Kamis, 26 Februari 2015

Surat Untuk Bapak

Jakarta, 26 Februari 2015



Kepada:
Bapak di Rumah Allah

Tentang: Hidup yang Tak Lagi Sama

Bapak, Rega nggak sanggup rasanya. Demi Allah ini melelahkan. Lebih-lebih dari apa yang dulu. Kalau dulu Bapak memberikan soal sebelum Rega boleh bermain, rasanya ini lebih. Soal ini diberikan oleh-Nya. 

Katanya, Allah nggak ngasih cobaan yang tidak mampu dilewati hamba-Nya. Kenapa Rega terus-terusan dicoba begini? Rasanya capek Pak.

Bulan lalu, tepat tanggal yang sama, Rega menyebrang ke Lampung dari Pelabuhan Merak. Rega ingat Bapak. Waktu kecil, Bapak pernah ajak Rega ke Pelabuhan, kita berangkat dari rumah Bude. Setiap Rega lihat kapal, Rega ingat foto kapal Bapak yang Bapak ambil pakai kamera digital. Rega mau kirim surat, nanti dilarung di laut. Tapi ada teman-teman. Rega takut nangis, malu. Tapi Rega juga kangen, mau cerita sama Bapak. Rega capek Pak. 

Tiba-tiba dunia Rega berubah belum ada setahun Bapak pergi, dunia jungkir-balik. Semua orang nggak percaya sama Rega. Semua. Cuma Abi yang tau, tapi Abi masih kecil. Kita nggak bisa apa-apa. Setahun kemudian, akhirnya beberapa orang mulai percaya. Tapi sudah terlambat. Semua sudah terlanjur berubah.

Kemudian, drama ini berulang terus, rasanya seperti punya siklus sendiri. Rega capek. Sebaiknya memang nggak ngeluh. Tapi Rega nggak tahan. Sewaktu teman-teman seumuran galau pilih universitas dan fakultas, atau galau soal pacaran, Rega harus lebih kuat dari itu. Cerita juga percuma, pengalaman yang mereka alami berbeda jauh. Rega cuma bisa nangis tiap malam, kadang sambil sujud, kadang sambil manggil-manggil Bapak.

Lalu, baru pertengahan tahun lalu semua menjadi jelas. Allah menunjukkan semuanya. Tapi nyatanya itu tidak mengubah banyak hal. Semua orang memang percaya sekarang, tapi mereka juga nggak bisa apa-apa. Mereka cuma bilang sabar. 

Kalau sudah capek gini, Rega cuma bisa meluk foto Bapak di kamar sambil nangis. Rega cuma kasian Dito Pak. Bapak pergi waktu Dito masih kecil. Rega nggak tahu Dito ngerasani apa, yang keliatan Dito riang-riang aja.

Bapak lihat kita nggak sih? Bapak sedih nggak? Rega sudah di level lelah paling memuakkan. Kenapa harus begini sih Pak? Kenapa bukan orang lain? Bapak sudah diambil, lalu kenapa masih ada yang lain? Apa Allah suka dengan air mata?

Mempertanyakan hal-hal itu memang bukan jenis pertanyaan pintar. Tapi Rega capek. 

Bapak, sebelum penutup Rega mau bilang, Rega mau peluk Bapak sekali lagi aja. Nggak banyak-banyak. Cuma untuk memastikan Bapak tahu Rega kuat, Rega sabar, Rega bisa Bapak percaya. Sekali aja Pak, kuatkan Rega.

Dulu, Rega jarang meluk Bapak karena Bapak melaut. Kalau Bapak pulang, Rega cuma cium tangan. Kalau Bapak berangkat lagi, Bapak nggak mau dipeluk karena takut nangis. Rega nggak pernah peluk Bapak setelah besar. Sewaktu Bapak mau dimakamkan Rega juga nggak sanggup meluk Bapak karena Rega nangis. 

Bapak, jangan lupa mampir di mimpi.

Salam Kangen Tak Terhingga,

Putri mu

Sabtu, 22 November 2014

Beda

Aku melihat nya lagi, setelah bertahun-tahun. Hampir tidak ada perubahan dalam penampilan nya- kaos oblong dan celana pendek- hanya rambut nya sekarang panjang hingga bisa diikat.

