Sabtu, 09 Maret 2013

Kontrol Bagian I

Jadi, ehem, ini kali pertama Saya datang ke rumah sakit untuk kontrol. Oke, dan ini akan berlanjut untuk bulan berikutnya...dan berikutnya....dan...yasudahlah...

Tablet obat Saya sudah tinggal 2, yeyeyeye. dari umm gak ngitung awalnya berapa. Pokoknya itu obat untuk sebulanan dan di minum setiap hari.

" Misi Dok, " sapa Saya pagi tadi, tepatnya pagi menjelang siang. Saya mendapat urutan ke-8 hari ini.
" Ya silahkan, " Saya akui. Saya suka dengan dokter ini. Beliau ramah, dan yah santai. Namanya Dr. Zaini. Beliau kardiologi, yang menurut Saya, paling laris di rumah sakit Meilia. Konon, beliau dokter yang paling banyak pasiennya. Sekarang Saya tahu kenapa.
" Silahkan berbaring, ". Saya langsung menuju tempat pemeriksaan. Jadi, dokter ini langsung memasukkan 2 pasien sekaligus dalam satu ruang praktek. Karena disitu ada 2 ruang periksa dengan ranjang masing-masing. Makanya, kami harus menebak-nebak. Kira-kira beliau ngobrol sama siapa ya? atau malah sama asisten perawatnya?.

Beliau langsung mengeluarkan stetoskopnya, dan menempatkan lingkaran itu di dada kiri saya.
" Wah masih kencang juga ya, ".
" Kamu suka ngerasain debarannya?, " tanya dokter.
" Umm udah nggak terlalu dok, "
" Kalau tidur miring?, "
" Kadang suka kedengaran debarannya dok di kuping kiri, "
Dokter hanya menggangguk. " Iya, masih kencang, ". Lalu kami pindah ngobrol di meja. Disamping Saya ada Pakde aji.
" Obatnya masih ada?"
" Tinggal 2 tablet dok, "
" Tepat perhitungan. Oh iya, kalau masih kencang seperti ini, kamu boleh minum 2 kali sehari, setengah tablet. Kalau sudah baikan, 1 kali aja, " terangnya.
" Iya dok, ".
Beliau masih menulis di map rekam medis saya lalu beralih menulis resep. Kadang menanggapi pertanyaan perawat.

" Umm dok, saya masih boleh naik gunung kan?, " akhirnya pertanyaan itu keluar. Beliau berhenti menulis. Lalu melihat Saya dengan air wajah heran.
" Kamu suka naik gunung?, "
" Iya, " jawab saya singkat.
" Kalau nggak nyesek, ya nggak apa-apa, ". Dok, please banget itu jawaban gak membantu -_-
Saya juga tau kalo itu mah.
" Waktu kemarin Saya ke Merbabu, nggak apa-apa sih Dok, " ujar Saya kembali meyakinkan wajah "kamu yakin bisa naik gunung?".
" Merbabu itu diatas 3100 mdpl dok, kalau Saya naik diatas 3200 gimana dok?, "
" Makin keatas kan oksigen makin sedikit, "
" Iya dok saya tahu, makanya saya nanya, "
" Hehehe, " beliau malah nyengir -_-
" Kalau naik gunung itu berapa jam?, " beliau malah nanya.
" Tergantung dok. Kemarin Saya 5 jam sampai tempat camp, 5 jam lagi sampe puncak, "
" Kalau turun 5 jam juga ?, " wah ini dokter kepo.
" Kalau turun, setengah nya Dok, jadi mungkin 2,5 jam-3 jam, "
" Oh..makannya gimana? makan apa?, " tambah kepo, apalagi beliau mulai berhenti menulis. Asisten perawat di samping dokter itu pun ikut mendengarkan. Ditambah pakde juga ikut menambahkan.
" Mie instan dong. Semua yang bisa dimasak instan. Pakai kompor kecil. "
" Ada air?. "
" Tergantung. Kemarin camp nya ada air, ".
 MUKANYA KEPOOOOOOO MEEEEEEEN. UDAH GITU DIA SENYUM-SENYUM HADAAAAH.
" Kalau mau ke kamar mandi?, ". Saya menelan ludah, ini bakal sulit dijelaskan --"
untungnya beliau langsung menambahkan, " Kalau sholat? wudhu nya?, "
" Kalau nggak ada air, tayamum Dok. Kalau ada air ya wudhu biasa. Sholat nya di dalam tenda." akhir saya.
" Merbabu itu di..."
" Jawa tengah dok, " kali ini pakde yang jawab.
" Waahh, ahahah, " ini orang heboh amaaat --"
Beliau menyerahkan map rekam medis untuk di berikan di kasir dan resep obat.
" Oh iya, kamu tinggal di Jakarta?, "
" Iya dok, " pakde juga yang jawab.
" Jadi, kalau mau mendaki aja kamu ke jawa?, "
" Iya, hehe" Saya menambah cengiran dalam jawaban Saya.
" Gunung apa tuh yang dekat sini, yang di...aduh apa itu namanya.."
" Gede-Pangrango dok, " pakde yang jawab.
" Iya itu. Sudah pernah? "
" Sudah juga Dok, " jawab Saya singkat. Beliau hanya tersenyum.

