Selasa, 16 September 2014

Tuhan, maaf aku belum bisa...

Jakarta, 17 September 2014
Dinihari, tengah malam lewat 6 menit di tempatku menulis ini.

Ditempat-Mu melihatku

Tuhan, aku mau tanya; Kenapa sih hidup Pak Mario sepertinya bahagia sekali? Sampai-sampai dia bisa jadi motivator. Kenapa juga ada orang-orang yang pernah jadi motivator karena pengalaman hidupnya, kemudian dia berubah jadi orang yang perlu dimotivasi?

Itu namanya hidup ya? Baiklah.

Suatu kali, Pak Mario dan Bang Tere Liye update status di Page mereka masing-masing. Menggunakan bahasa yang berbeda; Pak Mario dengan gaya bahasa nya yang tenang, Bang Tere dengan gaya bahasanya yang frontal. Keduanya bermakna sama;

Memaafkan kesalahan orang lain, akan membuat hidup kita lebih bahagia. Acuhkan saja apa kata orang yang tidak suka dengan kita, jalani hidup kita dengan baik, itu lebih layak diperjuangkan.
(Saya yang menyimpulkan)

Aku agak tersinggung. Sudahkan mereka merasakan kondisi titik nol di hidup mereka? Seperti apa sih titik nol bagi Pak Mario? Kayak apa sih titik jatuh bagi Bang Tere?
Kenapa begitu mudah mereka menulis begitu?

Iya betul, memaafkan itu mudah. Melupakan yang sulit. Ada lagi yang bilang, " Memaafkan itu mengalah tanpa kalah."

Karena apa? Cuma orang yang punya kebesaran jiwa yang mau memaafkan orang lain. Berbesar hati mau memaklumi, bahwa setiap orang itu wajar melakukan kesalahan. Yang nggak wajar itu sudah diberitahu tapi nggak sadar.

Tuhan, aku sudah disakiti. Berkali-kali. Kau tahu sendiri.
Ada malam-malam yang kuisi hanya dengan airmata dan sengukan.
Ada malam-malam yang kuisi dengan membasahi sajadah dan mukena.
Ada...

Bahkan ada saat ketika aku hilang sabar dan akhirnya bilang, " Ya Allah, Rega nggak sanggup. Bapak, kenapa pergi cepet banget sih? Rega nggak sekuat itu Pak,".

Ada waktu ketika aku hilang iman, dan membuang apa yang tidak seharusnya kubuang. Lalu berharap menjadi rusak selayaknya manusia buangan.

Sampai rasanya malu. Malu untuk menemui-Mu. Karena terlalu lemah jiwa ku, juga fisik ku. Karena terlalu banyak yang aku keluhkan. Padahal, apa yang kurang dari karunia-Mu?

Tuhan, manusia satu ini memang layak dapat teguran. Tapi jangan kejam-kejam, aku takut nggak sanggup.

Berangkat dari situ, aku memutuskan berhenti jadi makhluk keras kepala, berhenti jadi manusia pendendam. Aku memaafkan partner ku. Memang bukan permintaan maaf secara langsung, tapi aku mulai berkomunikasi lagi selayaknya dulu. Kuanggap konflik kami selesai. Kemudian, aku akhirnya mengirim ucapan maaf untuk nya, dan dunianya.

Permulaan yang bagus dengan partner.
Batu ini mulai lunak, mulai terbentuk cekungan.
Tuhan, aku mau sholat taubah. Tapi aku tidak tahu 'cara' nya.
Cara memaafkan, yang betul-betul maaf. Tanpa perlu lagi kuingat perkaranya.
Sehingga kalau ada yang menyebut namanya, hati ku tidak lagi bergemuruh. Tangan ku tidak lagi terkepal, kesal.
Memaafkan mereka, tidak semudah memaafkan partner ku.

Memaafkan itu sulit Tuhan. Sungguh. Aku takut, sungguhan takut. Kalau nanti, aku melakukan sholat taubah, aku masih mengungkit perkara-perkara itu lagi. Aku masih mau memukuli wajah mereka, dan membiarkan mereka merasakan apa yang dulu pernah mereka lakukan pada anak perempuan yang baru saja ditinggal meninggal Bapaknya. Tidak kah mereka berpikir, aku baru saja berduka? Kenapa mereka begitu tega? Makanya kubilang sulit.

Ini hidup bukan? Baiklah. Tuhan, aku belum sanggup sholat taubah. Sejauh ini, anggaplah aku sudah memaafkan mereka. Tapi entah apa yang akan kulakukan kalau bertatap muka.

Tuhan, perempuan ini masih memendam luka.
Tuhan, perempuan ini masih berpura-pura dengan senyumannya.
Tuhan, maafkan kalau aku banyak meminta.
Tabahkan aku, lapangkan hati perempuan ini, aku tidak mau lagi jadi pendendam.
Aku lelah jadi gadis keras kepala, tapi apa daya toh aku juga manusia.

Tuhan, aku tidur ya.