Kali ini dia betul-betul tidak bisa menghindari ku. Kami sedang mengantri kasir di minimarket dekat rumah. Aku tepat berada di depan nya dengan kaleng obat nyamuk ternama. Musim panas ini seperti kesenangan mereka untuk keluar berpesta, gila. Hampir tiap pagi Aku melihat bentol di pipi atau lengan ku. Padahal sudah kuracuni.

Dia keluar dari minimarket dengan plastik belanjaan, yang kulihat tadi isinya pembalut wanita. Pasti permintaan kakak nya. Aku memang menunggu nya. Dia agak kaget melihat ku tidak jauh dari pintu, berdiri di dekat sepeda nya.

Tanpa bicara, dia berusaha mengacuhkanku. Membebaskan standart sepeda, lalu memutar kemudi nya.
" Kenapa sih? Karena gue pakai jilbab?," Dia hanya melihat ku sebentar lalu mulai menuntun sepeda nya. Ini tanda, dia masih mau diajak bicara.

" Lo apa kabar?," tanya nya dingin, tanpa melihat ku. Kami berjalan menuju gapura kawasan rumah kami.
" Alhamdulillah. lo? Katanya lo baru putus?,"
" Baik, Puji Tuhan.  Abis naik gunung mana? atau abis dari mana lagi?," Dia tidak menjawab pertanyaan ku.
" Nis, please. Lo kenapa sih?,"
" Gue baik-baik aja Nis. Kemarin katanya ada yang meninggal di Semeru? Sekali-kali gue mau ikut dong Nis."

Aku menahan kemudi sepeda nya. Kami berhenti di dekat taman ibu-ibu PKK.
" Nis, kita udah sama-sama gede. Salah gue apa? " Aku memaksa sebuah penjelasan.
" Nis, udah lah kita bukan lagi Dennis-Nisa." matanya menatap kemudi sepeda.
" Lah? Tunggu. Lo mikir gua mau kita....?," Aku terhenti, bingung. Dia pikir aku mau melanjutkan 'yang dulu'?

" Please Dennis, jangan geer. Gua cuma mau penjelasan kenapa lo jauhin gue? Bukan, lo menghindari gue."
" Oke. Bisa nggak kita ngobrol disini 15 menit lagi? Merry nungguin 'ini'." tanya nya. Aku melepaskan kemudi sepeda nya dan memberi sebuah anggukan.


" Nih." Dia memberi sebuah bungkus kado begitu dia duduk di bangku taman.
" Apa?,"
" Buka aja."
Aku membuka nya, " Bungkusnya gue robek nggak apa kan?,"
" Iya, bebas Nis."
" Pashmina?," Aku kaget dengan isi kado nya.
" Katanya sih, beda ya sama jilbab?,"
" Ahahaha beda. Kalo pashmina ini lebih panjang biasanya, such as shawl Nis."
" Tapi bisa dipake kan?,"
" Bisa lah. Anyway, thanks ya."
" Suka nggak?,"
" Suka. " Aku tersenyum, " Tapi kenapa lo kasih ini? Ulang tahun gue masih dua bulan lagi. Lo lupa?,"
" Nggak. Itu...udah lama beli nya. Dua tahun lalu lah, dua hari setelah gua tahu lo memutuskan pake jilbab."
" Kok baru sekarang dikasih nya?,"
" Gue....takut Nis." Dia menghela nafas, kemudian melanjutkan, " Tapi gua inget lo pernah kasih gua rosario bokap lo."

Malam itu, setelah kami pergi menonton bioskop, hampir tiga tahun lalu.
" Nis, nih!" kataku sembari memberinya sebuah salib dengan Yesus Kristus ditengah salib nya, terbuat dari emas.
" Apaan nih?,"
" Rosario. Punya bokap dulu, buat lo aja kata nya. Kali aja lo jadi bener."
Dia cuma cengengesan mendengar penjelasan ku.

