Jakarta, 14 Juni 2014
Sabar...sabar lah cintaku...
Tidak pernah kuragukan sedikitpun yang Dia tulis dalam Al-Quran. Bahwa laki-laki baik hanya untuk wanita baik. Bahwa setiap makhluk diciptakan berpasangan.
Juga tidak pernah kuragukan, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri. Kenapa disebelah kiri? Karena dekat dengan jantung. Pernah merasakan jantung mu seperti berlari marathon ketika berjumpa dengan lawan jenis? Itu dia. Organ mu bereaksi ketika berada dekat dengan bagian nya yang hilang.
Seperti ketika aku bertemu Abang, dulu. :-)
Degup ini tidak bisa disangkal.
Tapi Apa Abang juga merasakan degup yang sama?
Untuk itulah Bang, aku menyebutkan nama mu dalam sujud malam. Dulu.
Aku bertanya, Apa benar aku bagian dari rusuk mu?
Kalau iya, Aku mohon untuk didekatkan-dimudahkan.
Kalau tidak, Aku mohon supaya degup ini dihilangkan, digantikan dengan degup orang lain, yang nanti bisa jadi imam ku.
Rahasiakan aku sedalam-dalam nya cinta mu...
Iya. Aku merahasiakannya. Merahasiakan nya dari Abang dulu. Menunggu...
Rasanya melelahkan menunggu bertahun. Hingga suatu malam, Aku mengadu pada-Nya. Tentang Abang :-)
Aku mencintai hamba-Mu yang satu itu,
Rasanya kenapa begitu menyiksa.
Kalau iya cinta itu fitrah, bukankah seharusnya aku boleh mengatakan kepadanya bahwa aku mencintai nya?
Tapi aku gamang. Aku wanita. Dia laki-laki yang baru saja kehilangan cinta nya. Bolehkah?
Allah Yang Maha Baik, aku tidak ingin menumpuk rasa ini lebih tinggi lagi. Aku takut nantinya rasa ini hilang kendali dan meledak, menghancurkan semua kebaikan nya.
Jawaban-Mu hadir dalam bentuk abstrak yang tidak bisa kubaca, tapi harus kunalar.
Keinginan untuk memberitahumu hilang ditelan petang. Tiba-tiba dan perlahan. Hingga saat ini aku sangat yakin, Abang hanya tau kalau aku pernah berteriak histeris saat dia lewat dengan alasan yang tidak dia pahami.
Belakangan ini aku juga mengadu, tentang 'partner'.
Entah kenapa selalu saja berpikiran buruk tentang nya. Harap dimaklumi.
Aku tidak mengenal nya seperti aku mengenal Abang.
Bahkan tidak pernah terpikir bahwa aku akan merasakan rindu seperti aku merindukan Abang dulu.
Ketika dulu, aku akan lewat didepan rumah Abang atau menunggu Abang di depan komplek atau melihat foto Abang di media sosial.
Sekarang aku tidak bisa sesumbar. Rindu ini tidak punya tempat pulang. Aku tidak bisa lewat didepan rumahnya. Tidak bisa menunggu nya. Tidak bisa melihat fotonya.
Bukan karena takut kehilangan kontrol seperti ketika dengan Abang.
Ketakutan ku kali ini punya cerita yang lain.
'Partner' ku berasal dari planet berbeda. Sekelilingnya menganggap kesulitan komunikasi dengannya. Tapi aku tidak. Aneh bukan?
Dia bisa tertawa lepas, bisa mengejek, bisa menjadi manusia didepanku.
Tapi aku takut. Takut dengan dunia nya. Dia memang menjadi manusia di depan ku, tapi masih orang lain. Dia manusia di depan ku, tapi masih dari planet lain. Dia memang manusia yang kurindukan. Dia memang manusia yang kuperhatikan. Bukan karena timbal balik dari yang telah dia berikan. Aku melakukannya :-)
Meski masih dengan ketakutan yang sama, degup ini mulai berganti pemilik kurasa. Miliknya.
Tapi kali ini ketakutan ini kujadikan benteng pertahanan yang kulengkapi doa.
Rindu ini memang masin belum punya tempat pulang sehingga kuikat dengan doa.
Perasaan ini tidak lagi kusimpan dalam menara tapi kubagi dalam doa;
Kalau iya aku bagian dari rusuk nya, tentu tidak akan pernah tertukar.
Kalau bukan semoga pemilik rusuk ini calon imam yang lebih baik :-)
Kalau sayang seharusnya tidak diumbar. Tetapi dijaga layaknya yang teristimewa :-)
Kemudian kujaga ini sampai tiba saat nya ketika Dia menyatukan aku dengan rusuk ku.
Selamat Malam Semesta
Sabtu, 14 Juni 2014
Rabu, 14 Mei 2014
Surat Untuk Abang.
Jakarta, 14 Mei 2014
Teruntuk:
Abang yang selalu kupanggil Mas Ganteng.
Sigh, kalimat pembuka yang menjijikan ya? Hihi. Tapi memang begitu. Kamu, apa kabar Bang Mas Ganteng? Aku masih menguntitmu diam-diam dalam dunia maya. Mengintip siulan mu di twitter, atau berharap kamu mulai mengganti profil picture mu di facebook, yang berarti kamu aktif belakangan. Oh iya, mungkin kamu sibuk dengan pekerjaan mu. Atau sengaja. Supaya tidak perlu mengingat wanita itu lagi.
Kamu sangat mencintai nya. Aku tahu itu dengan baik. Bahagia yang matamu perlihatkan ketika kamu bicara dan tertawa bersamanya, tak bisa diberikan oleh wanita lain. Mungkin.
Tapi, kamu harus sadar SEKARANG Bang Mas Ganteng. Cobalah melihat dunia, dunia ini tetap berputar. Coba lihat lautan disana, mungkin sudah ada beberapa tukik yang berlajar berenang selagi kamu berdiam.
Bang Mas Ganteng, aku sudah berjalan sekarang. Entah dia orang yang tepat untuk menggantimu atau bukan. Entah ini untuk selamanya atau sekedar pembelajaran. Tapi kamu harus tahu, dia orang yang berbeda dengan mu.
