balas ku datar.

“ Hmm…Jakarta juga sepertinya memberikan mu efek pengawetan ya?,”

“ Bagus kan? Aku masih ‘Aku’, ”

 “ Kamu, gadis kecil yang memukul tiap kali dijahili kakak nya, tidak pernah berubah. Pemberontak. Tidak takut apapun,” dia tersenyum, “ Sekarang yang duduk disamping ku, perempuan cantik dengan dress dan make up natural,” katanya melanjutkan. 

Aku hanya melirik nya dengan alis terangkat sebelah. 

Sapaan desainer kebaya lamaran dan pernikahan ku langsung terhenti ketika melihat Aron, nama laki-laki ini.

“ Siang Rin, apa kabar? Lho? Ini….siapa?,”
“ Oh iya tante, kenalkan ini Aron teman Rindang dan Mas Rusuk. Tetangga juga. Sedang melanjutkan S3 nya di Utrecht. Aron, ini Tante Sabrina yang mendesain kebaya ku. Aku juga dikenalkan dari Duta,”. Duta, nama calon suami ku. Aron menjabat tangan Tante Sabrina. Setelah itu, Aku digandeng menuju manekin yang dipakaikan kebaya putih gading yang lusa akan kupakai.

“ Suka Rin?,” pemilik butik itu menoleh, memandang ku.

“ Suka tante, sesuai bayangan.” Jawab ku dengan tersenyum. Aron mengamatiku yang sekarang berdiri didepan manekin, meraba-raba brokat pada kebaya.

“ Tante tinggal sebentar ya Rin, ada pelanggan lain soalnya.” Ujar nya sambil melangkah pergi kedalam ruang kerja nya yang penuh sketsa gaun dan kebaya.

“ Cantik. Desainnya nggak rumit, cocok untuk mu.” Kata Aron, setengah berbisik. Pasti tadi dia berjalan dengan sangat tenang, sampai langkah nya tidak kudengar. Aku terlonjak, kaget sampai tak mampu membalas kalimat-kalimatnya.

Aron kepada Rindang

Aku tahu ini sangat salah Rindang. Aku memang sengaja pulang disaat persiapan pernikahanmu. Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kamu membenciku. Tapi tolong jangan menghindar.

“ Tuhkan…kamu cantik banget deh Rin,” suara wanita pemilik butik ini membangunkan lamunanku. Kamu keluar dari ruang ganti dengan kebaya brokat warna putih gading. Rambut mu masih dikuncir kuda dan make-up juga belum berubah, tapi yang berdiri didepan cermin itu sekarang bukan lagi Rindang yang tadi pagi kubangunkan dari tidurnya. Sangat cantik, sangat dewasa.

“ Ini rambut nya mau gimana ya tante?,” kamu bertanya, suara mu menusuk sekali. Mengetahui bahwa kamu mempersiapkan diri, secantik ini. Tapi bukan untukku. Aku tidak memahami yang pemilik butik ini sampaikan. Apapun itu, aku sangat yakin itu akan membuat mu semakin membuat ku iri dengan Duta.
Laki-laki beruntung itu, sebetulnya baru kusadari beruntung, Duta. Yang akan resmi menjadi suamimu kira-kira sebulan lagi. 

Wajahku seperti ditampar ketika Ibu menelfon ku untuk mengabarkan kamu resmi bertunangan, dan minggu ini kamu akan mengadakan lamaran, kemudian bulan depan kamu resmi menjadi istri orang.

“ Ron, Rindang mau menikah. Kamu bisa pulang nanti? Ndak enak sama keluarganya Rindang dan Rusuk. Kan kita tetangga dekat,” kabar dari ibu langsung membuat ku hilang keseimbangan tangan.

“ Kapan Bu? Mudah-mudahan bisa. Siapa calonnya? Saya kenal dia bu?,”

“ Sekitar bulan Mei katanya. Namanya…lupa, teman kantor nya Rusuk.”