Jadi, kesimpulan pertanyaan, " Dok, saya masih boleh naik gunung kan?, " itu apa? -__________-
Sepertinya, selama beliau berprofesi sebagai spesialis jantung, dan merawat pasien yang kondisinya seperti Saya, atau pasien lain. Tidak ada yang jadi pendaki, atau coba-coba naik gunung. Apalagi dengan kondisi jantung yang tidak seperti orang lain yang fisiologis nya bisa normal.

Yah begitulah kontrol hari ini. Kita lihat kondisi bulan depan yaa :)

Selasa, 05 Maret 2013

Saya kenapa ya?

Sekitar 3 minggu lalu, tepatnya Selasa 12 Februari 2013. Ini hari kedua di semester 4 ini, tapi saya sudah izin tidak masuk. Sejak pulang dari Suaka Elang untuk pelantikan, dada saya sesak lagi. Sebelumnya, hari Jumat sepertinya saya mengalami serangan. Dada sebelah kiri saya tiba-tiba sakit. Saat itu saya sedang turun menuju aula dari tempat camping. Tapi saya abaikan, seperti biasanya. Nyatanya, setelah saya sampai di rumah, sesak itu berkelanjutan. Hari Senin, saya masih pergi ke kampus. Hari pertama kuliah, saya harus masuk dulu pikir saya. Saya pikir sesak ini hanya karena saya kelelahan. Tapi, sampai Selasa sesaknya tidak kunjung membaik. Saya yang sudah siap-siap kuliah pagi itu tiba-tiba memutuskan untuk tidak pergi ke kampus. Akhirnya hari itu saya pergi ke kardiologi di sebuah rumah sakit di jalan alternatife cibubur. Saya teringat ucapan sepupu saya, seorang perawat, " Sakit jantung itu tidak bisa di prediksi kalo gak lagi sakit, ". Oke, mumpung masih sakit. Saya harus tahu, Saya ini kenapa?


Sebetulnya, saya sudah pernah periksakan keluhan saya ini. Waktu itu saya kelas 11, saya masih memakai seragam rok abu-abu saya duduk di ruang tunggu di depan ruang internist. Saya juga bingung, kenapa saya dibawa ke internist, padahal saya sudah bilang kalau yang sakit itu dada sebelah kiri. Sakitnya sampai ke punggung. Saat sedang duduk pun nafas saya seperti selesai berlari berkeliling lapangan sekolah. Dan parah nya, saya sampai kehilangan fokus saat guru fisika saya sedang menjelaskan Termodinamika. Saya sadar, mata saya terbuka saya bisa melihat guru saya berdiri di depan papan tulis, menulis sebuah rumus dasar. Tapi saya tidak bisa mendengar apapun, dan nafas saya terengah-engah.