Bang Mas Ganteng, aku mengganti mu dengan orang lain yang sama sekali berbeda. Kebetulan saja cocok, mungkin begitu. Tidak perlu kupaksakan diriku untuk menerima orang ini. Karena di awal aku sama sekali tidak menyukai tingkahnya. Sangat berbeda dengan mu kan? Sudah sejak pertama kali kita bertemu di Taman Kanak-Kanak, ketika kamu takut menaiki tangga. Aku menyukai wajahmu yang ketakutan :-)
Kesukaan yang aneh ya? Kamu lucu sekali. Dan sejak itu aku menyukai wajah-mu. Iya wajah, dan hanya wajah. Tidak pernah tahu, kalau kamu sering turut berjamaah di masjid. Tidak pernah tahu, betapa wajahmu sangat menyejukkan mata ketika basah oleh wudhu. Tidak pernah tahu, senyum mu sangat manis, matamu sangat coklat, alis mu sangat tebal. Pun ibumu. Yang secara tidak sengaja, entah bagaimana, takdir sering membuat aku duduk disamping nya. Dan bersalaman dengannya ketika kami bersiap keluar dari masjid.
Bang Mas Ganteng, lucu sekali bukan? Ibu dan adik perempuan mu sering berada dekat denganku. Diam-diam, pernah kucuri doa sembari mencium tangan ibumu, " Semoga anda bisa menjadi mertua saya,". Sudahlah, mungkin doa ku dijabah dengan cara lain :-)
Lucu sekali bukan? Diantara puluhan orang didepan panggung saat itu, aku melihat mu berjalan disebelah kiri posisiku. Seperti dibisikkan, aku menengok tepat ketika kamu datang.
Lucu sekali bukan? Ketika aku mulai merasa pertemuan kita ditakdirkan, saat itu pula pertemuan ku dengan kalian ditunjukkan. Senyum nya dan senyum mu, dalam satu waktu.
Takdir ini lucu sekali, Tuhan Maha Bercanda memang.
Bang Mas Ganteng, Aku tidak lagi menunggu mu lewat di depan rumah atau berharap berpapasan dengan mu didepan lapangan. Ini tidak adil untukku. Dan tidak adil untuk orang yang kuacuhkan. Kamu juga Bang, jangan seperti itu. Ada orang lain yang mencintai kita. Berpusar dalam masa lalu dan keegoisan hanya akan membuat kesakitan yang lebih lagi.
Bang Mas Ganteng, sehingga aku memutuskan untuk mengganti dirimu. Mungkin aku masih akan suka dengan wajahmu. Tapi tidak lagi menunggu mu dengan jantung berdebar. Aku lebih memilih menunggu orang yang memberiku kepastian. Aku lebih memilih memperbaiki diriku sendiri sekarang. Karena wanita yang baik akan bersama laki-laki yang baik bukan? Aku tidak tahu definisi baik seperti apa yang dimaksud, tapi dengan menjaga hati kurasa itu sudah baik. Mungkin suatu kali nanti, aku akan menikahi laki-laki yang tidak sepertimu, dan mungkin aku tidak bisa mencintai nya seperti aku mencintai mu. Dan mungkin dia berbeda, tapi berbeda itu tidak apa kan?
Bang Mas Ganteng, mungkin suatu kali nanti kamu akan menikahi wanita yang berbeda dengan wanitamu dulu. Tapi bukan tidak mungkin dia bisa memberikan kenyamanan yang kamu perlukan. Tidak kah bisa kamu bayangkan, ketika kamu lelah pulang kantor, dia membawakanmu secangkir teh hangat yang menenangkan hari mu yang melelahkan? Tidak kah kamu bisa membayangkan, ketika kamu bangun pagi di akhir minggu akan ada yang memberikan senyum paling hangat dan paling manis didunia? Dan wanita itu bukan wanita mu yang dulu. Jangan jadikan dia bayangan atas wanita mu yang dulu, jangan kamu banding-bandingkan. Setiap orang itu berbeda Bang. Kamu tidak bisa menemukan orang lain yang sama persis.
Aku juga akan seperti itu suatu kali nanti. Membuat kan minuman untuk pasanganku, mendengarkan hari nya yang melelahkan, dan tertawa karena obrolan konyol kami. Thats sounds great. Dan mungkin orang itu bukan kamu Bang.
Mungkin kamu tidak pernah tahu, perasaan diam-diam ini. Yang tidak busuk selama 4 tahun, bukan karena formalin. Tapi karena kekonyolan ku sendiri. Biar saja. Setidaknya, itu berarti aku pun menjaga hati. Keuntungan untuk pasangan ku nanti pula.
Terakhir, baik-baik ya Bang :-)
Rabu, 09 April 2014
Catatan ke-21
April, 9 April 2014
Kepada Galaksi Bima Sakti
Tempat jauh nan penuh cahaya.
3 hari lalu, massa hidup ku berkurang. 21, angka yang besar. Itu berarti sudah 4 tahun lebih Bapak pergi. Meninggalkan Aku, anak perempuan satu-satunya.
Aku titip salam untuk beliau.
Air mata ini tidak akan pernah habis sejujurnya.
Rasa kehilangan, dan ribuan rindu tidak pernah hilang sebetulnya.
Ku tahan, ku penjarakan dalam.
Seolah baik-baik saja kemudian.
Pak, masih ingat wejangan saat pertama kali Rega menstruasi?
Beliau menelepon, dari seberang lautan. Suaranya masih terbayang sampai saat ini.
Suara tenang, dalam. Terselip kebanggan, yang seolah bicara diam-diam
" Kamu sudah besar. Putri bapak sudah besar,".
Aku yang selalu takut dengan mu, hanya mendengarkan dan menjawab dengan 'Iya'.
Tapi sejak itu, Aku tidak pernah berniat mengkhianati kepercayaan Bapak dan Ibu.