" Masih lo simpen?, " tanya ku penasaran.
" Masih. Bokap lo bener kayaknya. Setelah itu, gua jadi rajin kebaktian dan perkumpulan remaja gereja gitu."
" Hahahah bagus lah." Aku melipat pashmina itu lalu meletakkan nya diatas pangkuan.
" Lucu. Kenapa bokap lo nggak sekalian aja ngasih gua peci, sarung, sama sajadah?,"
" Untuk?,"
" Kali aja gua jadi muallaf." Aku diam, dia diam. Hanya ada suara jangkrik, dan gesekan ranting.
Katanya, semua makhluk ciptaan Allah itu selalu bertasbih, melalui suara-suara mereka yang tidak dimengerti manusia. " Semoga kamu bisa mendengar nya Nis, melalui bisikan lain." doa ku dalam hati.
" Bokap apa kabar?," pertanyaannya memecah kesunyian.
" Alhamdulillah. Insha Allah Papa Mama mau umrah bulan depan."
Dia mengangguk " Lo nggak ikut sekalian?,"
" Nggak, itu jadwal gua UAS Nis."
" Oh...sendirian dong di rumah?," Aku mengangguk. Sunyi datang lagi.
" Nis, kenapa?," Aku bertanya lagi.

" Gue...kesel. Tapi nggak tahu kesel sama siapa. Kayak...ada yang ngambil lo dari gue begitu liat lo pake jilbab."
" Tapi gue nggak berubah kan? Dari pertama kali kita duel basket di lapangan?,"
" Iya. Itu yang gua bingung. Kenapa lo masih Nisa? Gua kesel. Kalo lo berubah, mungkin lebih mudah buat gua Nis. " Aku tidak mengomentari, membiarkannya bicara sampai selesai.
" Masalah nya, lo masih Nisa yang seasik dulu. Partner basket gue, temen sepedahan gue, bahkan kita disebut pasangan emas. Gue canggung mau deket lagi sama lu."
" Karena kita beda?," Tanya ku akhirnya.
Dia hanya menghela nafas panjang. " Menghindari lo adalah hal tersulit. Gua nggak bisa menemukan pengganti lo. Dia mungkin lebih cantik, lebih anggun, lebih manja, lebih...tapi nggak ada yang bisa nemenin gua Nis." Aku terdiam, mencerna kalimat-kalimat yang barusan dikeluarkan.

" Tapi sekarang kenapa lo mau ngomong lagi? "
" Gue capek. Capek menghindari lo, capek mencari-cari, dan menyamakan perempuan lain. Karena cuma ada satu Nisa yang begini."
Sunyi kembali hadir.
" Maaf Nis."
" Ha? Kenapa minta maaf?," tanyanya bingung dengan penuturan ku.
" Gua pikir, selama ini lo benci sama gue karena gua akhirnya memutuskan berjilbab. Atau lo malu karena nggak bisa lagi keliatan bergaul sama gue beda sama lo. Ternyata lo malah beliin pashmina ini."
Dia menghela nafas lagi, " Gua juga yang salah. Tau-tau menghindari lo."
Kami berdua menghela nafas.
" Gue pulang dulu Nis, udah malem." Aku beranjak dari bangku.
" Iya gue juga." Dia ikut berdiri. " Eh iya Nis, besok Sabtu nonton yuk." ajak nya.
Aku menatap nya sebentar, melihat senyum nya.
" Boleh. Jam berapa?,"
" Nanti gue jemput ke rumah lo. Di rumah dari pagi kan?,"
" Iya. Oke gua tunggu. Papa kayaknya juga pengen ngobrol lagi sama lo haha."
" Sip. Eh, pashmina dari gue dipake ya." pinta nya bersemangat. Sesuatu yang hilang dari hidup ku bertahun-tahun, cara semangat mu.
" Iya. Sip." Aku mengacungkan jempol.

Di sepertiga malam itu, Aku kembali mendoakannya. Bukan supaya kami tidak lagi beda. Aku tidak mau memaksanya. Hanya berdoa supaya kami tetap saja begini, bahagia dengan cara kami sendiri.

Dennis

Malam itu, Aku juga berdoa dengan rosario di genggaman, di depan Kristus disalib. Supaya tetap saja begini. Entah doa siapa yang lebih dulu dikabulkan. :))




Rabu, 05 November 2014

Cerpen: Simpan Saja Part 2, Selesai.