Saya masuk ke dalam ruangan, ibu dan istri sepupu saya ikut masuk menemani. Istri sepupu saya ini juga seorang perawat. Saya pikir, dia nantinya bisa membantu mendiagnosis 'Saya kenapa?'. Saya diminta menjelaskan keluhan saya, setelah itu saya di EKG di ruang Kardiologi. Hasil EKG mengejutkan, nadi saya tidak teratur. Internist itu membaca hasil EKG, lalu menyimpulkan sesuatu.
" Ah nggak papa, baru satu kok,"
" Tapi nggak teratur Dok, " kata istri sepupu saya.
" Nggak papa. Ini tinggal sugesti kamu. Asal kamu nggak stress gak apa-apa kok. Ini bisa jadi karena katup jantung kamu lemah, jadi "plak-plak" begitu, tapi gapapa kok,"
" Ohh saya pikir emfisema dok hahhahaha, " ucap istri sepupu saya sambil meledek tertawa.
Semacam, mereka berpikir saya dan ibu saya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Kalau mau kasar, saya akan bilang. " Lo pikir gua tolol apa? Bego ya lo? Yang sakit itu dada sebelah kiri. Emfisema itu penyakit paru-paru, bukan jantung. Yang salah itu ada di jantung gue, nadi gue ga teratur. Jadi mana ada hubungannya sama paru-paru, BEGO!"

Selama 4 tahun, saya percaya pada kata-kata "SUGESTI". Tidak ada diagnosa pasti, tidak ada obat. Ibu saya yang sangat mempercayai orang lain, kadang-kadang, dibanding anak sendiri. Selalu bilang kalau saya kelelahan, ketika saya sesak nafas. Walaupun saya pernah mengalami serangan jantung. Jantung saya tiba-tiba seperti di tekan kencang, sakit dan sesak. Setelah itu bagian tubuh sebelah kiri saya sakit, sampai ujung kaki. Rasanya pegal, saya hanya membalurkan minyak kayu putih waktu itu.

Tapi sisi baiknya, saya akhirnya berani mengambil keputusan untuk mendaki gunung. Impian saya sejak SMP, melihat dunia dari atas. Walaupun ada yang lebih atas. Saya sudah sampai di Gn.Gede, Gn.Merbabu, dan Gn. Merapi.

Saya pun mendapat jawaban pasti dari kardiolog di rumah sakit yang sama. Saya di EKG ulang, karena hasil EKG sebelumnya hilang. Kardiolog itu membaca, dan menunjukkan kalau "memang" ada yang aneh.
" Lihat bu, nadi nya tidak teratur. Harusnya yang ini sama dengan yang ini (beliau menunjukkan beberapa titik). Yang ini terlalu jauh, yang ini terlalu pendek, tidak ada yang sama, "
" Iya dok, hasil EKG sebelumnya juga sama" saya menjelaskan.
" Itu kenapa bisa begitu dok?" tanya ibu.
" Macam-macam, bisa di lihat lewat USG, "
" Iya dok USG sekalian, " ujar ibu langsung. Tapi USG ini mahaaaaal :(
" Kamu pernah pingsan?," tanya dokternya.
" Pernah, " saya menjawab singkat. Saya memang pernah pingsan, tapi karena dehidrasi. Dan tidak ada yang tau soal ini, selain adik saya dan sepupu-sepupu saya yang memeriksakan tekanan darah saya.
" Kamu pernah pingsan? Kapan? Kok nggak bilang ibu?" ibu mulai panik.
Saya nyengir dulu baru menjawab, " Desember di Pulau Rambut,". Sebenarnya bukan Desember, saya lupa, jadi asal jawab saja.