"Semua terserah Kamu Ga, Bapak dan Ibu yang sediakan biaya nya. Kamu yang perjuangkan masa depan mu."
Menuju usia 17 tahun, Bapak mulai bertanya mau melanjutkan pendidikan kemana?
Keinginan Bapak supaya Aku jadi sarjana, sedang kuperjuangkan. Kuharap tidak akan sulit untuk mengenggamnya nanti. Singapura atau Beasiswa Jepang sudah kuperhitungkan, sudah kuperbincangkan dengan Bapak dan Ibu. Sampai kemudian, hari itu datang. Hancur hati kami semua, bukan hanya Ibu yang merasa ditinggalkan. Percayalah, kami, anak-anakmu. Aku, putrimu. Saat itu juga aku merubah tujuan. Tidak perlu pergi kesana. Disini saja, menjaga peninggalan Bapak yang berharga; Ibu, Abi, dan Dito.
Saat itu hanya tiga bulan lagi menuju 17 tahun ku. Dan Bapak tidak sempat memberi ku 'hadiah'.
Sebegitu percayakah Bapak? Aku masih memegang nya, Rega masih putri Bapak yang dulu Bapak berikan nasehat.
Pak, hari ini Rega 21. Bapak nggak mau ngasih wejangan? (6 April 2014)
Bapak tidak datang malam itu, tidak mengucapkan apapun lewat mimpi. Bapak lupa? Ibu datang ke kamar shubuh itu, dengan setengah menangis.
" Mbak, kamu kok nggak bangun? Kan hari ini ulang tahun,"
" Ha? Iya ya? Eh iya...Rega lupa bu,". Aku lupa hari lahir ku sendiri. Pentingkah mengingatnya? Aku hanya perlu tahu, setiap bulan keempat massa hidup ku berkurang.
Kemudian beliau mengucapkan harapan-harapan. Termasuk harapan agar aku segera menemukan laki-laki yang bisa menemani dan menjaga putri satu-satunya.
Kalau Bapak ada, mungkin akan lebih rumit. Akan lebih banyak introgasi. Membayangkan nya saja membuat ku tersenyum. Seharusnya, Bapak memang menjadi filter, lebih jauh lagi, seharus nya Bapak bisa menjadi wali ku. Lebih indah lagi, seharusnya Bapak bisa mendengar anak-anak ku memanggil Bapak dengan sebutan 'Akung'.
Sekarang, Aku tidak punya itu. Filter nya ku lakukan sendiri, belajar dari mereka di sekitarku. Semoga tidak salah. Semoga tidak tersesat. Aku melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, dan berdoa supaya yang kulakukan benar, yang kulakukan sesuai dengan harapan Bapak.
Pak, Rega mau ketemu. Sebentar. Bisa?
Bohong, kalau Aku bilang tidak akan pernah menangis lagi. Ini kenikmatan rindu atas orang yang aku cintai.
Akan kuselipkan doa pada tiap kata rindu dan tetesan air mata.
Selama, rasi Salib Selatan masih bisa kutemukan. Selama itu pula, Aku bisa menemukan Bapak tidak pernah jauh dari kami.
Selama lautan masih menggenangi bumi, selama itu pula bau lautan serupa bau tangan Bapak tiap kucium hormat.
Salam kangen,
Kami, yang Bapak tinggalkan
Kepada Galaksi Bima Sakti
Tempat jauh nan penuh cahaya.
3 hari lalu, massa hidup ku berkurang. 21, angka yang besar. Itu berarti sudah 4 tahun lebih Bapak pergi. Meninggalkan Aku, anak perempuan satu-satunya.
Aku titip salam untuk beliau.
Air mata ini tidak akan pernah habis sejujurnya.
Rasa kehilangan, dan ribuan rindu tidak pernah hilang sebetulnya.
Ku tahan, ku penjarakan dalam.
Seolah baik-baik saja kemudian.
Pak, masih ingat wejangan saat pertama kali Rega menstruasi?
Beliau menelepon, dari seberang lautan. Suaranya masih terbayang sampai saat ini.
Suara tenang, dalam. Terselip kebanggan, yang seolah bicara diam-diam
" Kamu sudah besar. Putri bapak sudah besar,".
Aku yang selalu takut dengan mu, hanya mendengarkan dan menjawab dengan 'Iya'.
Tapi sejak itu, Aku tidak pernah berniat mengkhianati kepercayaan Bapak dan Ibu.
"Semua terserah Kamu Ga, Bapak dan Ibu yang sediakan biaya nya. Kamu yang perjuangkan masa depan mu."
Menuju usia 17 tahun, Bapak mulai bertanya mau melanjutkan pendidikan kemana?
Keinginan Bapak supaya Aku jadi sarjana, sedang kuperjuangkan. Kuharap tidak akan sulit untuk mengenggamnya nanti. Singapura atau Beasiswa Jepang sudah kuperhitungkan, sudah kuperbincangkan dengan Bapak dan Ibu. Sampai kemudian, hari itu datang. Hancur hati kami semua, bukan hanya Ibu yang merasa ditinggalkan. Percayalah, kami, anak-anakmu. Aku, putrimu. Saat itu juga aku merubah tujuan. Tidak perlu pergi kesana. Disini saja, menjaga peninggalan Bapak yang berharga; Ibu, Abi, dan Dito.
Saat itu hanya tiga bulan lagi menuju 17 tahun ku. Dan Bapak tidak sempat memberi ku 'hadiah'.
Sebegitu percayakah Bapak? Aku masih memegang nya, Rega masih putri Bapak yang dulu Bapak berikan nasehat.
Pak, hari ini Rega 21. Bapak nggak mau ngasih wejangan? (6 April 2014)
Bapak tidak datang malam itu, tidak mengucapkan apapun lewat mimpi. Bapak lupa? Ibu datang ke kamar shubuh itu, dengan setengah menangis.
" Mbak, kamu kok nggak bangun? Kan hari ini ulang tahun,"
" Ha? Iya ya? Eh iya...Rega lupa bu,". Aku lupa hari lahir ku sendiri. Pentingkah mengingatnya? Aku hanya perlu tahu, setiap bulan keempat massa hidup ku berkurang.