Rindang kepada Aron

" Bunda, bunda...Kenapa kesini sih? " tanya anak laki-laki berumur 6 tahun dengan seragam putih-merah beserta ransel yang menempel di punggung nya.
" Sebentar ya sayang, bunda mau tengokin sahabat bunda dulu." jawab ku sambil mengusap kepala nya.
" Tapi bunda ini kan makam, sahabat bunda udah meninggal?," pertanyaan polos anak kecil.
" Iya." Aku menatap balik tatapan polosnya.

Kami berdiri menatap nisan marmer berwarna keabuan dibawah naungan pohon dengan bunga Kamboja putih bermekaran. Siang ini terik tapi tidak tampak menyiksa karena dahan-dahan nya memegangi rimbunan daun.

" Bunda, kok nama ku sama kayak nama yang di nisan itu?," Aku terkesiap, tangan ku mengelus lembut kepala nya sekali lagi.

Ron, aku datang menengok, memastikan Kamu baik-baik saja. Aku datang dengan Aron yang 'lain'.
Aku tidak bisa mengganti mu di hati ku. Seperti janjiku, Aku 'menjaga' mu, Aron. Kamu perlu tahu, Aron kecil seperti mu dulu. Sering menggodaku, padahal Aku ibunya hahaha. Mau tahu yang lebih lucu? Anak ini adalah anak ku dengan Duta. Duta setuju memberi nama depan bagi anak kami, Aron.
" Supaya Kamu tidak perlu merindukan Aron yang dulu. Kebahagiaan mu dengan ku sekarang Rin. Aku hanya ingin Kamu melupakan kesedihan mu." Begitu kata Duta. Dia baik sekali. Suami terbaik sepanjang masa. Kamu ingat kan, ketika dulu Aku bilang Adam Levine The Sexiest Man Ever. Ku ralat, Duta is The Sexiest Husband Ever :)

Aku juga pernah berjanji untuk selalu bahagia. Tak perlu kuceritakan padamu bagaimana rasanya. Keluarga kecil ku ini rupa dunia ku yang menyenangkan.

" Aron, coba sekarang Aron cerita ke Sahabat bunda ini, Om Aron. " kata ku kepada Aron dengan berlutut menyejajarkan diri dengan tinggi Aron.
" Cerita apa?,"
" Apa saja. Um...gimana kalau Aron cerita kalau Aron sudah masuk SD?,"
Aron kecil memamerkan senyum riang nya, " Oke bun, " dia mengacungkan jempol tangan kanan nya.

Aron kecil kepada Aron

" Om Aron, perkenalkan nama ku Aron juga hehe, aneh ya Om. Umur ku 6 tahun, hari ini Aku masuk hari pertama Sekolah Dasar. Tadi Ibu Guru bertanya siapa yang berani bercerita ke depan kelas, bercerita apa saja. Terus, Aku tunjuk tangan. Aku cerita soal Ayah dan Bunda. Tadi pagi Bunda kelupaan bawain Aku topi, terus Bunda lari-lari ke rumah. Ternyata topi nya udah Bunda masukin ke tas ku Om, untung Bunda belum lari terlalu jauh heheeh. Aku dan Ayah ketawa sampai kita sampai di sekolah baru ku. Aku sayang Ayah dan Bunda pokoknya. Udah Bun," Aron kecil menengok ke Rindang, yang sekarang sesengukan, dengan tetes air mata di pipi nya.

" Bunda, kok nangis? Bunda kenapa? Malu ya gara-gara Aron ceritain yang tadi pagi?,"

" Bukan sayang, Bunda nangis bukan karena itu. " Rindang menyeka air matanya.

Aron kepada Rindang

Hey Rin, senang melihat mu kesini. Lebih senang lagi mengetahui kalau Kamu bahagia sekarang. Apalagi Kamu ajak Aron kecil mu juga. Rasanya seperti terlahir kembali melihat nya hahaha
Sebelum ini Aku selalu merasa bersalah, meninggalkan mu 'lagi'. Harusnya Aku bisa melihat mu menjadi wanita tercantik di hari bahagia mu. Duta tidak salah memilih istri dan ibu bagi anak nya.
Aku selalu menyesal...