" Ini bilik kiri nya, nah ini katup nya. Lihat katupnya lemah, darah yang sudah mengalir bisa balik lagi. Ini yang bikin sesak, " dokter menjelaskan di sela-sela proses USG. Kami semua memandang ke arah layar alat USG, yang menunjukkan organ jantung saya dalam warna hitam-putih.
" Nah yang kanan juga ternyata, " lanjut dokter lagi.
" Itu penyebabnya apa dok?, " tanya ibu.
" Kalau seperti ini genetik bu, ada keturunan, ". Titik. Diam.

" Ini MVP. Mitral Valve Prolapse. Kebocoran katup pada jantung, "

Jadi, dugaan saya benar. Bahwa, ada yang aneh dengan meninggalnya Bapak, dan Pakde Heri. Mereka sama-sama terkena serangan jantung, yang sama-sama tidak terdeteksi sebelumnya. Kalau tidak ada kelainan jantung, rasanya tidak mungkin. Makanya hari itu, dimana sesak nafas saya tidak membaik juga, saya ngotot ke kardiologi.

Dokter memberikan map berisi hasil USG, dan beberapa catatan.
" Hasil nya masih bagus kok, " ucap dokter menunjukkan beberapa angka.
" Saya kasih resep obat ya, " lanjutnya.
" Iya dok, ".
" Sesak nya dari kapan?," dokter bertanya lagi.
" Sebenarnya Jumat itu dada saya sakit dok, tapi saya cuekin. Sabtu mulai membaik, tapi Minggu sesak lagi, "
Dokternya hanya menghela nafas, wajahnya agak menahan sesuatu sejak tadi beliau bertanya saya pernah pingsan. " Ada ya anak koplak gini, cewe pula, " mungkin begitu batinnya.

Begitu saya sampai rumah, saya menyalakan modem, searching mengenai MVP ini. Dan ternyata hasilnya mengejtkan haha lebay
Salah satu efeknya adalah DEHIDRASI.
Jadi, ketika saya di Pulau Rambut, pingsan, dan saya pikir dehidrasi. Ketika saya hilang fokus dari Merapi, dan akhirnya saya harus di gendong, saya pikir dehidrasi. Karena seberapapun saya minum, rasa hausnya tidak juga hilang selain dengan minuman berion. Jadi itu alasannya saya tidak pernah tahan matahari?

Obat yang diberi hanya diminum sehari-sekali, saya lega mendengarnya. Dan hanya setengah tablet :)
Tapi, " Obatnya di minum SETIAP HARI. Dan kamu wajib kontrol 3 minggu lagi, kira-kira sebelum obatnya habis. Jadi pas kamu kontrol kamu masih minum obatnya ya,"
" Iya dok, " saya menjawab datar. Oh My setiap hari itu lamaaaa, dan kalau dihitung, ini obat untuk sebulan
Rasanya......, oke tidak apa-apa. Dari informasi yang saya dapat dari internet, obat yang diberikan ini hanya untuk perawatan, bukan pengobatan karena pengobatan hanya bisa dengan pembedahan.

Saya berusaha menganggap ini sebagai "tidak apa-apa". Tapi, saya jadi berpikir ini "ada apa-apa" ketika ibu saya bilang begini ketika kami sahur bersama, " Mulai sekarang, kamu nggak boleh naik gunung lagi, ".
Padahal dokter sudah bilang, satu-satunya olahraga yang tidak boleh saya lakukan adalah angkat beban. Walaupun saya rasa dokternya tidak sadar, kalau ketika naik gunung ada perlengkapan yang perlu dibawa.
Dan lebih dari itu, kalau ini keturunan berarti kedua adik saya berpotensi juga mengalami hal serupa, parahnya mereka tidak punya hormon estrogen. Wanita tidak mudah mengalami serangan jantung karena punya hormon ini. Dan begitu pun dengan anak saya nanti.

Beliau tidak hanya mewariskan kulit coklat sawo matang.
Tulang hidung panjang.
Mata yang tidak besar.
Tapi juga fisiologi yang tidak biasa.
Tapi saya tidak pernah marah, tidak pernah menyesal.