“ Oh…begitu. Nanti Saya kabari lagi bu. Mudah-mudahan Saya bisa pulang.”

“ Ya sudah, kalau bisa pulang ya. Ibu sudahi dulu, kamu hati-hati ya.” Ibu menutup sambungan. Aku memasukkan telepon saku ku kedalam kantung celana. Kemudian terbayang wajahmu. Terakhir kali aku melihat wajah dengan hidung mancung itu tiga tahun lalu. Di bandara. Saat itu, kamu berusaha keras tidak menangis.

“ Kenapa harus pergi? Bukan seperti ini caranya untuk melupakan, Aron.” Katamu waktu itu, suaramu bergetar.

“ Rindang, aku pergi bukan karena putus asa. Kamu tahu kan ini keinginan ku sendiri. Aku mendapat beasiswa S3 di Utrecht. “

“ Kalau ‘dia’ masih hidup, kamu juga tidak akan pergi kan? Sekalipun itu Utrecht. Iya kan?”. 

Saat itu aku tidak menjawab, dan kupastikan sendiri kamu tahu jawabannya. Aku pengecut sekali memang. Saat itu hatiku hancur. Tepat seminggu setelah aku melamar ‘dia’, sebuah sepeda motor menyalip sepeda motornya sampai dia jatuh terpental. Tubuh nya yang mungil terlempar ke aspal, dan tewas seketika di tempat. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya Rindang. Sangat pedih.

“ Aron, mungkin memang akan selamanya kamu menganggapku adik mu. Mungkin aku tidak pernah bisa jadi seperti ‘dia’. Tapi kamu tahu aku mencintaimu, bukan seperti cinta adik kepada abangnya. Dan aku sudah menunggu lama.”. Aku tidak mampu mengucapkan apapun, hanya mengusap kepala mu pelan. Lalu pergi. 

Sesampainya di asrama, Rusuk menelponku. Nadanya terdengar menahan sesuatu. Amarah.
“ Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi. Kalau kamu masih menganggap aku ini teman mu, tolong dengarkan dan patuhi kata-kata ku barusan.”
Karena itu, aku datang kerumah mu pagi ini. Aku tahu, Rusuk sudah pindah ke Bogor setelah pernikahannya. Dia tidak mengizinkan aku menampakkan wajah di depan pagar rumah mu. Menjaga mu supaya tidak terluka lagi, katanya. Aku juga terluka Rindang. Juga merasakan sakit nya. Bukan karena dia saja, tapi karena Kamu. Aku menyadarinya, bahkan sebelum aku resmi melamar ‘dia’. Kalau aku jatuh cinta pada adik sahabat ku, kawan main ku sejak kecil.

“ Rin, lapar nggak?,” tanya ku begitu Rindang keluar kamar ganti.

“ Nggak. “

“ Bohong ah. Pasti lapar. Atau kamu sengaja, supaya tetap terlihat ramping di hari pernikahan mu?,”

“ Nggak. Memang nggak lapar kok. “

“ Kamu takut kelihatan gemuk ya?,” ledek ku. Bukan upaya ku untuk mengajak nya makan siang. Kita butuh tempat yang lebih privasi.

“ Jangan nyebelin deh Aron, aku nggak lapar.”

“ Tapi ini sudah jam makan siang Rin. Aku lapar, boleh kan supir mu makan siang dulu?,”

“ Mau makan dimana?,” akhirnya pertanyaan itu. Aku hanya membalas dengan cengiran lebar.

Rindang kepada Aron

Apa sih mau mu Ron? Pikir ku sambil mengamati laki-laki berkacamata ini melahap bento nya.

“ Kamu nggak akan kenyang hanya dengan melihat ku Rin,”

“ Aku nggak lapar Ron, “

“ Bohong. Kita ini partner in crime kalau sudah soal makanan.”

“ Oya? Sepertinya aku sudah berhenti jadi partner mu sejak tiga tahun lalu.”