Tapi sekarang, Aku sudah lega. Kamu datang dengan bagian dari dunia mu. Memperlihatkan kebahagiaan kalian dengan 'Aku' yang lain di dalam nya. Aku turut bahagia. Tolong katakan ke Si Kecil ini, dia harus lebih jahil dari ku hehehe

Tolong katakan juga pada Duta, terima kasih atas kebaikan, kelapangan, ketabahan hati nya, atas kebodohan ku meninggalkan perempuan yang paling kucinta setelah Ibu. Terima kasih sudah menjaga Rindang ku menjadi Rindang nya. Tolong jaga dunia kecil kalian yang indah ini. Buat Aku iri sekaligus bahagia melihat nya. 

Aku selalu tahu, Aku terus mencintai mu. Tahu atau tidak nya kamu, atau suami mu. Tuhan, sudah cukup. Kalau tidak berjodoh di dunia, barangkali di tempat lain. 

Rindang kepada Aron

Baik-baik Ron, Aku pamit pulang. Aku akan mampir ke toko kue untuk membeli beberapa dus kue untuk pengajian 7 tahun kepergian mu, di rumah ibu mu. Walaupun tadi siang Ibu dan Mbak mu sudah bilang kalau kue sudah cukup, Aku ingin Kamu lihat kalau Aku tidak pernah lupa kue kesukaan mu, Kue Lumpur.

Selesai.



Selasa, 14 Oktober 2014

Dialog Malam

Kepada Penciptaku
Di Singasana-Mu

Dear Tuhan,
Pagi tadi Aku berdoa supaya mataku tidak terlihat sembap atau bengkak.
Kacamata ku sudah agak jarang kupakai, kurang nyaman.
Sehingga tidak ada lagi yang bisa kupakai untuk menutupi mataku.

Pagi tadi Aku juga berdoa supaya presentasi kelompok ku berjalan baik.
Perihal apa yang kuceritakan pada-Mu bisa sirna sejenak.
Tapi tampaknya presentasi kelompok ku memang harus diperbaiki, terlepas dari
apa yang kuceritakan.

Dear Tuhan,
Semoga cerita-cerita malam ku tidak pernah mengganggu-Mu.
Tentu tidak bukan? Kau hadir 24 jam dalam seminggu 3665 hari dalam setahun.
Tanpa tidur, dengan Penglihatan, Pendengaran luar biasa.

Semoga Kau juga tidak lelah melihat ku menangis. Lagi.
Bukan, aku bukan tidak sanggup atau mengeluhkan apa yang Kau ujikan.
Aku yakin dengan kuasa-Mu, aku juga pasti sanggup melewati nya.
Bukan kah Kau tidak memberikan ujian yang tidak mungkin mampu dilewati
hamba-Mu?

Itu artinya aku pasti sanggup.

Tapi lagi, tidak sanggup aku lewati ini tanpa air mata dan kurasan emosi jiwa.
Jadi, kuceritakan saja semalam.

Melalui sabda-sabda indah mu.
Melalui gerakan-gerakan lemah ku.
Aku berserah, Tuhan.

Aku hampir tak sanggup. Sungguh.
Andai aku tak ingat apa yang sudah Kau berikan pada hambamu yang pengeluh ini.

Melalui lelehan air mata, curhat-curhat ku meluncur.
Cerita ku tentang 'hidup' yang Kau berikan, tentang rasa sabar.

Dear Tuhan,
Tidak ada lagi tempat ku curhat, bercerita hingga lelah mata ini menangis.
Salah ku kah, jika tiap kali Kau beri ujian,
Maka semakin besar benteng yang kubuat?

Aku tidak lagi percaya siapapun. Siapapun.
Aku tidak lagi bisa menerima siapapun.
Salahku kah, jika aku tidak lagi bisa percaya pada hambamu yang lain,
Yang justru berwajah topeng di depanku?
Salahku kah, jika kepercayaan yang kubangun kemudian diruntuhkan seketika,
Lalu aku tidak lagi mampu percaya?

Beritahu aku, kesabaran macam apa yang kubutuhkan?
Beritahu aku, pemakluman macam apa yang musti kulakukan?