Kemudian beliau mengucapkan harapan-harapan. Termasuk harapan agar aku segera menemukan laki-laki yang bisa menemani dan menjaga putri satu-satunya.
Kalau Bapak ada, mungkin akan lebih rumit. Akan lebih banyak introgasi. Membayangkan nya saja membuat ku tersenyum. Seharusnya, Bapak memang menjadi filter, lebih jauh lagi, seharus nya Bapak bisa menjadi wali ku. Lebih indah lagi, seharusnya Bapak bisa mendengar anak-anak ku memanggil Bapak dengan sebutan 'Akung'.
Sekarang, Aku tidak punya itu. Filter nya ku lakukan sendiri, belajar dari mereka di sekitarku. Semoga tidak salah. Semoga tidak tersesat. Aku melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, dan berdoa supaya yang kulakukan benar, yang kulakukan sesuai dengan harapan Bapak.
Pak, Rega mau ketemu. Sebentar. Bisa?
Bohong, kalau Aku bilang tidak akan pernah menangis lagi. Ini kenikmatan rindu atas orang yang aku cintai.
Akan kuselipkan doa pada tiap kata rindu dan tetesan air mata.
Selama, rasi Salib Selatan masih bisa kutemukan. Selama itu pula, Aku bisa menemukan Bapak tidak pernah jauh dari kami.
Selama lautan masih menggenangi bumi, selama itu pula bau lautan serupa bau tangan Bapak tiap kucium hormat.
Salam kangen,
Kami, yang Bapak tinggalkan
Minggu, 02 Maret 2014
Surat ke-3; Pematah hati
Jakarta, 2 Maret 2014
Teruntuk: Pematah Hati
Di Tempat mu mengukir malam
Selamat malam,
Huhu, aku manis sekali malam ini. Sapa ku juga sangat baik, bukan?
Yah...untuk seukuran 'kita' oh...bukan 'aku-kamu', yang sudah lama tidak berhubungan.
Rasanya aku mau lari saja dari bumi begitu aku melihat mu kembali.
Tapi aku ingat perbuatan mu, Pematah Hati. Untuk itulah aku masih disini.
Untuk menuntut balas? Hoho, tidak. Aku tidak sejahat itu, tapi aku juga bukan malaikat.
Aku akan menjadi bayangan mu. Mungkin menjadi selimut malam mu, atau menjadi wangi sabun mu.
Membiarkan mu bicara, bercerita, bagaimana rasanya memainkan hati perempuan, ups!!!
Oh...oh...mungkin aku yang terlalu percaya diri. Iya pasti aku yang terlalu percaya diri.
Upik Abu yang mengharapkan Pangeran? Ah ya, aku bukan Cinderella. Juga tak pernah mau jadi dirinya.
Aku adalah Aku.
Aku masih membayangkan, apakah kamu masih suka membayangkan tidur dengan cahaya lilin?
Aku masih membayangkan, apakah kamu masih suka membaca buku sembari mengerjakan hal lain dalam satu waktu?
Aku juga masih membayangkan, apakah kamu masih....KAMU?
Setelah, pengakuan mu dan yang lainnya. Apa yang ku alami dan apa yang lain alami, jelas berbeda. Jadi dimana dirimu yang sebenarnya? Atau Siapa kamu sebenarnya?
Peduli setan kamu siapa, bukan itu yang ku permasalahkan. Sudah lama aku tahu, manusia lebih beringas dari harimau, lisannya lebih berbisa dari ular. Aku sendiri mendeskripsikan diri sebagai setengah werewolf dan setengah krusnik. Manusia tidak ada yang sempurna. Seharusnya kamu tahu itu, seperti kamu tahu bagaimana cara ku tertawa. Ah ya, kamu masih ingat nada tertawa ku? Baiklah, abaikan.
Manusia selalu punya sisi lain, yang tidak perlu atau/dan tidak ingin diketahui orang lain. Aku werewolf dan setengah krusnik, aku menyembunyikan taring, cakar, dan kegelapan dari orang lain disekitarku. Aku tidak mau orang lain tahu, aku 'pemangsa'. Pun ternyata, ketika purnama dan lapar itu tiba, nafsu ku lebih mampu mendominasi. Aku tidak sempurna. Pada akhirnya tidak berusaha kututupi, supaya orang-orang bisa menutup pintu dan jendela rumah mereka ketika purnama. Supaya tidak ada yang terluka. Pun ternyata ada yang tidak bisa menerima ini, aku bisa membuat kesepakatan dengan nya, untuk menjaga sikap dan jarak. Dan memaklumi semua ini.
Kamu bisa melakukannya, kalau tidak mau terlihat sebagai monster jadilah peri. Toh semua dianggap ganjil dan aneh. Aku selalu siap melihat cakar mu dan taring mu, atau sayap mu selama kamu perlihatkan itu dengan baik. Aku-Kamu bisa menjadi partner berburu yang baik; berbagi daerah berburu, berbagi daging buruan, dan merasa bahagia dengan kenyang. Aku-Kamu tidak perlu takut, siapa tahu mereka juga punya ekor dibalik bajunya. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Sempurna hanya milik Tuhan. Untuk itulah kita disebut makhluk.
Jangan takut terlihat menakutkan. Karena tidak semua yang terlihat menakutkan itu betul-betul menyeramkan. Sempurna mu terlihat dengan menggenapi kekurangan mu, bukan menutupi nya.
Selamat malam,
RAR
Selasa, 18 Februari 2014
Surat ke-dua
Jakarta, 18 Februari 2014
Kepada Seseorang
Di Bawah Langit Berbintang
Tidak perlu tanya kabar. Aku pastikan dirimu selalu sibuk, sekaligus kupastikan Kamu tahu apa yang harus Kamu lakukan.
Tidak perlu tanya sudahkah Kamu makan. Kupastikan Kamu tahu sendiri kebutuhan mu hidup. Termasuk air, oksigen, dan hal-hal krusial lainnya.Tidak termasuk seseorang.