Aron berhenti mengunyah. Menatap ku dalam.
“ Biar kuhabiskan dulu makanan ku. Setelah itu, siang ini jadi milik kita.” 
Maaf? Milik kita? Ini mau mu, mengajak ku bicara dengan alasan makan siang. 

“ Mau apa sih kamu?,” tembak ku langsung. Kamu hanya menghembuskan nafas panjang, sembari duduk.
“ Pasti kamu punya tujuan kan? Setelah 3 tahun menghilang?,” Aku bahkan tidak ikut duduk di bangku taman. 

“ Aku nggak menghilang Rin,” kamu meluruskan kaki jenjang mu dari bangku taman kota.

“ Ron, aku mau menikah. Boleh kan aku bahagia?,” wajah mu menatap ku, tapi menatap lurus. Ke arah jalanan.

“ Aku nggak akan menghalangi kamu bahagia. “

“ Bagus. Jadi, bisa kita pulang sekarang?,” aku berbalik, tapi…

“ Rin, jangan. Jangan menikah dengan laki-laki itu.”

“ Maksud mu?,”

“ Maksud ku…mungkin….” 
Trrrtttt, ponsel ku berbunyi. Duta is calling, begitu tulisan di monitor.

“ Hallo, kamu masih di kantor?, “ sapa ku langsung. Aron berhenti bicara. “ Iya, tadi aku ke Tante Sabrina. Bagus deh, hihihi. Kamu cepetan fitting juga dong,”
“ He? Sendiri kok. Naik taksi ke sana.” Aron melihat ke arah ku tak percaya.
“ Ih jangan, nanti gak surprise. Ini sedikit lagi sampai rumah.”
“ Iya. Jangan lupa makan ya,” sambungan terputus.

“Kira-kira, Duta bakal cemburu sama supir taksi nggak ya?,” Aron berujar tiba-tiba, ada nada tersinggung.

“ Aron, aku mau pulang." sahut ku tak menggubris komentarnya barusan.

" Aku belum selesai bicara Rindang." ujar Aron dingin. Baru kali ini aku mendengar nada bicaranya seperti ini.

" Oke, waktu mu lima menit." kata ku tegas.

Aron hanya menatap ku, keningnya berkerut. " Penjelasan yang kamu ingin kan selama tiga tahun hanya kamu berikan waktu lima menit? Apa itu adil?,"

Aku menatapnya ganti. " Tiga tahun menghilang dan sekarang tiga hari sebelum lamaran ku kamu datang. Kamu minta keadilan? Sekarang pikir apa itu adil buat ku?," suara ku mulai bergetar. Argghhh, jangan menangis Rindang. Jangan disini...di tempat umum...memalukan.

" Rin..." Aron berdiri menghampiriku. Aku mundur selangkah.

" Cukup Aron. Dulu aku pernah membiarkan mu bahagia dengan pilihan mu, sekarang...aku mohon, aku hanya ingin bahagia bersama Duta."

" Aku memang pernah memilih bahagia dengan 'dia', pilihan ku. Tapi Duta bukan pilihan mu. Tidak sama kan?,"

Orang gila ini ngomong apa sih? Aku tidak bisa membalas kata-katanya, karena...itu benar. Aku hanya menatapnya.

" Jangan berbohong. Aku mengenal mu dari kecil, Rindang. " suaranya tenang, bukan untuk merayu. Lebih kepada meyakinkan.
" Kamu masih mencintai ku kan?,"

Kali ini dia betul-betul gila, " Memang." jawab ku tenang.

Aron tersenyum, dia membuka mulut untuk bicara, tapi
" Tapi bahkan aku tidak peduli lagi Aron. Memang aku masih mencintai mu, tapi maaf aku tidak lagi mengejar laki-laki yang mengacuhkan aku. Ada orang lain yang menunggu ku penuh cinta, lalu kenapa aku harus kembali mengejar? Aku lelah. Itu saja. Terima kasih. " aku bergegas pergi lalu memanggil taksi.

Empat puluh lima menit kemudian aku sudah berada di kamar. Menangis tanpa berganti pakaian.