Sedang orang-orang itu terus saja menghujat.
Orang-orang itu terus mengatakan aku buruk, lalu mereka apa?
Orang-orang itu terus mengatakan mereka paling benar.

Tuhan, aku lelah. Boleh kan bilang begitu?

Dear Tuhan, 
Aku terlalu banyak meminta.
Aku terlalu banyak mengeluh.
Aku terlalu keterlaluan.

Padahal sudah nampak, sudah Kau tunjukkan keadilan-Mu.
Padahal sudah Kau tunjukkan, Kau tidak pernah ingkar.

Kali ini bolehkan aku menangis lagi, berkata lelah lagi.
Karena nanti, aku pasti sadar sendiri aku tidak pernah sendiri 
menghadapi ini.
Selalu ada Kau. Selalu...

Selasa, 16 September 2014

Tuhan, maaf aku belum bisa...

Jakarta, 17 September 2014
Dinihari, tengah malam lewat 6 menit di tempatku menulis ini.

Ditempat-Mu melihatku

Tuhan, aku mau tanya; Kenapa sih hidup Pak Mario sepertinya bahagia sekali? Sampai-sampai dia bisa jadi motivator. Kenapa juga ada orang-orang yang pernah jadi motivator karena pengalaman hidupnya, kemudian dia berubah jadi orang yang perlu dimotivasi?

Itu namanya hidup ya? Baiklah.

Suatu kali, Pak Mario dan Bang Tere Liye update status di Page mereka masing-masing. Menggunakan bahasa yang berbeda; Pak Mario dengan gaya bahasa nya yang tenang, Bang Tere dengan gaya bahasanya yang frontal. Keduanya bermakna sama;

Memaafkan kesalahan orang lain, akan membuat hidup kita lebih bahagia. Acuhkan saja apa kata orang yang tidak suka dengan kita, jalani hidup kita dengan baik, itu lebih layak diperjuangkan.
(Saya yang menyimpulkan)

Aku agak tersinggung. Sudahkan mereka merasakan kondisi titik nol di hidup mereka? Seperti apa sih titik nol bagi Pak Mario? Kayak apa sih titik jatuh bagi Bang Tere?
Kenapa begitu mudah mereka menulis begitu?

Iya betul, memaafkan itu mudah. Melupakan yang sulit. Ada lagi yang bilang, " Memaafkan itu mengalah tanpa kalah."

Karena apa? Cuma orang yang punya kebesaran jiwa yang mau memaafkan orang lain. Berbesar hati mau memaklumi, bahwa setiap orang itu wajar melakukan kesalahan. Yang nggak wajar itu sudah diberitahu tapi nggak sadar.

Tuhan, aku sudah disakiti. Berkali-kali. Kau tahu sendiri.
Ada malam-malam yang kuisi hanya dengan airmata dan sengukan.
Ada malam-malam yang kuisi dengan membasahi sajadah dan mukena.
Ada...

Bahkan ada saat ketika aku hilang sabar dan akhirnya bilang, " Ya Allah, Rega nggak sanggup. Bapak, kenapa pergi cepet banget sih? Rega nggak sekuat itu Pak,".

Ada waktu ketika aku hilang iman, dan membuang apa yang tidak seharusnya kubuang. Lalu berharap menjadi rusak selayaknya manusia buangan.

Sampai rasanya malu. Malu untuk menemui-Mu. Karena terlalu lemah jiwa ku, juga fisik ku. Karena terlalu banyak yang aku keluhkan. Padahal, apa yang kurang dari karunia-Mu?

Tuhan, manusia satu ini memang layak dapat teguran. Tapi jangan kejam-kejam, aku takut nggak sanggup.

Berangkat dari situ, aku memutuskan berhenti jadi makhluk keras kepala, berhenti jadi manusia pendendam. Aku memaafkan partner ku. Memang bukan permintaan maaf secara langsung, tapi aku mulai berkomunikasi lagi selayaknya dulu. Kuanggap konflik kami selesai. Kemudian, aku akhirnya mengirim ucapan maaf untuk nya, dan dunianya.