Seseorang yang (hanya) akan mendengarkan mu. Tanpa kamu minta untuk didengar, akan selalu mendengarkan. Patuh. Segan. Menjadi kan mu seorang diktator.
Terima kasih. Mungkin itu ucapan pertama yang bisa ku sampaikan, setelah konsultasi malam haha.
Aku capai. Harus bersikap apa, pun bingung. Lalu terjadilah, selama beberapa waktu. Aku-Kamu diam diujung sambungan. Sebetulnya tidak sepenuhnya diam. Aku memainkan mulutku, membentuk huruf-huruf vokal A-I-U-E-O. Karena kalau tidak, aku bisa gila dengan kebisuan itu. Gila karena tidak bisa berhenti berpikir, " Ada apa? Kenapa?,".
Biasanya, oh salah...sebelumnya, Kamu pasti ingin menceritakan sesuatu. Kamu tidak hanya ingin didengar, tapi juga dibantah. Menjadi sebuah obrolan, menjadikan mu teman.
Tidak perlu tanya kabar. Aku hanya akan menjawab jenis obat yang kuminum belakangan. Lalu, Kamu tahu hal itu kan? Kabar seorang Aku dengan segala kemungkinan nya. Masih pula kamu tanyakan. Basa-basi bisu.
Mungkin Kamu-Aku sedang (dan) masih canggung. Kuberitahu, Cerberus Hades sudah kukembalikan, kuharap petir Zeus juga sudah Kamu kembalikan. Perang ini tidak pernah dimulai secara resmi, maka selesainya pun tidak diketahui.
Sayangnya, Aku tidak sebaik hati itu. Seumur hidup, ini akan selalu ku ingat, sampai Kamu mampu jelaskan.
Jangan lagi basa-basi
RAR
Selasa, 11 Februari 2014
Kepada seseorang
Jakarta, 11 Februari 2014
Kepada Seseorang
Di Tempat mu duduk
Di Tempat mu duduk
Sudah cangkir kopi ke berapa malam ini? Malam kamu membaca ini. Atau pagi? Atau siang? Atau mungkin senja?
Dalam wilayah geografi, waktu mu- waktu ku masih berada dalam satu wilayah. Pun ada perbedaan, masih dalam kisaran menit. Tapi, kita masih saja sibuk mengira-ngira kapan disana-kapan disini. Aneh.
Sudah hati ke berapa yang kamu sakiti bulan ini? Atau tahun ini? Atau mungkin hari ini?
Jangan bertanya orang ini sedang apa disini. Jangan cerita kamu sedang apa disana. Bukan tidak peduli. Semua bisa saja semu.
" Aku sedang mendengarkan lagu, Maroon 5.". Di tempat duduk ku, dihadapan monitor laptop, orang ini sedang memandangi wajah tercinta nya. Cinta lamanya. Cinta terpendamnya.
" Aku sedang tidak dengan wanita manapun, ". Di tempat mu terpejam, mungkin saja ada puluhan wajah wanita yang muncul dibalik kelopak matamu. Wajah yang mengenal mu, wajah yang kamu kenal. Wajah yang mencintaimu, wajah yang kamu cinta. Wanita yang tidak punya hubungan darah dengan mu, tapi menyesakkan wajah dan namanya di dirimu.
Orang ini tidak pernah mengenal mu sebelumnya. Kamu tidak pernah mengenal orang ini sebelumnya. Untuk itukah kita dipertemukan? Dan aku masih saja menyebut kita. Sial.
Entah Tuhan punya rencana apa. Aku-Kamu dipertemukan dalam situasi sinetronis seperti itu. Rasanya menyebalkan mengingat perlakuan mu kepada hati ini.
Aku sudah rapuh. Lahir-batin. Bermacam kehilangan pernah aku lewati, dengan tersaruk-saruk. Kalau ada hati wanita yang ingin kamu sakiti, kenapa aku wanita itu? Kenapa wanita yang tidak pernah kamu kenal sebelumnya? Supaya tidak perlu melihat wajah ku yang menangis? Supaya tidak perlu melihat wajah nelangsa ku? Supaya kamu bisa puas tertawa disana? Licik.
Bukan salah ku dengan tindak skeptis ini. Aku hanya tidak ingin terluka lagi.
Dalam wilayah geografi, waktu mu- waktu ku masih berada dalam satu wilayah. Pun ada perbedaan, masih dalam kisaran menit. Tapi, kita masih saja sibuk mengira-ngira kapan disana-kapan disini. Aneh.
Sudah hati ke berapa yang kamu sakiti bulan ini? Atau tahun ini? Atau mungkin hari ini?
Jangan bertanya orang ini sedang apa disini. Jangan cerita kamu sedang apa disana. Bukan tidak peduli. Semua bisa saja semu.
" Aku sedang mendengarkan lagu, Maroon 5.". Di tempat duduk ku, dihadapan monitor laptop, orang ini sedang memandangi wajah tercinta nya. Cinta lamanya. Cinta terpendamnya.
" Aku sedang tidak dengan wanita manapun, ". Di tempat mu terpejam, mungkin saja ada puluhan wajah wanita yang muncul dibalik kelopak matamu. Wajah yang mengenal mu, wajah yang kamu kenal. Wajah yang mencintaimu, wajah yang kamu cinta. Wanita yang tidak punya hubungan darah dengan mu, tapi menyesakkan wajah dan namanya di dirimu.
Orang ini tidak pernah mengenal mu sebelumnya. Kamu tidak pernah mengenal orang ini sebelumnya. Untuk itukah kita dipertemukan? Dan aku masih saja menyebut kita. Sial.
Entah Tuhan punya rencana apa. Aku-Kamu dipertemukan dalam situasi sinetronis seperti itu. Rasanya menyebalkan mengingat perlakuan mu kepada hati ini.