Permulaan yang bagus dengan partner.
Batu ini mulai lunak, mulai terbentuk cekungan.
Tuhan, aku mau sholat taubah. Tapi aku tidak tahu 'cara' nya.
Cara memaafkan, yang betul-betul maaf. Tanpa perlu lagi kuingat perkaranya.
Sehingga kalau ada yang menyebut namanya, hati ku tidak lagi bergemuruh. Tangan ku tidak lagi terkepal, kesal.
Memaafkan mereka, tidak semudah memaafkan partner ku.

Memaafkan itu sulit Tuhan. Sungguh. Aku takut, sungguhan takut. Kalau nanti, aku melakukan sholat taubah, aku masih mengungkit perkara-perkara itu lagi. Aku masih mau memukuli wajah mereka, dan membiarkan mereka merasakan apa yang dulu pernah mereka lakukan pada anak perempuan yang baru saja ditinggal meninggal Bapaknya. Tidak kah mereka berpikir, aku baru saja berduka? Kenapa mereka begitu tega? Makanya kubilang sulit.

Ini hidup bukan? Baiklah. Tuhan, aku belum sanggup sholat taubah. Sejauh ini, anggaplah aku sudah memaafkan mereka. Tapi entah apa yang akan kulakukan kalau bertatap muka.

Tuhan, perempuan ini masih memendam luka.
Tuhan, perempuan ini masih berpura-pura dengan senyumannya.
Tuhan, maafkan kalau aku banyak meminta.
Tabahkan aku, lapangkan hati perempuan ini, aku tidak mau lagi jadi pendendam.
Aku lelah jadi gadis keras kepala, tapi apa daya toh aku juga manusia.

Tuhan, aku tidur ya.




Senin, 25 Agustus 2014

Hari Partner

Senin, 25 Agustus 2014. Setiap hari Senin, Taman Margasatwa Ragunan off, hari ini tidak boleh ada kunjungan. Jadi, bisa dibilang hari Senin adalah hari cuti bagi satwa-satwa penghuni TMR. Kebijakan ini disebut Hari Satwa.

Cuti seperti ini hanya berlaku bagi satwa, karyawan dan pkl tetap harus masuk. Ya kalo karyawannya cuti juga, satwa nya nggak makan dong? Dan menurut Saya, Hari Satwa adalah hari paling lama, mungkin karena terlihat sepi jadi terasa lama?

Jadilah hari ini Saya iseng jalan-jalan sendirian, setelah memberi makan tentunya.

Tujuan Hari Satwa ini memberikan privasi kepada satwa, supaya nggak stress karena terus-terusan di-'pajang'. Iya dipajang. Ada aja pengunjung aneh yang kalo liat satwa, ngomongnya aneh-aneh, macam:
" Yah kok tidur sih macannya?," Jelas lah, hari itu siang cerah. Lagipula itu harimau bukan macan -_-
Atau...
" Kembangin dong ekornya, " Lho, mereka kan binatang, ekornya akan dibuka nanti untuk menarik betinanya di musim kawin. Bukan untuk menarik perhatian anda -_-. Kau pikir mereka model?

Ngerti sih, maksudnya mungkin sebagian hanya gurauan tapi tetep aja bikin mikir, " apasih ni orang?".
Pengunjung kadang suka nggak terima dengan kelakuan satwa, lho -_-
Seolah merak jawa nya nggak boleh keserimpet ekornya.
Elang Laut nya nggak boleh keliatan loyo, harus tegap begitu terus. Gagah.

Tapi hari ini ada elang bondol yang nabrak kandang karena mau turun ke kolam. Dia pake acara mandi pula di kolam. Biasanya nggak.
Dua ekor merak jantan berebut perhatian seekor betina dikandang berbeda, mirip cinta segitiga.
Mereka menikmati hari ini, jadi diri mereka sebagai binatang bukan pajangan :)
Saya tergelak-gelak sendiri.

Kemudian ingat dia, partner saya. Yang kelakuannya aneh itu, iya yang aneh tapi kalau didepan orang sok cool itu.
Rasanya kadang timbul kasihan, hidupnya kaku amat -_-
Harus terlihat sempurna, atau memang dia yang mau dipandang sempurna? Ah sepertinya memang keduanya.