Aku sudah rapuh. Lahir-batin. Bermacam kehilangan pernah aku lewati, dengan tersaruk-saruk. Kalau ada hati wanita yang ingin kamu sakiti, kenapa aku wanita itu? Kenapa wanita yang tidak pernah kamu kenal sebelumnya? Supaya tidak perlu melihat wajah ku yang menangis? Supaya tidak perlu melihat wajah nelangsa ku? Supaya kamu bisa puas tertawa disana? Licik.
Bukan salah ku dengan tindak skeptis ini. Aku hanya tidak ingin terluka lagi.
(bukan) Salam hangat,
RAR
Senin, 20 Januari 2014
Kontrol perdana, menuju setahun, di 2014.
Dengan malas-malasan, dengan alasan nunggu ujan berhenti, saya akhirnya baru berangkat menuju rumah sakit pukul 11.00. Praktik dokternya cuma sampe jam 12.00. Sebenernya takut telat, tapi perhitungan saya biasanya tepat, apalagi ini sudah sering saya lakukan.
Sampai di pertigaan, dimana tukang ojeg mangkal. Ternyata abangnya sama kayak yang kemarin hari Sabtu nganter saya ke rumah sakit.
Iya, jadi tuh hari Sabtu saya ke rumah sakit untuk kontrol, e tapi....baca aja disini
https://www.facebook.com/notes/rega-alfi-rosalini/supaya-nggak-lupa/674017292649264
Singkat nya, saya sudah diantar sampai seberang rumah sakit. Dari pintu kaca rumah sakit yang guede itu, saya keliatan kayak anak gunung nyasar. Celana jeans, kaos, jaket pollar lapis waterproof, sandal gunung, serta merta ransel yang nempel di punggung. Celana nya pake saya linting-linting gitu kan, soalnya ngeri banjir lagi. E ternyata udah lumayan surut. Yadahlah...
Setelah memastikan nama saya di recepcionist, saya menuju lantai dua. Di lantai dua cuma bilang,
" Mbak, mau ketemu Dr. Zaini."
" Atas nama?,"
" Rega Alfi, "
" Silahkan tunggu ya, "
Trus saya nunggu.
Gilak gilak gilak, saya udah nunggu 4 tahun, buat kontrol aja juga nunggu lagi?
Oke maaf, gak fokus.
Siang ini, ruang tunggu sepiiiiiiiiiiiiiiii sekali. Sesepi hati ini woahaha -_-
Cuma ada sepasang suami-istri, yang sudah berumur, saya lansir umurnya diatas 50 tahun. Mereka diantar anak laki-laki mereka, yang sedang menggendong bocah berumur 1 tahun-an, yang selalu cengengesan tiap kali melihat eyang uti dan akung nya. Ihh...sebel ngeliatnya, bikin dengki. Saya duduk di seberang mereka. Cuma ditemani ransel yang sudah saya lepas dari punggung. Saya sendiri sedang melepas jaket saya. Ada titik-titik air yang jatuh ketika jaket saya rapikan, ah ya pasti tadi gerimis sedikit.
Jakarta akhir-akhir ini gitu deh, mendung sepanjang hari. But no drops yet, then wuh....it can be heavy rainy all day and night.
Setelah akung -akung itu masuk, saya cuma dipanggil untuk periksa tekanan darah. Duduk, nggak lama saya masuk ruangan.
Hari ini 100/80, normal untuk saya. Its getting better than first i came here. Selama hampir setengah tahun, tekanan darah saya selalu rendah. Iya saya memang hipotensi. Karena sakit ini juga. Dan karena hasil nya mulai bagus, jadi....
" Misi dok, " sapa saya.
" Silahkan, kamu masih naik gunung musim hujan gini?,"
" Haha nggak lah dok, ujan, badai juga disana."
" Oh iya ya, petir kilat, licin juga kan? "
" Bukan dok, badai nya kayak angin gede gitu biasanya,"
" Oh hhaha, ". Nggak ada duit juga dok, batin saya. Sedih men, nginget nya hmph....
" Nggak ada keluhan ya?," tanya nya sembari nulis-nulis di map.
" Umm...ada sih dok, ung....kemaren sesak, "
" Sesak?, " beliau meninggalkan map nya untuk melihat saya sebentar. Kemudian, " Kita periksa dulu, "
" Obat nya masih?," tanya beliau lagi. " Oiya, kalau sesak, minum lagi setengah."
" Habis dok, ". Kayak nya Anda sudah sering bilang gitu deh dok, tapik....-_- useless
" Kapan terakhir kali?,"
" Tadi pagi." padahal saya boong, obat nya belom saya minum haha, tapi takut di marahin. Maap ya dok, tapi bener kok itu tinggal terakhir hari ini.
Beliau memeriksa map, " Terakhir kontrol bulan 11 ya, sekarang udah bulan 1. Lumayan lama,". Saya nyengir...ajah
Lalu, beliau mulai memeriksa dengan stetoskop nya.
" Sesak nya kayak gimana? Seperti di tekan?," tanya beliau setelah kami kembali ke meja.
" Umm iya dok, ah ya...dan....nyeri." saya berusaha mengingat apa yang belakangan saya rasakan.
" Oiya. Sesak atau nyeri nya itu kapan?,"
" Kapan? " saya nggak paham.
" Ketika istirahat? Mau tidur? atau sedang kegiatan?,"
" Ah iya dok, kalau mau tidur, lagi duduk-duduk, gitu Gak jelas dok, suka-suka."
" Haha, iya iya...memang itu karakter sakit nya. Kalau sakit ketika kegiatan, biasanya itu koroner."
Wah, aku baru tahu! Ini hebat! -_-
At least, saya tahu saya nggak koroner. Ngeri aja ngebayanginnya.
Beliau lalu menambahkan catatan lagi di map.
" Tinggal dimana?."
" Munjul dok, "
" Nggak banjir ya, hmm"
" Nggak dok, Alhamdulillah,"
" Ini saya tambahkan satu jenis lagi ya, untuk nyeri nya. Diminum kalau nyeri sekali.".
WHATTTTTTTTTTTTT? MAYGATTTTTTTTTTTT!!!! TAMBAH LAGIIIIIIII.