Memangnya nggak capek ya? Kamu pura-pura kan? Coba buka topengnya :)
No no, I'm fine. Buka aja. Kan yang boleh sempurna itu cuma Tuhan.
Memangnya kamu Tuhan? Hihihi, jangan merasa begitu. Nanti kamu capek sendiri.
Karena manusia itu hanya ciptaan, makanya nggak bisa sempurna.

Mungkin sebaiknya, kita adakan hari khusus seperti ini. Di hari seperti ini, kamu bisa melepas topeng seharian. Seharian loh :)
Kamu mau ngapain juga silahkan. Selama nggak merugikan orang lain.
Kamu nggak perlu takut kepladuk batu-jatuh-bedarah-darah.
Nggak perlu takut dipandang aneh. Karena sebetulnya setiap orang itu aneh.

Dan kamu nggak perlu bohong. Iya, bohong.
Entah kenapa partner mu ini sering merasa dibohongi.
Kalau partner sendiri saja tidak bisa kamu beri kejujuran, lantas yang mana yang kamu beri?
Kalau partner sendiri saja tidak bisa dipercaya, lantas percaya siapa?

Benar, keluarga. Betul sahabat. Tapi bukankah partner itu orang yang ada disamping mu ketika melakukan kesalahan dalam sebuah pekerjaan? Seorang partner tahu apa yang kurang baik sampai yang luar biasa dari pasangannya. Dan dia menerima nya, seperti yang sedang kulakukan.

Bagi partner mu ini, cukuplah menjadi kamu sendiri dihadapan partner mu.
Iya memang kamu lakukan, tapi...itu pun kamu lakukan setengah-setengah.
Hey, kita masih partner nggak sih? Kalau iya, jangan setengah-setengah.
Partner mu tidak butuh segala macam 'pajangan' yang melekat padamu.

Kita bikin Hari Partner saja, untuk Kamu,



Senin, 04 Agustus 2014

Mudik

Setiap setahun sekali Saya menghabiskan malam takbiran di tempat itu.
Kampung yang dihuni mayoritas muslim, di ujung jalan sana ada sebuah rumah.
Rumah khas jawa, tidak ada dinding batu bata, hanya ada kayu-kayu.
Tidak ada sekat kamar untuk tidur, hanya ada ruang tengah luas tempat karpet dan kasur digelar.
Di rumah ini, konon Ibu saya menghabiskan masa kecil nya, sebagai anak ragil.

Dulu, ada 6 orang lainnya yang menghuni rumah ini. 2 orang putra dan 4 orang putri, serta Ibu saya.
Sekarang hanya ada 2 orang renta yang tinggal disana.
Sepasang suami istri yang hanya mampu mengingat umurnya sudah lebih dari setengah abad, mungkin sudah seabad.

Tahun-tahun Lebaran yang Saya lalui dengan Mbak-Mas sepupu saya, dan adik-adik saya, bukan menikmati lengangnya Jakarta.
Kami disuguhi riuhnya rumah kayu itu dengan jumlah tamu yang datang.
Dua orang itu dianggap orang tertua yang harus dikunjungi setiap Lebaran.
Setiap hari Idul Fitri, rumah itu tidak pernah sepi.

Saya dan keluarga biasanya menjadi yang paling akhir kembali ke Jakarta.
Yang terakhir kali menikmati keadaan kampung itu setelah Lebaran, setelah ditinggal merantau lagi.
Yang tersisa hanya dua renta tadi. Beserta tetangga mereka, yang juga renta.
Mereka, renta, sendiri di rumah kayu.

Nantinya, tangan keriput itu akan kembali mengambil kayu bakar sendiri.
Kaki renta itu akan kembali menapaki jalan menuju langgar perlahan.
Rumah kayu itu kembali hanya akan sunyi.
Suara jangkrik di belakang rumah akan terdengar lebih nyaring.
Suara gesekan buluh bambu di samping rumah akan terdengar lebih mistis.

Sampai suatu kali, kembali Idul Fitri.
Rumah kayu itu kembali riuh, kembali berpenghuni.
Dua renta tadi, dan tetangga-tetangga mereka yang juga renta punya kawan lagi.