Rasanya mau gulung-gulung di ruangan itu. Tapi saya masih bisa ngontrol.
" Ya dok, EKG lagi gak dok?,"
" Hmm sudah setahun belum? Oh bulan depan ya setahun?,"
" Iya dok, "
" Boleh nanti kalau mau EKG lagi, untuk kita evaluasi. Tapi biasanya hasil nya nggak jauh beda."
WHAAATTTT? TERUS NGAPAIN DONG DI EVALUASI KALO GAK BEDA????
Setelah itu beliau menyerahkan map untuk dikasih ke kasir. Dan resep obat. Lalu saya pamit.
" Terima kasih dok,".
Tapi, belum sampai situ. Karena, "Mbak, kamu sekalian nebus obat aja. Ambil kartu di kantor ibu. Uang buat EKG nya buat beli obat, "
Oke. Akhirnya, saya menuju kantor ibu untuk ngambil kartu member apotik dan pastinya memberikan laporan kontrol.
Dan begitulah, tiap ketemu temen-temen ibu, yang kebanyakan bude-bude.
" Mbak Rega, abis dari gunung lagi? Item banget kamu Nduk, " saya cengar-cengir doang.
" Nggak kok bude, ini liburan di rumah aja."
Ya Allah, ini kan kulit warisan. Mau dipakein ape jugak tetep aje begini. Mau naik gunung, ke pantai, ke hutan, tetep aje saya berkulit gelap -_- eh tanned deng, eh sama ajalah. Taulah....
" Mbak, maaf Bisovel nya kami nggak jual, kalau stileron nya sedang kosong." Mbak apotekernya memberitahu saya.
Sampai di pertigaan, dimana tukang ojeg mangkal. Ternyata abangnya sama kayak yang kemarin hari Sabtu nganter saya ke rumah sakit.
Iya, jadi tuh hari Sabtu saya ke rumah sakit untuk kontrol, e tapi....baca aja disini
https://www.facebook.com/notes/rega-alfi-rosalini/supaya-nggak-lupa/674017292649264
Singkat nya, saya sudah diantar sampai seberang rumah sakit. Dari pintu kaca rumah sakit yang guede itu, saya keliatan kayak anak gunung nyasar. Celana jeans, kaos, jaket pollar lapis waterproof, sandal gunung, serta merta ransel yang nempel di punggung. Celana nya pake saya linting-linting gitu kan, soalnya ngeri banjir lagi. E ternyata udah lumayan surut. Yadahlah...
Setelah memastikan nama saya di recepcionist, saya menuju lantai dua. Di lantai dua cuma bilang,
" Mbak, mau ketemu Dr. Zaini."
" Atas nama?,"
" Rega Alfi, "
" Silahkan tunggu ya, "
Trus saya nunggu.
Gilak gilak gilak, saya udah nunggu 4 tahun, buat kontrol aja juga nunggu lagi?
Oke maaf, gak fokus.
Siang ini, ruang tunggu sepiiiiiiiiiiiiiiii sekali. Sesepi hati ini woahaha -_-
Cuma ada sepasang suami-istri, yang sudah berumur, saya lansir umurnya diatas 50 tahun. Mereka diantar anak laki-laki mereka, yang sedang menggendong bocah berumur 1 tahun-an, yang selalu cengengesan tiap kali melihat eyang uti dan akung nya. Ihh...sebel ngeliatnya, bikin dengki. Saya duduk di seberang mereka. Cuma ditemani ransel yang sudah saya lepas dari punggung. Saya sendiri sedang melepas jaket saya. Ada titik-titik air yang jatuh ketika jaket saya rapikan, ah ya pasti tadi gerimis sedikit.
Jakarta akhir-akhir ini gitu deh, mendung sepanjang hari. But no drops yet, then wuh....it can be heavy rainy all day and night.
Setelah akung -akung itu masuk, saya cuma dipanggil untuk periksa tekanan darah. Duduk, nggak lama saya masuk ruangan.
Hari ini 100/80, normal untuk saya. Its getting better than first i came here. Selama hampir setengah tahun, tekanan darah saya selalu rendah. Iya saya memang hipotensi. Karena sakit ini juga. Dan karena hasil nya mulai bagus, jadi....
" Misi dok, " sapa saya.
" Silahkan, kamu masih naik gunung musim hujan gini?,"
" Haha nggak lah dok, ujan, badai juga disana."
" Oh iya ya, petir kilat, licin juga kan? "
" Bukan dok, badai nya kayak angin gede gitu biasanya,"
" Oh hhaha, ". Nggak ada duit juga dok, batin saya. Sedih men, nginget nya hmph....
" Nggak ada keluhan ya?," tanya nya sembari nulis-nulis di map.
" Umm...ada sih dok, ung....kemaren sesak, "
" Sesak?, " beliau meninggalkan map nya untuk melihat saya sebentar. Kemudian, " Kita periksa dulu, "
" Obat nya masih?," tanya beliau lagi. " Oiya, kalau sesak, minum lagi setengah."
" Habis dok, ". Kayak nya Anda sudah sering bilang gitu deh dok, tapik....-_- useless
" Kapan terakhir kali?,"
" Tadi pagi." padahal saya boong, obat nya belom saya minum haha, tapi takut di marahin. Maap ya dok, tapi bener kok itu tinggal terakhir hari ini.
Beliau memeriksa map, " Terakhir kontrol bulan 11 ya, sekarang udah bulan 1. Lumayan lama,". Saya nyengir...ajah
Lalu, beliau mulai memeriksa dengan stetoskop nya.
" Sesak nya kayak gimana? Seperti di tekan?," tanya beliau setelah kami kembali ke meja.
" Umm iya dok, ah ya...dan....nyeri." saya berusaha mengingat apa yang belakangan saya rasakan.
" Oiya. Sesak atau nyeri nya itu kapan?,"
" Kapan? " saya nggak paham.
" Ketika istirahat? Mau tidur? atau sedang kegiatan?,"
" Ah iya dok, kalau mau tidur, lagi duduk-duduk, gitu Gak jelas dok, suka-suka."
" Haha, iya iya...memang itu karakter sakit nya. Kalau sakit ketika kegiatan, biasanya itu koroner."
Wah, aku baru tahu! Ini hebat! -_-
At least, saya tahu saya nggak koroner. Ngeri aja ngebayanginnya.
Beliau lalu menambahkan catatan lagi di map.
" Tinggal dimana?."
" Munjul dok, "
" Nggak banjir ya, hmm"
" Nggak dok, Alhamdulillah,"
" Ini saya tambahkan satu jenis lagi ya, untuk nyeri nya. Diminum kalau nyeri sekali.".
WHATTTTTTTTTTTTT? MAYGATTTTTTTTTTTT!!!! TAMBAH LAGIIIIIIII.
Rasanya mau gulung-gulung di ruangan itu. Tapi saya masih bisa ngontrol.
" Ya dok, EKG lagi gak dok?,"
" Hmm sudah setahun belum? Oh bulan depan ya setahun?,"
" Iya dok, "
" Boleh nanti kalau mau EKG lagi, untuk kita evaluasi. Tapi biasanya hasil nya nggak jauh beda."
WHAAATTTT? TERUS NGAPAIN DONG DI EVALUASI KALO GAK BEDA????
Setelah itu beliau menyerahkan map untuk dikasih ke kasir. Dan resep obat. Lalu saya pamit.
" Terima kasih dok,".
Tapi, belum sampai situ. Karena, "Mbak, kamu sekalian nebus obat aja. Ambil kartu di kantor ibu. Uang buat EKG nya buat beli obat, "
Oke. Akhirnya, saya menuju kantor ibu untuk ngambil kartu member apotik dan pastinya memberikan laporan kontrol.
Dan begitulah, tiap ketemu temen-temen ibu, yang kebanyakan bude-bude.
" Mbak Rega, abis dari gunung lagi? Item banget kamu Nduk, " saya cengar-cengir doang.
" Nggak kok bude, ini liburan di rumah aja."
Ya Allah, ini kan kulit warisan. Mau dipakein ape jugak tetep aje begini. Mau naik gunung, ke pantai, ke hutan, tetep aje saya berkulit gelap -_- eh tanned deng, eh sama ajalah. Taulah....
Menyenangkan, ketika apotiknya di seberang kantor ibu dan saya
dibekali cakwe yang ibu beli hahaha jadi bisa sambil cemal-cemil. Nah, udah
sampe apotik, ngasih resep. Nunggu. Saya emang hobi nunggu, makanya cinta
bertepuk sebelah tangan. Lah apa hubungannye -_-, gak ada sik.
" Mbak, maaf Bisovel nya kami nggak jual, kalau stileron nya sedang kosong." Mbak apotekernya memberitahu saya.
" Oh...Bisovel nya diganti Hapsen juga gapapa kok mbak,
"
" Oh gitu, baik. Sebentar ya mbak, "
Nggak lama, 'teman' saya untuk sebulan kedepan siap dalam kemasan hijau.
Nggak lama, 'teman' saya untuk sebulan kedepan siap dalam kemasan hijau.
" Untuk Stileron nya kami sedang kosong Mbak, "
" Kalau apotik century deket sini, ada nggak ya mbak?,".
Maka, mbak itu memastikan, stok obat yang saya butuhkan di cabang terdekat.
Dan....dia menelpon cabang terdekat.
" Ada mbak, silahkan kesana. Saya sudah pastikan, "
" Oh gitu, oke makasi Mbak."
Mbak itu bukan mbak yang biasanya ngurusin obat saya, makanya dia
sempet nanya itu untuk siapa. Dan bisa-bisanya saya ganti nama obat, seolah
master. YAEYALAH. " Itu obat saya mbak," saya cuma membalas datar.
Terus muka mbak nya gitu, kayak orang kasian. Welah, saya belom mau matik
keles.
Sampai di apotek kedua, saya langsung kasih ke mbak nya kertas resep. Dan dengan beberapa pertanyaan, akhirnya obat itu sudah siap dalam kemasan hijau. Dan saya langsung memegangnya erat-erat, " We will be best friend forever,". Itu artinya, saya nggak perlu menelan kalian, satu pun. Soalnya itu obat buat nyeri dada dan sesak.
Setelah perjuangan kontrol, musti lewatin jalanan banjir, dan musti sedikit ujan-ujanan (atau gerimis-gerimisan?). Dan beruntung sekali, saya memilih jaket waterproof yang saya pakai hari ini, karena langitnya galau sekali. Satu kali bisa gerimis, lalu berhenti, lalu gerimis deras, lalu berhenti lagi.
Dan perjuangan menebus obat, yang harus dilakukan di 2 apotek yang berjauhan. Yah lumayanlah buat nambah tulisan -_-
Jadi EKG ternyata nggak jadi bulan ini. Atau mungkin nggak akan pernah di EKG lagi? Entahlah, beliau suka galau soalnya.
Sampai di apotek kedua, saya langsung kasih ke mbak nya kertas resep. Dan dengan beberapa pertanyaan, akhirnya obat itu sudah siap dalam kemasan hijau. Dan saya langsung memegangnya erat-erat, " We will be best friend forever,". Itu artinya, saya nggak perlu menelan kalian, satu pun. Soalnya itu obat buat nyeri dada dan sesak.
Setelah perjuangan kontrol, musti lewatin jalanan banjir, dan musti sedikit ujan-ujanan (atau gerimis-gerimisan?). Dan beruntung sekali, saya memilih jaket waterproof yang saya pakai hari ini, karena langitnya galau sekali. Satu kali bisa gerimis, lalu berhenti, lalu gerimis deras, lalu berhenti lagi.
Dan perjuangan menebus obat, yang harus dilakukan di 2 apotek yang berjauhan. Yah lumayanlah buat nambah tulisan -_-
Jadi EKG ternyata nggak jadi bulan ini. Atau mungkin nggak akan pernah di EKG lagi? Entahlah, beliau suka galau soalnya.
Langganan:
Postingan (Atom)